Sanksi Disiplin Menanti Polair Selayar – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

Sanksi Disiplin Menanti Polair Selayar

* Insiden Dugaan Pemerasan Nelayan

REPORTER: AKBAR WAHYUDI
EDITOR: RISKANDI NUR

BULUKUMBA, RADAR SELATAN — Kasus pemerasan terhadap nelayan asal Kabupaten Bulukumba yang diduga dilakukan pihak Kepolisian Perairan (Polair) Kabupaten Kepulauan Selayar menjadi perhatian khusus pimpinan Polres setempat.
Hal itu disampaikan Kapolres Kabupaten Kepulauan Selayar, AKBP Said Anna Fauza kepada RADAR SELATAN, Selasa 9 Februari. Said menyebut, pelaku pemerasan tengah didalami Profesi Pengamanan (Propam) Polres Selayar. Sebab kata dia, masih akan memanggil para saksi terkait.
“Tentunya, kasus ini masih dalam proses internal. Nantinya akan ada sanksi berupa disiplin. Dan sekarang pihak Propam masih melakukan pendalaman,” katanya.
Sanksi berupa disiplin, kata Said, bisa diterima oleh oknum yang di Polair jika memang terbukti. Secara pribadi kata dia, juga telah memanggil Kasat Polair Selayar AKP Tombong untuk mendengar langsung mengenai hal ini. “Pokonya ini diprioritaskan dan kami tegaskan dengan baik. Jika terbukti, maka akan dikenakan sanksi disiplin yakni akan lakukan penundaan pangkat atau demosi,” tegasnya.
Ia juga berharap agar para nelayan bisa melaporkan hal ini secara resmi kepada pihak Polres setempat. Sehingga dengan cepat dilakukan pemeriksaan. Sebab keterangan kedua belah pihak sangatlah dibutuhkan. “Jika sudah ada maka akan secepatnya akan diperiksa,” jelasnya.
Asal diketahui, nelayan menuntut oknum Polair Selayar pemerasan diproses sesuai prosuder. Karena sudah melanggar kode etik kepolisian. Ia seharusnya menjadi pengayom bagi warga. ” Dia harus diberikan disanksi. Tidak bisa dibiarkan. Ini sudah melanggar kode etik kepolisian,” ujar salah seorang pemilik kapal, H Kardi, di Bulukumba kemarin.
Menurut dia, awalnya petugas oknum Polair langsung mengambil dokumen kelengkapan kapal dan mengklaim sudah mati tanpa melakukan pemeriksaan secara baik. Bahkan, dia baru akan membebaskan jika anak buah kapal (ABK) brsedia membayar Rp500 ribu. Kalau tidak maka kapal ditarik masuk ke dermaga Kepulauan Selayar.
Padahal, semua dokumen kapal masih hidup dan bersyarat. Nelayan tidak mungkin beroperasi keluar mencari ikan kalau kelengkapan berkas tidak beres. “Iya, polisi sendiri bilang mati. Tapi, setelah diperiksa masih hidup. Ini hanya akal-akalan saja polair,” terangnya.
Kejadian ini, lanjut dia, bukan yang pertama kali terjadi berdasarkan pengakuan nelayan yang lainnya. Hanya, tidak berani membuka keluar dan baru sekarang menyampaikan kejadian dan perlakuan oknum Polair Selayar yang sesungguhnya. Dimana suka mempersulit nelayan dan meminta uang, meski dokumen sudah lengkap semua.
Bayangkan, nelayan kadang membayar hingga Rp2 juta lebih, sehingga berharap oknum Polair diproses dan diberi sanksi sesuai pelanggarannya. “Senter besar diambil, dan rokok diatas kapal. Mana lagi ABK digertak. Ini kan tidak bagus. Mereka tidak berhak mempersulit kalau sudah lengkap,” katanya.
Kasat Polair AKP Tombong mengaku telah bekerja sesuai prosedur selama beroperasi. Ia bahkan mengatakan, pihaknya dengan para nelayan sangatlah baik tanpa ada masalah.
“Sekali lagi tekankan bahwa kami tidak ada yang melakukan seperti itu. Hubungan kami dengan nelayan baik-baik saja, bakar-bakar ikan di kapal dan sebagainya,”singkatnya. (**)

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!