MUI Telusuri Aliran Taj Khalwatiyah Syekh Yusuf – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

MUI Telusuri Aliran Taj Khalwatiyah Syekh Yusuf

REPORTER: NINDAR ROSMAWAN
EDITOR: HASWANDI ASHARI

BULUKUMBA, RADAR SELATAN — Masyarakat Dusun Tamapalalo, Desa Tamatto, Kecamatan Ujung Loe menilai ada kejanggalan di wilayah tempat tinggalnya. Sekelompok manusia yang menganut aliran Taj Khalwatiyah Syekh Yusuf muncul dan dianggap melenceng dari ajaran agama Islam.

Karena muncul keresahan, wargapun mengadu ke pemerintah setempat. Laporan itu langsung ditanggapi Arsul Sani selaku kepala desa setempat.

Majelis Ulama Indonesia (MUI), Polres, Kodim, Kementerian Agama (Kemenag) Bulukumba bahkan sudah melakukan rapat koordinasi untuk menindak lanjuti laporan itu.

Rapat tersebut juga dihadiri perwakilan dari Taj Khalwatiyah Syekh Yusuf.

“Waktu kami rapat, kami meminta masyarakat untuk tetap tenang, jangan sampai ada konflik, terkait ajarannya kami akan kaji untuk mengetahui ada tidaknya ajaran yang menyimpang,” kata Ketua MUI Bulukumba, H. Cjamiruddin, Kamis, 25 Agustus 2016.

Sebagai bahan kajian, dia menyebutkan, telah mengambil buku-buku yang dijadikan pedoman aliran tersebut serta meminta pendapat masyarakat hal-hal yang dianggap menyimpang. Dari hasil kajian tersebut barulah pihaknya mengeluarkan fatwa.

“Kalau muncul aliran seperti ini, kami tidak bisa langsung memvonis semua ada mekanismenya, karena di dalam MUI ada sepuluh kriteria yang dianggap sesat,” tandasnya.

Jika memang ditemukan faham yang menyimpang, lanjut H. Cjamiruddin, selaku induk organisasi keagaamaan, pihaknya juga mengajak anggota aliran tersebut lebih mengenali syariat Islam dengan cara yang bijaksana.

Kepala Desa Tamatto, Muhammad Arsul Sani menjelaskan bahwa aliran tersebut sudah ada sejak 2015 lalu, bahkan telah banyak program yang berhasil dijalankannya namun tidak diinformasikan ke pemerintah setempat.

Dia mengaku, selama belum ada hasil kajian dari MUI, maka aliran tersebut dilarang membuat kegiatan apapun. Bukan dilarang membuat aliran tetapi dikhwatirkan menyesatkan masyarakat.

“Ini hari (Kamis, red), sebetulnya ada lagi kegiatannya karena sudah menyebar undangan, hanya saja berkat laporan dari masyarakat maka kami langsung adakan rapat,” kata Arsul.

Dia mengaku, ada kurang lebih sepuluh warga yang terlibat menganut aliran tersebut. Sebagian berasal dari luar desa seperti Desa Batang, Desa Tugondeng dan di luar kabupaten seperti Bone.

“Ada informasi bahwa akan membangun masjid tetapi itu semua dihentikan sambil menunggu fatwa dari MUI,” bebernya. (*)
—————————————-

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!