Memprihatinkan, Rumah Asriani Hanya Berdinding Terpal – RADAR SELATAN

RADAR SELATAN

Bulukumba

Memprihatinkan, Rumah Asriani Hanya Berdinding Terpal

GUBUK. Asriani, warga Jl. Nenas yang tinggal di gubuk berdinding bambu dan tenda perlu perhatian pemerintah

Mengunjungi rumah Asriani di Jl. Nenas, Kelurahan Loka, sebuah gubuk berdinding tenda yang di bangun sudah setahun lebih. Rumah yang dihuni empat orang ini diperkirakan berukuran 5X6 meter.

Sore kemarin, wanita 33 tahun ini menunjukkan rumahnya yang dibangun seadanya tepat di belakang Masjid Agung Bulukumba. Perempuan yang hamil delapan bulan ini tinggal di rumah berlantai tanah. Sebagian dindingnya hanya dari bambu yang dibuat layaknya pagar, begitu banyak celah.
Sebagian dindingnya lagi merupakan tembok pagar tetangga dan juga dari seng bekas serta kain yang di bentang.

Dari cerita ibu satu anak ini, hampir semua pembangunan rumahnya merupakan pemberian dari dermawan. Hanya beberapa kayu untuk papan dan juga benteng yang dibeli dari uang tabungan. Selain itu, beberapa lembar seng juga dihutang dari kenalan yang merupakan pemilik usaha toko bangunan.
“Saya tidak tahu berapa utangnya. Bapak yang berurusan kalau itu,” ujarnya.

Suaminya, Hasri yang pekerja serabutan, sering menjadi buruh bangunan. Bambu dari sisa-sisa pekerjaan biasanya diberikan kepadanya, begitupun dengan tripleks.

“Kalau dinding ini dari proyek ji biasanya. Suami bawa pulang bambu baru dibelah-belah. Di luar masih ada yang belum sempat dibelah-belah,” katanya sambil menunjuk beberapa bambu yang masih utuh.

Untuk penerangan, keluarga ini pun menumpang dari tetangga yang dermawan. Hanya dua bohlam yang dipakai. Satu untuk di atas dan satunya lagi untuk di bawah. Selain itu tidak ada perabotan yang menggunakan listrik.

“Listriknya sejak saya mau pindah. Ini tetangga sebelah yang kasih, kadang juga kita mau bayar tapi tidak mau, jadi kami sangat berhutang,” ujarnya.

Dalam rumahnya hanya ada satu ranjang dengan kasur yang tak empuk. Sejumlah perabotnya kurang layak. Beberapa kursi plastik dan sebuah kompor gas. Karena tidak memiliki lemari yang cukup, pakaiannya hanya tersusun rapi di dalam kardus. Dan sebuah toilet darurat untuk buang air kecil dan juga mencuci perabotan. Ini dibuat dari sisa campuran tukang yang tengah membuat pondasi di samping rumahnya.

Saat musim hujan, ia mengaku kerepotan karena air merembes masuk. Agar perabotan tidak rusak, seperti lemari dan meja dilapisi batu. “Di sini lembab terus karena masih tanah. Kalau hujan air masuk, jadi di kasih batu di bawah lemari sama meja,” katanya.

Meskipun dalam kesulitan ekonomi, Asriani merasa beruntung dikelilingi orang-orang yang baik dan penuh perhatian terhadap keluarganya. Seperti tanah yang dibeli untuk bangunan rumahnya. Karena tidak memiliki tabungan banyak, ia hanya membayar semampunya setiap bulan, dan ini dimaklumi pemiliknya. Sedangkan keperluan air, sejak hamil besar ia dibantu oleh panitia masjid. Meskipun tidak terang-terangan, karena khawatir ada yang keberatan.

Sebelum rumahnya dibangun, dalam kurun waktu empat bulan, keluarganya tinggal di tenda di lokasi yang sama. Hanya pelita yang menjadi cahaya malam. Selama itu ia dihantui kekhawatiran, ia bisa kebasahan di musim hujan dan kepanasan di musim kemarau. “Saya bilang sama bapaknya usahakan saja seadanya, kasian anak kita yang mesti tinggal di tenda,” keluhnya.

Sebagai pekerja serabutan, baik pekerjaan maupun penghasilan tidak menentu. Beruntung pria yang menikahinya 2006 lalu termasuk rajin. Dikala tak ada pekerjaan, ia membantu orang tuanya menjual keripik di Pasar Sentral Bulukumba. “Kalau jual keripik kan untungnya hanya berapa, tapi bersyukur maki ka kalau pulang beli sayur mi,” ungkapnya.

Selain bersama sang buah hati yang masih 8 tahun, ia tinggal bersama keponakan yang juga tidak memiliki pekerjaan menentu.

Kesulitan Asriani maupun warga kurang mampu lainnya yang berada di lingkungan sama, tidak adanya toilet umum. Untuk BAB, mereka sering di parit yang lokasinya tak jauh dari pemukiman. “Kita BAB di sana ji, hampir semua orang yang tidak punya WC BAB di sana ji juga. Itu mi saya susah kalau mau ke sana kabesar mi perutku tapi mau mi diapa tidak ada WC,” keluhnya.

Dari perkiraan bidan, katanya dia akan melahirkan 6 Agustus. Beruntung dia tercover dalam Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan. Hanya saja untuk bantuan lainnya ia tidak dapat, seperti raskin yang diterima per bulan. Atau bantuan bedah rumah dan lainnya.

Anjar Sumyana Masiga
———————————-

To Top