Bulukumba Menuju “Zero” Kematian Ibu Melahirkan – RADAR SELATAN

RADAR SELATAN

Bulukumba

Bulukumba Menuju “Zero” Kematian Ibu Melahirkan

ILUSTRASI (int)]

* Kasus Menurun, Pemkab Siap Lanjutkan Program Emas

RADAR SELATAN.CO.ID BULUKUMBA, — United States Agency for International Development (USAID) gelar pencanangan keberlanjutan gerakan penyelamatan ibu bersalin dan bayi baru lahir di Bulukumba melalui pendampingan Program Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS) yang diserahkan pada Pemkab Bulukumba, pada Kamis, 23 Juni di Ruang Pola Kantor Daerah.

Sulsel menjadi salah satu provinsi penyumbang tertinggi angka kematian ibu di Indonesia. Namun berkat kerjasama antara Program EMAS dan Dinas Kesehatan Bulukumba serta RSUD Andi Sulthan Dg Radja, ada penurunan jumlah kasus kematian ibu dan bayi baru lahir yang cukup signifikan di Bulukumba. Dari data Dinas Kesehatan Bulukumba, jumlah kematian ibu menurun dari 11 kasus kematian ibu pada 2014 lalu jadi 7 kasus di 2015. Sedangkan jumlah kasus kematian bayi baru lahir 2014 sebanyak 52 kasus turun di 2015 menjadi 28 kasus.

“Dengan capaian seperti itu, tidak mustahil Bulukumba dapat mencapai “zero” kematian khususnya kematian ibu karena melahirkan,” ujar Andi Sukri, dalam kesempatana udiensi dengan SKPD terkait dan tim EMAS Sul Sel.

Bupati menegaskan, pihaknya akan melanjutkan program EMAS dengan maksimal didukun dengan anggaran. Tentu dengan kerjasama antar mentor yang sudah dilatih dengan berbagai pihak terkait, sehingga dengan tekad yang kuat Bulukumba bisa mewujudkan kematian Ibu Bersalin dan Bayi Baru Lahir menjadi nol kematian pada tahun kedepannya. Tahun ini sampai Juni, yang kasus kematian ibu bersalin yang dilaporkan sudah dua.

“Harapan kami angka ini menjadi total kematian tahun ini. Jangan ada lagi kasus kematian,” katanya.

Setelah program pendampingan EMAS selesai, pemerintah mendorong pihak pokja melalui Bappeda, Dinas Kesehatan, Rumah Sakit dan SKPD terkait lainnya agar melanjutkan program ini yang dibiayai melalui APBD Bulukumba setiap tahunnya. Memastikan masuk ke dalam anggaran 2017. Dalam upaya mempertahankan capaian, Sukri siap untuk menyinambung kantong katestafet penyelamatan ibu melahirkan dan bayi baru lahir melalui rencana tindak lanjut (RTL) yang didukung sepenuhnya oleh kelompok kerja Penurunan AKI dan AKN dan SKPD terkait beserta organisasi masyarakat sipil yang ada di Bulukumba yang tergabung dalam FORMAP-KIA (Forum Masyarakat Peduli Kesehatan Ibu dan Anak) ini tertuang dalam rencana tindak lanjut yang telah disepakati bersama Bupati.

Program yang bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI sebagai upaya penurunan angka kematian ibu (AKI) dan bayi baru lahir (AKB) di Indonesia, ini dianggap berhasil di Butta Panrita Lopi. Dari 300 puskesmas dan 150 rumah sakit di 30 kapubaten/kota di 6 provinsi se nasional, penerapan EMAS di Bulukumba dilaksanakan dengan pendampingan penuh di 10 Puskesmas (PKM) dan 1 rumah sakit (RS).

“Meski demikian ada 10 PKM lainnya di Bulukumba juga turut didampingi secara terbatas dengan dukungan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bulukumba. Jadi total 20 PKM yang sudah terpapar oleh pendekatan EMAS,” ujar leader (plt) Program USAID-EMAS Sulawesi Selatan, Nurdin Perdana.

Nurdin menjelaskan upaya penyelamatan yang dilakukan ada dua hal sebelum pasien atau ibu yang akan melahirkan dirujuk. Pertama dari dari sarana kesehatan tingkat dasar menelpon atau memberi informasi sehingga rumah sakit yang akan dituju sudah mempersiapkan sebelum pasien tiba. Kedua, pasien distabilkan terlebih dahulu agar tidak meninggal di jalan.

Selama 2,5 tahun masa pendampingan EMAS, kata Nurdin, Bulukumba telah mencapai semua standar kinerja klinis dan rujukan yang signifikan baik di Puskesmas maupun di Rumah Sakit. Salah satu yang mendukung suksesnya penanganan kegawatdaruratan di Bulukumba adalah standar klinik pada 10 Puskesmas telah mencapai rata-rata di atas 80 persen. Padahal sebelum pendampingan kurang dari 10 persen.

Begitupun pada Standar Rujukan, puskesmas dan rumah sakit telah mencapai rata-rata 80 persen. Penggunaan sistem jejaring rujukan maternal dan neonatal (SIJARIEMAS) dengan menggunakan SMS dan telepon (call center). Sistem yang diinisiasi oleh program EMAS sejak tahun 2014, telah menghubungkan 520 tenaga kesehatan yang ada di Bulukumba.

“Dalam kurun waktu Januari sampai Mei 2016 saja sebanyak 659 kasus gawat darurat ibu bersalin di rumah sakit dan 728 di 10 PKM Full Support, serta ada 74 Rujukan bayi baru lahir di rumah sakit yang tercatat di Buku Register,” ungkapnya.

Menurut Chief of Party Program EMAS/USAID, Nancy Caiola, prestasi Bulukumba dalam sektor kesehatan, mampu mengalokasikan anggaran kesehatannya di atas 14 persen dari APBD. Dengan membangun fasilitas kesehatan standar di seluruh PKM. Khususnya pada peningkatan standar ruang bersalin, nifas, dan kelengkapan berbagai troli emergensi, alkes dan obat-obatan lainnya.

Kini RSUD Andi Sulthan Dg Radja sudah naik standarnya menjadi RS tipe B. Yakni mampu memberikan pelayanan kedokteran medik spesialis luas dan subspesialis terbatas. “Semoga Pemerintah Daerah Kabupaten Bulukumba terus berkomitmen untuk melanjutkan dan mereplikasi sehingga layanan dari semua fasilitas kesehatan yang ada dapat sesuai standar demi penyelamatan Ibu Bersalin dan Bayi Baru Lahir di daerah ini,” harapnya.

Pada kegiatan ini, dilakukan simulasi konseling ANC, oleh PKM Tanah Toa. Serta simulasi penanganan drill emergensi oleh PKM Bonto Bangun. Sebelum penutupan kegiatan, Bupati Bulukumba, Andi Sukri Sappewali mengeluarkan surat keputusan (SK) untuk 36 mentor yang bertugas mendampingi fasilitas kesehatan lain di luar dampingan EMAS dengan cara replikasi dan perluasan program.

Ditetapkan pula 129 orang Motivator Kesehatan Ibu dan Anak (MKIA) dari berbagai desa yang bertugas mengedukasi ibu hamil di desanya atau di lingkungannya. Untuk keberlanjutan pembinaan kedepan, 36 Mentor beserta seluruh pengurus kelompok kerja penurunan AKI dan AKN siap untuk memberi dukungan dan perhatian bagi penyelamatan ibu dan bayi baru lahir di daerah ini.

Anjar Sumyana Masiga-Akbar Wahyudi
———-

To Top