Gaji Dibawah UMP: Buruh PT Lonsum Tolak Sistem Borong – RADAR SELATAN

RADAR SELATAN

Bulukumba

Gaji Dibawah UMP: Buruh PT Lonsum Tolak Sistem Borong

MAY DAY. Demonstan dari FPR melakukan aksi unjuk rasa di Kantor Bupati Bulukumba, terkait may day atau hari buruh I Mei. Buruh menuntut untuk menaikkan upah buruh.

RADARSELATAN.CO.ID, BULUKUMBA — Ratusan Pekerja Harian Lepas (PLH) PT Lonsum, menolak sistem pengupahan borong diwacanakan perusahaan raksasa tersebut. Pasalnya, jika itu diterapkan para buruh akan menerima gaji dibawah Upah Minimum Provinsi (UMP).
Wakil Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) PT Lonsum Balang Bessi Estate, Kabupaten Bulukumba, Syukur mengungkapkan, sistem pengupahan borong terhadap buruh sangat memberatkan karena lokasi penyadapan yang sudah tidak produktif.
Setelah diuji coba selama tiga hari buruh hanya mendapatkan 15 kilogram karet basah dengan kata lain, hanya lima kilogram karet kering yang dihargai Rp6.500/kilogramnya.
“Bayangkan kalau sembilan jam kerja hanya dapat lima kilogram saja, berarti Rp6.500 dikalikan lima hanya Rp32,5 ribu perhari. Dikalikan 26 hari hanya Rp845 ribu saja perbulanya. Jauh dari UMP-lah,” Sesalnya, Senin, 2 Mei.
Syukur mewakili buruh PT Lonsum meminta pemerintah kabupaten (Pemkab) untuk memediasi dan membatalkan sistem yang sangat merugikan para buruh.
Wakil Bupati Bulukumba, Tomy Satria Yulianto kala menemui buruh siap menjalin komunikasi kepada pimpinan PT Lonsum agar membatalkan edaran yang dilakukan secara sepihak dan meminta dikembalikan ke sistem upah sebelumnya.
“Insya Allah paling lambat dua hari ke depan sudah ada hasilnya, mungkin hari Rabu mudah-mudahan ada jalan. Doakan saja,” ujarnya.
Humas PT Lonsum, Rusli membantah jika sistem tersebut sudah dijalankan. “Sistem itu masih wacana, belum diterapkan. Kita juga masih mengukur-ukur efektivitas sistem tersebut terhadap kesejahteraan pekerja,” ujarnya.
Terkait gaji di bawah UMP, ia mengakui ada pekerjanya yang mendapatkan gaji sebesar itu. “Kan sesuai apa yang mereka dapatkan. Tetapi rata-rata PHL mendapat Rp123 ribu/perhari,” bebernya. (**)

 

______________
REPORTER: AKBAR WAHYUDI
EDITOR: RISKANDI NUR

To Top