Kisah Pilu Bocah Penderita Lumpuh Layu di Jeneponto – Radar Selatan

Radar Selatan

Hot News

Kisah Pilu Bocah Penderita Lumpuh Layu di Jeneponto

TETAP SEMANGAT. Meski hanya bisa terbaring di tempat tidur, Rangga tetap semangat menjalani hidupnya. Bahkan bocan berusia 14 tahun ini bercita-cita ingin menjadi pemain sepak bola profesional.

Laporan: Dedi, Jeneponto

TINGGAL di rumah panggung sederhana, seorang bocah berusia 14 tahun hanyahanya bisa terbaring lemas di tempat tidurnya. Dia adalah Rangga, seorang bocah yang menderita lumpuh layu asal Kelurahan Bontotanga, Kecamatan Tamalatea, Jeneponto. 

DENGAN mengenakan sepasang kaos sepak bola berwarna merah, Rangga tanpa ragu mengumbar senyum kepada wartawan. Putra pasangan Zulkifli dan Ida ini memiliki kelainan fisik, tidak seperti anak sebanyaya. Tubuhnya kurus kering dan tak mampu menggerakkan seluruh bagian tubuhnya.

Meski begitu, Rangga masih tetap memiliki semangat hidup yang tinggi seperti orang normal lainnya. Sejak kecil, ia telah bercita-cita ingin menjadi pemain sepak bola profesional seperti idolanya, Crhistian Gonsales, (pemain timnas Indonesia). Namun melihat keterbatasan fisiknya, rasanya itu mustahil terwujud. Namun motaviasinya sungguh luar biasa.

”Mau sekalika sekolah pak, mauka jalan, mauka main bola seperti idolaku Crhistian Gonsales,” ucap sang bocah malang ini dengan mata berkaca.

Ida, ibu kandung Rangga mengaku hingga kini tidak mengetahui secara pasti jenis penyakit yang menimpa putra kesayangannya itu. Pekerjaan sang ayah sebagai peternak ayam dengan penghasilan yang pas-pasan tidak mampu menutupi biaya perawatan sang anak. 

“Tidak dibawa ke rumah sakit karena tidak ada biaya pak,” kata Ida dengan nada terbata.

Ida menceritakan, saat lahir anak ke-4 dari 7 bersaudara itu lahir normal dengan bobot 2,5 kilogram di Puskesmas Mamajang, Makassar. Dengan alasan tak memiliki biaya, Ranggapun hanya sekali mendapatkan imunisasi. Perubahan fisik mulai terlihat saat Rangga menginjak usia 1 tahun. Beberapa bagian tubuhnya seperti tangan dan kaki tak mampu digerakkan. 

Seiring berjalannya waktu, kelainan fisik tersebut semakin parah. Kaki dan tangan Rangga tak berkembang baik layaknya anak normal lainnya. Tangan dan kakinya mengecil dan tak mampu digerakkan. Lagi-lagi karena alasan biaya, pengobatan alternatif melalui dukun menjadi pilihan.

“Mau diapa kodong pak, tidak ada uang untuk beli obat atau bayar dokter. Jadi berobat dukungji,” ungkap Ida.

Di usianya yang sudah menginjak remaja, Ida berharap masih ada harapan bagi Rangga untuk sembuh dan terlepas dari penyakit yang mengerogoti tubuh mungilnya itu. Dia pun berharap ada perhatian dari pemerintah ataupun pihak lain untuk membantu pengobatan sang putra.

“Pemerintahmami ini kodong pak bisa bantuka untuk obati anakku kodong. Mudah-mudahan masih bisaji diobati dan sembuh seperti anak-anak yang lain,” ucapnya diiringai deraian air mata. (*)

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!