Duh, Warga Bulukumba Jadi Korban Penyanderaan – RADAR SELATAN

RADAR SELATAN

Bulukumba

Duh, Warga Bulukumba Jadi Korban Penyanderaan

ilustrasi (int)

RADAR SELATAN.CO.ID BULUKUMBA — Salah seorang WNI yang juga kapten kapal penangkap udang diduga menjadi korban penculikan kelompok bersenjata ketika berada di wilayah perairan Kinabatangan Sabah, Malaysia, 3 Agustus 2016.

Seperti diberitakan RRI, WNI tersebut bernama Herman Bin Manggak (30) tahun, warga Bulukumba, Sulsel. Selain Herman, terdapat dua Anak Buah Kapal (ABK) masing-masing Aryanto Basrun (22) WNI dan Muhamadin Ratin (26) warga Malaysia, namun kedua ABK ini dibebaskan. 

Namun informasi berkembang, Herman Bin Manggak diketahui berasal dari Pulau Liukang Lohe, Kecamatan Bontobahari. Itu terungkap saat Kepala Desa Bira, Andi Wahidah mengkonfirmasi langsung ke pihak keluarga Herman. 

“Ternyata memang benar warga Liukang Lohe setelah Kepala Desa Bira Andi Wahidah menemui keluarga Herman,” kata Camat Bontobahari, Abbas Mustari, Selasa, 9 Agustus 2016. 

Herman Manggak diketahui sebagai tulang punggung keluarganya setelah ayahnya Manggak meninggal dunia 20 tahun lalu. Herman bertanggung jawab menghidupi ibunya Tattu dan seorang adiknya Hestina. “Katanya sudah 6 bulan merantau di Malaysia,” tutur Abbas. 

Konsulat Jenderal Republik Indonesia Pelaksana Fungsi Penerangan Sosial Budaya di Kota Kinabalu Malaysia, Andhika Bambang Supeno menerangkan, penculik meminta tebusan RM10,000. 

Andhika mengatakan pihaknya bersama dengan Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) dan KBRI Kuala Lumpur telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, baik ABK, pemilik kapal, termasuk otoritas Filipina.

“Menuntutnya kan 10.000 Ringgit waktu itu. Karena nggak dikasi jadi diculik. Sampai sekarang tidak ada kontak. Artinya siapa kelompok bersenjata ini? Belum jelas. Nanti kalau mereka menuntut tebusan, baru kita tau, dari kelompok mana dan di mana,” jelas Andika kepada RRI.

Kasubag Pemberitaan dan Kerjasama Pers Setdakab, Amran Syaukani mengaku jika pihaknya sudah menelusuri warganya yang diduga menjadi korban penculikan dan penyanderaan oleh kelompok tertentu di perairan Kinabatangan, Sabah, Malaysia.

“Kita baru tahu infonya Senin, 8 Agustus 2016. Kami sudah menurunkan tim mencari tahu,” kata Amran Syaukani

 

Akbar Wahyudi

To Top