Forum Kepala Desa Masyarakat Adat* Mereka Ingin Simbol Gallarang itu Kembali – RADAR SELATAN

RADAR SELATAN

Bulukumba

Forum Kepala Desa Masyarakat Adat* Mereka Ingin Simbol Gallarang itu Kembali

DISKUSI. Para Kepala Desa yang juga merangkap sebagai pemangku Adat Kajang saat berdiskusi tentang tanah gallarang.

Mengembang amanah menjadi kepala desa bukanlah hal yang mudah. Menjadi seorang kepala desa berarti memikul dua tanggungjawab besar, tanggungjawab kepala desa secara administratif dan tanggungjawab sebagai pemangku adat (Galla’).

LAPORAN: MUH RIZAL

DESA di Kecamatan Kajang yang kepala desanya merangkap sebagai pemangku adat diantaranya yakni, Kepala Desa Lolisang, yang bergelar Anrong Guru, Kepala Desa Pantama bergelar Galla’ Pantama dan Kepala Desa Malleleng yang bergelar Galla’ Malleleng serta Kepala Desa Tanah Toa yang bergelar Galla’ Lombo’.
Tugas dan tanggungjawab secara administratif dan tanggungjawab menjaga adat menjadi beban besar yang harus ditanggung oleh kepala desa yang merangkap pemangku adat.         “Dalam tradisi pada Masyarakat Adat Kajang, ada yang dikenal dengan tanah Gallarrang. Tanah tersebut menjadi simbol sebuah kepemimpinan seorang Galla’ atau kepala desa yang merangkap sebagai pemangku adat,” kata Kepala Desa Possi Tanah, Kasmat.
Kepala Desa Lolisang Kecamatan Kajang yang bergelar Anrong Guru, Muhammad Amir mengungkapkan, sebagian besar Tanah Gallarrang itu sudah tidak lagi dikelola oleh para Galla’. Sebagian diantaranya sudah digadaikan dan semua itu harus dikembalikan seperti fungsinya sebagai simbol seorang pemangku adat.
Menurut dia, pengembalian Tanah Gallarrang itu harus dilakukan dengan melakukan pendekatan secara persuasif pada warga yang mengelola tanah itu. Selain itu, para pemangku adat di Kajang harus berembuk untuk mencari solusi supaya tanah itu bisa dikembalikan.
“Tanah gallarrang itu merupakan tanah giliran, siapa saja yang menjadi kepala desa yang merangkap pemangku adat maka dia berhak mengelola tanah tersebut, sedikitnya luas tanah gallarrang tiap galla itu sekitar 3 hektare,” kata dia.
Galla’ Malleleng yang merupakan Kepala Desa Malleleng, Jamaluddin Tambi mengatakan, pihaknya juga menginginkan tanah itu dikembalikan. “Ini juga harus ada campurtangan Pemkab supaya membantu menyelesaikan permasalahan tanah yang sudah digadaikan itu,” kata dia. (**)

Reporter : Muh Rizal

Editor : Riskandi Nur

To Top