Kemiskinan di Bulukumba Capai 15 Persen – RADAR SELATAN

RADAR SELATAN

Bulukumba

Kemiskinan di Bulukumba Capai 15 Persen

REPORTER: ANJAR S MASIGA
EDITOR: RISKANDI NUR

BULUKUMBA, RADAR SELATAN — Jumlah kemiskinan di daerah yang berjuluk Bumi Panrita Lipo ini, dari data terakhir di Badan Pusat Statistik (BPS) Bulukumba mencapai 16.581 keluarga atau 15 persen dari jumlah 113.074 keluarga.
Dari data yang bersumber dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Bulukumba, prasejahtera di Gantarang mencapai 2.315 dari 21.063 keluarga dan Ujung Bulu 2.304 dari 10.871 keluarga.
Kemudian di Ujung Loe 2.775 dari 12.269 keluarga, Bontobahari 823 dari 7.198 keluarga, Bontotiro 672 dari 7.722 keluarga, Herlang 1.597 dari 6.481 keluarga, Kajang 1.855 dari 12.941 keluarga, Bulukumpa 2.216 dari 14.909 keluarga, Rilau Ale 1.038 dari 10.841 keluarga, Kindang 986 dari 8.779 keluarga.
“Untuk indikator keluarga prasejahtera maupun tingkatan kesejahteraan itu di BPPKB. Karena ini bersumber dari sana,” ujar Kepala BPS Bulukumba, Mattaliu, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa, 1 Maret.
Kata Mattaliu, berdasarkan pendataan pihaknya terkait kemiskinan hanya salah satu dari 14 indikator pendataan. Di antaranya juga termasuk kondisi rumah tangga, kesehatan, dan pendidikan. “Beberapa parameter pengeluaran rumah tangga terinci, mulai dari kondisi sampai pada keluhan. Dan semua anggota yang terkena sampel akan menjawab itu,” jelasnya.
Pendataan 2016 untuk terbitan 2017 mendatang dilakukan dua semester. Pada semester awal yang pelaksanaan lapangannya pada Maret mendatang, akan diambil sampel sebanyak 60 blok atau 600 rumah tangga. “Kalau semester II belum disapaikan tapi biasanya jumlahnya tidak berbeda dari pelaksanaan awal,” katanya.
Masih dari data yang sama, jumlah keluarga sejahtera tingkat I di Bulukumba mencapai 25.500 keluarga, tingkat II 49.026 keluarga, tingkat III 18.317 keluarga, dan tingkat III plus 3.650 keluarga.
Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Bulukumba, Fahidn HDK mengatakan, melihat geografis Bulukumba tidak seharusnya ada kemiskinan. Jika menggunakan konsep agraris, seluruh masyarakat akan sejahtera. Setiap pengguran memiliki potensi untuk menjadi petani yang produktif ataupun nelayan yang produktif.
“Sebenarnya masyarakat yang diangap miskin mereka hanya tidak memiliki ilmu pengetahuan, dan semangat, dan tidak tahu bagaimana memulai. Masalah itu ada pada mensetnya, pikirannya, kalau bukan PNS dianggap tidak sukses padahal bertani bukan pengguran kalau produktif,” ujarnya. (**)

Keluarga Prasejahtera di 10 Kecamatan

Gantarang 2.315
Ujung Bulu 2.304
Ujung Loe 2.775
Bontobahari 823
Bontotiro 672
Herlang 1.597
Kajang 1.855
Bulukumpa 2.216
Rilau Ale 1.038
Kindang 986

Sumber: BPS dan BPPKB

To Top