SMP Satap 12 Bulukumba di Perbatasan Bantaeng – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

SMP Satap 12 Bulukumba di Perbatasan Bantaeng

#Semangat Siswa dan Pengabdian Guru Honorer

Meskipun hanya memiliki 21 siswa namun daftar absensi pelajar setiap harinya menjadi bukti semangat anak-anak menuntut ilmu di perkampungan terpencil.

Laporan: Anjar Sumyana Masiga

SMP Satap 12 Bulukumba terletak di Lingkungan Na’na, Kelurahan Borong Rappoa, Kecamatan Kindang. Meskipun Borong Rappoa merupakan kota kecamatan di Kindang sebagian wilayahnya yakni Na’na termasuk perkampungan terpencil di wilayah selatan Bulukumba. Perkampungan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Bantaeng yang dipisahnyakan oleh aliran Sungai Bialo.
Dari kota Bulukumba ke pusat keramaian Borong Rappoa berdasarkan data peta berjarak 31,4 dapat ditempuh sekira 48 menit. Dari jalan beraspal ke sekolah berjarak 2,5 km. Perjalanan selanjutnya menuju Na’na cukup menantang karena perkampungan yang berada di kaki gunung itu hanya pengerasan yang sudah rusak sepanjang ratusan meter dan sebagian lagi masih jalan bebatuan.
Dari jalan utama perkampungan ini, puluhan meter dari lorong tampak SMP 12 Satap Bulukumba. Tidak ada penanda di jalan utama dan sekolah tidak nampak sehingga yang pertamakalinya mengunjungi sekolah ini bisa tersesat seperti saat penulis mengunjungi tempat ini pada Senin, 25 Januari.
Meskipun sekolah ini satu lokasi dengan SD 253 Na’na namun areal sekolah cukup sempit. Lapangan yang dipakai untuk upacara maupun olahraga memiliki luas kurang lebih 1/8 dari luas lapangan pemuda Bulukumba. Meski demikian, siswa SMP dan SD yang bermain bola volly tampak ceria menikmati permainan dan kebersamaan di antara mereka.
Salah seorang tenaga pengajar, Firmansya mengatakan dalam lingkungan sekolah, jumlah siswa sangat sedikit dalam satu kelasnya hanya beberapa siswa dan paling banyak belasan orang. Untuk pelajar SMP keseluruhan tercatat 21 orang dan SD 71 orang. Kebanyakan siswa SMP merupakan lulusan dari SD yang seatap dengan sekolah yang menerima siswa baru sejak 2010 lalu.
“Kalau murid SD sudah tidak ada maka tidak ada mi juga siswa SMP karena yang kami ajar semua dari lulusan dari SD disini ji,” ungkap honorer yang mengaku telah mengabdi selama lima tahun.
Mengajar dengan jumlah siswa yang sangat sedikit menurut pria berlesung pipi ini, merupakan tantangan tersendiri. Meskipun menghidupkan ruang kelas dengan jumlah siswa yang minim adalah tugas berat namun ia percaya diri telah melakukan upaya terbaik. Dalam proses belajar mengajar yang penting adalah kesungguhan dan dedikasi dari pendidik kepada peserta didik sehingga menumbuhkan gairah belajar dan semangat menggali ilmu tetap berkobar dijiwa para siswa.
“Kita lihat sendiri dalam satu kelas tadi hanya tujuh orang saja. Tapi kalau saya saja tidak semangat bagaimana dengan siswa saya. Paling penting adalah mereka menyadari ke sekolah untuk mencari ilmu,” ujar guru matematika itu.
Meski begitu mencintai lingkungan tempat mengajar, ia mengakui kehadiran dirinya di sekolah dalam sepekan hanya tiga sampai empat hari, kecuali agenda mendesak. Alasannya, pihak sekolah telah mengatur jadwal mengajar sembilan guru honorer dan dua PNS yang masing-masing kepala sekolah dan wakil kepala sekolah.
Tiap guru dengan mata pelajaran tertentu mengajar di hari yang sama dengan jam berbeda ditiap kelas. Ini dilakukan untuk mengefesienkan jadwal tenaga pendidik yang bermukim diluar perkampungan. “Seperti saya mengajar matematika hari ini disemua kelas, jadi hanya beda jam saja. Kita sudah atur jadwal dengan baik,” jelasnya.
Tantangan bagi seluruh pengajar menurutnya adalah medan yang sulit ditempuh. Meskipun jarak dari rumahnya ke tempat mengajar hanya berkisar lima km namun jalannya cukup terjal. Khususnya pada musim penghujan, beberapa pengendara bisa tergelincir karena jalan setap yang berlumut menjadi licin.
“Kalau tergelincir saya tidak tahu berapa kalimi yang jelas sering-sering kalau musim hujan. Tapi bagaimanapun kondisinya sebagai orang yang besar di sini saya tidak mau menyerah, kasian nanti anak-anak,” kata lulusan Unismuh tahun 2010.
Kepala Sekolah SMP Satap 12 Bulukumba, Arsyad saat pertamakali ditempatkan di sekolah tersebut sesuai SK 16 Juli 2014 syok melihat medan yang dilalui. Selain itu jarak tempuh dari tempat tinggalnya yang diperkirakan mencapai 60 km harus menghabiskan waktu berjam-jam. Karena alasan ini pun kehadirinya di sekolah tidak setiap hari.
“Kalau harus dibandingkan dengan kepala sekolah yang rumahnya hanya berjarak beberapa kilometer, tidak bisa dong. Saya saja yang pulang kalau jam segini (pukul 02.00 wita) bisa sampai menjelang magrib di rumah,” keluhnya.
Siswa di sekolah tersebut tinggal di perkampungan Na’na yang berjaran tidak jauh dari sekolah namun beberapa lainnya tinggal tidak jauh dari perbatasan yang jaraknya cukup jauh. Seperti Riskawati, agar tidak terlambat, ia harus berangkat begitu matahari beranjak dari peraduannya. Setiap hari ia melalui jalan bebatuan dengan berjalan kaki. Meski kadang merasa lelah, namun impiannya untuk menjadi guru menyemangati dirinya sehingga tidak pernah putus asa untuk ke sekolah.
“Kalau jam setengah enam (05.30 wita) ka berangkat itu sampai jam tujuh (07.30 wita). Kalau dari rumah cuma sendiri tapi kalau di jalan biasa ketemu mi sama teman-teman jadi sama-sama ke sekolah,” kata gadis kelahiran 4 Maret 2001 yang menyukai pelajaran Bahasa Indonesia.
Menurut warta getempat, sebelum pengerjaan jalan pengerasan pada tahun 2006, guru yang mengajar di SD 253 Na’na terpaksa berjalan kaki sepanjang 2,5 km dari jalan aspal di Kelurahan Borong Rappoa. (**)

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!