Dua Balita Meninggal Akibat Diare – RADAR SELATAN

RADAR SELATAN

Bulukumba

Dua Balita Meninggal Akibat Diare

BULUKUMBA, RADAR SELATAN — Terlambat mendapatkan perawatan medis, dua balita yang menderita diare meninggal dunia.
Pengelola Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan (Diskes) Bulukumba, Masriani mengatakan, pada kasus pertama yang terjadi di Desa Bontominasa. Balita tujuh bulan, Akifa Alkuraini yang tercatat sebagai warga Gowa ini meninggal pada 21 Februari pukul 05.30 wita.
“Dia ini warga Gowa kebetulan bersama orang tuanya datang ke Bulukumba karena acara pengantin tapi di mobil (17 Feruari) sudah muntah,” jelasnya.
Dari informasi surveilance, kata Masriani 18 Februari pagi lau, balita tersebut mencret sehingga dilarikan ke Pustu Lembanna. Karena tidak ada perubahan keluarga membawa pasien ke dokter praktek namun karena kondisinya tak kunjung membaik Akifa dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Andi Sultan Dg Raja Bulukumba pada 20 Februari.
“Besoknya itu meninggal ki karena kondisinya saat ditangani di rumah sakit sudah dehidrasi berat,” ujarnya.
Sedangkan pasien diare lainnya, yang meninggal, Asi, warga Desa Taccorong. Pasien yang berusia enam bulan itu dibawa ke fasilitas kesehatan setelah kondisinya dehidrasi berat. Meskipun telah dianjurkan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang intensif namun keluarga justru membawanya ke rumah.
“Kalau yang di Taccorong dianjurkan ke rumah sakit tapi ternyata orang tuanya tidak bawa jadi meninggal di rumah sorenya (22 Februari),” katanya.
Meskipun sudah dua korban diare, menurut Masriani kasus tersebut belum bisa dikatakan kasus luar biasa (KLB) karena dilingkungan sekitar tidak ada penambahan kasus. Untuk mengantisipasi, penularan, telah dilakukan penyuluhan dan anjuran kepada warga untuk mengikuti Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bulukumba, dr Amrullah mengatakan, ciri-ciri diare apabila buang air lebih dari tiga kali dalam waktu yang dekat dan konsisten yang encer. Diare dibagi menjadi dua jenis yakni disentri yang disertai dengan darah sedangkan muntaber disertai dengan muntah dan berak.
Penderita diare berdasarkan kondisinya, kata Amrullah ada yang masih bisa dirawat di rumah dan ada yang diharusnya ke fasilitas kesehatan. Seperti penderita yang masih bisa menerima asupan makanan yang cukup atau antara cairan yang keluar dan cairan yang masuk seimbang masih bisa di rawat di rumah.         Sedangkan yang kekurangan cairan dan tidak bisa lagi memperoleh asupan makanan sebaiknya dirawat di rumah sakit agar mendapatkan infus untuk memenuhi kebutuhan cairan.
“Bahaya diare berakibat syok atau dehidrasi, kalau tidak diangani dengan baik berakibat kematian. Karena itu penanganan utama pemberian asupan cairan diseimbangkan antara cairan yang keluar dan cairan yang masuk,” jelasnya.
Untuk mencegah terjadinya diare, Amrullah menyarankan untuk dilakukan prilaku PHBS. Menjaga sanitasi lingkungan, mencuci tangan sebelum makan. (jar/ris/B)

To Top