Sama-sama Lumpuh, Ibu dan Anak Berjuang Hidup di Kampung Nipa – Radar Selatan

Radar Selatan

Hot News

Sama-sama Lumpuh, Ibu dan Anak Berjuang Hidup di Kampung Nipa

Rumah Nyaris Roboh, Makan dan Minum Seadanya

Laporan: ANJAR S MASIGA

Menelusuri pemukiman padat di Kampung Nipa, Kelurahan Bentenge, Kecamatan Ujung Bulu, Kamis, 3 Desember untuk mencari alamat Tepu yang akrab disapa Emi (68) tidaklah mudah. Lelaki sepuh ini tinggal di lorong sempit. Gubuknya berada di belakang rumah warga sehingga nyaris tak terlihat. Posisinya tepat membelakangi kanal.

Meski kemarau, kolong rumahnya terlihat becek. Bau tak sedap menyengat menyambut siapa saja yang datang di gubuk reot itu. Tiang rumah tepu mungkin hanya setinggi setengah meter, tangganya beralas tanah liat yang telah mongering. Dari pintu tampak ibu Tepu, Jumanna yang hanya memakai sarung. Usianya sekitar 90 tahun. Seperti anaknya, ia pun hanya bisa terbaring di atas kasur yang beralas sarung tua yang lebih layak disebut lap.

“Waalaikum salam. Masukki, ibu. Jangan mi buka sendalta, kotor di sini,” ujar Tepu menjawab salam kami.

‘Tamu’ lainnya mengagetkan kami. Seekor ayam bangkok hitam bertengker di balok kamar yang telah kehilangan tripleksnya. Ayam Bangkok itu kemudian terbang ke jendela lalu pergi menjauh.

“Ayamnya orang itu, cari makan di sini. Tidak bisa maki usirki, pergi sendiriji biasa,” kata pria dari dalam dapurnya.

Kami jalan begitu berhati-hati karena kayu yang dialasi terpal tua sudah lapuk. Salah melangkah atau banyak goyang, bisa saja rubuh. Berjalan pelan saja rumah yang kira-kira berukuran lima kali enam meter seperti bergoyang. Hanya beberapa langkah sudah mencapai dapur yang juga merangkap ruang makan.
Ruangan ini juga berfungsi sebagai kamar tidur sekaligus toilet. Jauh dari kata bersih apalagi sehat. Sungguh tempat yang tak layak disebut rumah. Meski demikian hunian ini tak pernah tersentuh Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau dikenal dengan bedah rumah. Padahal dinding tersebut sudah menyerupai jendela.

Tepu sendiri, sudah terbaring tak berdaya sejak puluhan tahun lalu. Ia kemudian menceritakan bagaimana bertahan hidup dan menjalani kehidupan sehari-hari. Pria yang berusia 68 tahun ini mengalami lumpuh layu sejak ia berusia delapan tahun. Belasan tahun setelah sakit, ia masih bisa duduk tapi sejak puluhan tahun silam ia hanya bisa berbaring. Tepu yang tak pernah menikah tak lagi bisa menggerakkan kakinya yang semakin kurus dari waktu ke waktu. Tangan kanannya juga tak bisa diandalkan karena sudah tidak bisa membengkokkan persendian. Untung jari-jari tangan kanannya masih bisa bergerak sehingga ia sedikit terbantu.

Kekuatan ia pusatkan di tangan kanan yang kini jadi tumpuan harapan Tepu untuk bergerak dan melakukan aktivitas seperti memasak dan makan seadanya. Anak ke empat ini memikul tanggungjawab untuk mengurus ibunya yang juga lumpuh sejak delapan bulan lalu. Tepu bertugas memasak, mencuci dan membersihkan tempat tidur mereka. Semua dilakukan dalam kondisi serba terbatas.

Tepu memasak dengan kayu bakar. Kayu tersebut diberikan tetangga dan keluarga kerabat yang prihatin. Kadang juga dibawakan oleh saudaranya yang tinggal di kelurahan yang sama. Sayangnya kondisi keuangan yang juga tidak mendukung membuat saudaranya tidak bisa membantu banyak ibu dan saudaranya.

Kata Tepu, ibunya awalnya sehat-sehat saja dan menjadi tulang punggung keluarga. Namun ibu lima anak ini yang diperkirakan berusia 95 tahun ini jatuh dari motor dan akhirnya tidak bisa berjalan lagi.

“Tena mo kukulle i meso, ngilu injo buku-bukunku. La nipammaliangnga ile buku (Sudah tidak bisa ngesot. Tulang-tulangku terasa ngilu. Mau beli obat untuk tulang),” katanya.

Ayah Tepu meninggal 26 tahun lalu dan sejak saat itu tanggungjawab otomatis beralih pada sang ibu. Jumanna menghidupi keluarga di masa sehatnya dari hasil jerih payahnya menjadi tukang cuci. Untung sejak dulu, Tepu terlatih dalam masak-memasak meski hanya seadanya. Paling tidak mengurangi beban ibunya yang sibuk ke rumah tetangga untuk menawarkan jasa cucinya.

Sejak dulu, keluarga ini memang hanya mendapatkan bantuan raskin sebanyak 10 kg dengan tebusan Rp 16 ribu. Namun Bantuan Langsung Tunai (BLT) menurut pengakuan Tepu tidak pernah dinikmatinya hingga berubah menjadi Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) di era Susilo Bambang Yodoyono (SBY). Setelah berevolusi menjadi Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) di era Joko Widodo pun belum menyentuhnya. Sungguh miris kondisi sebenarnya, di mana di sisi lain saat penerimaan bantuan di Kantor Pos Cabang Bulukumba, Jl Kenari, pada Mei lalu sejumlah kendaraan motor terparkir dan ibu-ibu yang mengantre pun tampak lengkap dengan perhiasan di jari bahkan di pergelangan tangannya. Inilah ironi pendataan Rumah Tangga Sasaran (RTS) sungguh membingungkan masyarakat.

Kini selain berharap pada tetangga dan kerabatnya, Tepu dan Jumanna juga mengharapkan uluran tangan masyarakat untuk menyambung hidup. ***

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!