Eahhh, Adnan IYL dan Andi Maddusila Saling Lapor – Radar Selatan

Radar Selatan

Hot News

Eahhh, Adnan IYL dan Andi Maddusila Saling Lapor

RADAR SELATAN.CO.ID GOWA — Insiden saling serang pada ritual pencucian benda-benda pusaka Kerajaan Gowa (Accera’ Kalompoang) di museum Balla Lompoa, berujung pada aksi saling lapor antara kedua kubu.

 

Dikutip beritakotamakassar.fajar.co.id, (FAJAR GRUP). Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa di bawah kendali Adnan Purichta Ichsan Yasin Limpo telah melayangkan laporan ke Polda Sulsel atas hilangnya sejumlah permata pada mahkota Salokoa. Sebaliknya, Andi Maddusila A Idjo melaporkan kasus penyerangan yang menyasar pada kelompoknya saat menggelar ritul keliling Balla Lompa, Minggu (11/9) lalu.


Maddusila yang dikonfirmasi, Selasa (13/9) membantah jika dirinya pernah dimintai kunci brankas oleh pihak Pemkab Gowa. “Mereka tahu yang pegang kunci adalah saya. Tapi kenapa mintanya ke Andi Ma’mun Bau Tayang sebagai pemangku adat Salokoa?” cetus Maddusila.


Maddusila berang karena tradisi ritual Accera’ Kalompoang yang sudah menjadi tradisi leluhurnya turun temurun diwarnai aksi penyerangan. “Kalau alasan mau mengecek sebenarnya tidak usah, apalagi sampai merusak paksa. Sebab bulan lalu pihak Polda sudah melakukan pengecekan itu dan hasilnya tetap tidak berubah. Jadi kami akan melaporkan perihal pengrusakan brankas benda pusaka milik leluhur kami ke Polda,” terang Maddusila.


Jika dikatakan ada permata yang hilang, Maddusila membenarkannya. Namun, kata dia, itu sudah sejak lama terjadi. Yakni pada saat diserahkan pertama kali oleh Belanda kepada Karaeng I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang Raja Gowa ke-34 pada tahun 1938 silam. Karena waktu itu mahkota sempat diambil oleh Belanda.


Maddusila dengan tegas menyampaikan, pihak keluarga Kerajaan Gowa tidak menerima hal-hal yang dilakukan oleh Pemkab Gowa. Antara lain pengrusakan brankas tempat penyimpanan mahkota Salokoa serta benda pusaka lainnya.
Sementara terkait insiden yang terjadi saat kegiatan Accera’ Kalompoang dilaksanakan usai salat Idul Adha, Bupati Gowa, Adnan Purichtaterkesan mengabaikannya. Buktinya, di saat perang batu dan mercon terjadi di luar museum, prosesi ritual pencucian benda kerajaan tetap saja berjalan.


Adnan tidak menanggapi serius soal insiden yang terjadi di Museum Istana Balla Lompoa tersebut. Bahkan saat ditanya soal ramainya letusan petasan atau mercon ketika dirinya memberikan sambutan pada acara tersebut, Adnan malah merasa bahwa itu hanyalah sisa-sisa petasan saat malam takbiran sebelumnya.


“Saya tidak tahu kalau ada kerusuhan. Saya melakukan ritual di atas istana dengan khidmat. Soal letusan mercon itu, mungkin karena momennya sekarang Idul Adha. Tentulah banyak mercon-mercon. Jadi itu mungkin hanya sisa-sisanya yang tadi malam yang baru dibakar saat acara ritual di istana, ” kata Adnan.


Meski dikomentarinya sedikit guyon, namun putra Ichsan YL yang dikenal tegas inipun mengatakan, kasus tersebut tetap diserahkan langsung kepada pihak berwajib.

 


“Kita serahkan sepenuhnya kepada yang berwajib. Tentu yang jadi korban akan melapor secara resmi ke pihak kepolisian untuk penegakan hukuman,” ujar Adnan.


Ia berharap agar kubu keturunan Raja Gowa ke-37, Andi Maddusila dapat menjaga Balla Lompoa. “Jangan melempari museum Balla Lompoa dengan batu dan petasan yang justru bisa merusak benda sejarah di dalamnya,” jelasnya.


Ia menambahkan, dengan terbentuknya Perda LAD No 5 tahun 2016, maka budaya di Kabupaten Gowa dapat dilestarikan. “Tidak ada kepentingan pribadi di dalamnya. Apalagi untuk mengacaukan sejarah di Kabupaten Gowa. Semuanya hanya untuk penataan dan pelestarian saja,” tandas Bupati Gowa ini.
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo mengimbau pihak-pihak yang bertikai di Kabupaten Gowa untuk bisa mengendalikan diri agar kisruh tidak semakin melebar.


Ditemui di Kantor Gubernur Sulsel, Selasa (13/9), Syahrul percaya jika kedua belah pihak yang bertikai sebenarnya punya itikad baik. Yakni untuk menyelamatkan kebesaran kerajaan Gowa. ”Kita berharap semua bisa mengendalikan diri,” ujarnya.
Dia melanjutkan, semua langkah yang ditempuh harus dikembalikan pada aturan adat, hukum, agama, dan budaya. “Kalau niat semuanya baik, pasti akan selesai dengan baik,” jelasnya.


Namun, dia tidak mau berkomentar terlalu jauh lagi terkait persoalan tersebut. Syahrul menilai, kisruh yang terjadi disana masih bisa diselesaikan dalam skala daerah. Gubernur tidak perlu turun tangan.


“Saya sebagai orang lapangan, melihat peristiwa yang terjadi masih dalam kendali biasa-biasa saja,” tegasnya.
Syahrul berharap konflik di Gowa tidak melebar dan tidak disusupi oleh kepentingan-kepentingan, terutama yang berhubungan dengan politik. (int)

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!