Aktivis Perempuan Tunggu Komitmen Partai – RADAR SELATAN

RADAR SELATAN

Politik

Aktivis Perempuan Tunggu Komitmen Partai

* Soal Pengganti Tomy di Pimpinan DPRD Bulukumba

BULUKUMBA, RADAR SELATAN — DPD Partai Demokrat Sulsel sampai saat ini belum mengeluarkan nama siapa yang diusulkan ke pusat menjadi Wakil Ketua DPRD Bulukumbba, pengganti Tomy Satria Yulianto yang terpilih sebagai Wakil Bupati Bulukumba. Padahal DPC Partai Demokrat Bulukumba sudah mengirimkan tiga nama ke DPD Demokrat Sulsel masing-masing; Andi Murniaty Makking, Usman Isdar, dan Andi Tenri Allang.
Dari tiga nama tersebut, nama Andi Murniaty Makking sering disebut karena Andi Murniaty merupakan kader tulen dan pengurus DPC Demokrat Bulukumba. Apalagi di Pileg 2014 lalu Murniaty merupakan legislator dengan perolehan suara terbanyak kedua setelah Tomy Satria. Andi Murniaty meraup suara 1.600 untuk dapil 3 (Kajang, Herlang dan Bontotiro).
Syamsul Rizal atau akrab disapa Deng Ical, sekretaris DPD Demokrat Sulsel mengakui sudah ada tiga nama yang diterima dari pengurus Demokrat Bulukumba. “Iya sudah ada nama-nama yang diusulkan, tapi belum ada keputusan siapa yang dikirim ke pusat,” ujar Deng Ical yang ditemui RADAR SELATAN, kemarin.
Sebelumnya Selle KS Dalle menyatakan komitmennya untuk memperjuangkan keterwakilan perempuan di posisi pimpinan DPRD Bulukumba. “Saya jelas sangat memperhatikan keterwakilan perempuan. Dari tiga nama yang dikirim ke wilayah, ada satu kader perempuan yang memang layak diperjuangkan. Apalagi jumlah suaranya sangat signifikan,” ujar Selle.
Pernyataan Selle KS Dalle ini sangat diapresiasi aktivis perempuan Sulsel. Presidium Nasional Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Rosniaty Azis yang dihubungi kemarin mengaku menunggu komitmen parpol untuk mendukung kader perempuan berada di posisi strategis.
“Tugas kita untuk mengawal ini dan kita tunggu saja bagaimana komitmen parpol akan keberpihakan mereka pada perempuan. Jangan sampai citra partai menjadi tercoreng karena ada kepentingan-kepentingan lain,” ujarnya.
Rosniaty juga mengingatkan ada banyak modus yang dilakukan untuk menjegal kader perempuan. Salah satunya adalah soal kapasitas. “Banyak sekali kasus dimana perempuan tidak dipilih karena dianggap tidak memiliki kapasitas. Sekarang saya ingin bertanya memangnya kader laki-laki punya kapasitas sebesar apa sampai mempertanyakan kapasitas seseorang,” tegasnya.
Menurut Rosniaty yang juga Koordinator Simpul Aspirasi Perempuan (SAP) Sulsel, sangat tidak fair membanding-bandingkan kapasitas antara laki-laki dan perempuan. “Semua punya kesempatan yang sama untuk maju dan berkembang,” terangnya. (***)

To Top