KKP Sita 20 Ekor Penyu Hijau – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

KKP Sita 20 Ekor Penyu Hijau

REPORTER: AKBAR WAHYUDI
EDITOR: RISKANDI NUR

BULUKUMBA, RS — Kementrian Kelauatan Perikanan (KKP) Republik Indonesia menyita 20 ekor penyu hijau di Pulau Liukang Loe, Desa Bira Kecamatan Bontobahari.
Selama tiga tahun penyu tersebut ditangkarkan oleh nelayan kemudian dijadikan objek wisata pada usaha resort di pulau berpasir putih tersebut. Pihak kementrian yang bekerjasama dengan balai pengelolaan sumber daya pesisir dan laut Makassar tersebut kemudian melepas penyu hijau ke habitatnya di perairan Liukang Loe.
Sebelumnya, penyu-penyu ini disita oleh pihak balai dan ditangan seorang pemilik resort di Pulau Liukang bernama Abdul Halim dan Salimuddin yang selama ini menangkarkan penyu-penyu ini dikolamnya untuk menarik wisatawan berkunjung ke tempatnya khususnya wisatawan mancanegara .
Abdul Halim sendiri mengaku, sudah menangkarkan penyu hijau ini selama dua tahun dengan jumlah 16 ekor. Sedangkan Salimuddin memiliki 4 ekor yang disimpan pada kolam tidak jauh dari usaha resortnya.
“Awalnya kami tidak tahu kalau itu adalah hewan yang dilindungi. Barulah medapat penjelasan dari pihak DKP Bulukumba, baru kami ketahui kalau penyu ini sangat dilindungi,” kata Abd Halim saat ditemui di Pulau Liukang, Jumat 16 Oktober.
Memiliki ukuran dan berat yang berpariasi. Untuk panjangnya mulai dari 70 cm hingga 1 meter, sedangkan beratnya 100 hingga 200 kg.
Agus Dermawan, selaku Direktur Konservasi Kawasan Dan Keanekaragaman Hayati Laut Kementrian Kelautan dan Perikanan mengungkapkan, saat ini kehidupan penyu hijau sendiri mulai terancam, sebab banyak pihak yang ingin mengambil keuntungan. Salah satunya dengan cara menangkarkan penyu laut untuk objek wisata. Ia menyebutkan, di dunia ini ada tujuh jenis penyu, enam diantaranya ada di Indonesia. Hanya saja, kata Agus, yang gampang ditemui saat ini tinggal empat jenis, yakni penyu Hijau, Belimbing, Sisik dan Lekang.
“Kami tidak akan segan menindak siapa saja yang mencoba untuk menangkap dan menangkarkan penyu dikarenakan penyu tersebut merupakan hewan langkah dan lindungi,” katanya.
Menurutnya, penyu sendiri saat ini sudah menurun hingga 50 persen dikarenakan populasi yang semakin menurun dan juga lingkungan sudah dirusak atau sudah berfungsi untuk kegiatan lain.
“Makanya kami melakukan konservasi pada beberapa tempat yang ada di Indonesia, sehingga bisa mempertahankan hewan yang sudah langka ini. Saat ini kami telah memiliki 16,5 juta hektare untuk konservasi hewan, diantaranya untuk penyu tersebut,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir Laut Makassar, Muh Yusuf mengatakan ini sebagai upaya untuk tetap melestarikan hewan yang sudah langka. “Kita bekerjasama dengan semua pihak untuk tetap mempertahankan, jenis-jenis hewan yang dilindungi itu,”jelasnya.
Terakhir, penyu tersebut dilepaskan ke laut tidak jauh dari rumah makan Hasar milik Abd Halim secara bersamaan. Penyu tersebut tidak asal dilepas namun dipasangi “taging” di bagian kakinya. Taging itu memiliki Nomor ID bahwa penyu tersebut dari Republik Indonesia. Kemudian, Abd Halim dan Salamuddin diberikan berupa cinderamata sebagai pelestari penyu oleh kementrian Kelautan perikanan Republik Indonesia. (**)
————-

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!