Terlambat Mendapatkan Pelayanan Kesehatan, Bocak SD Meregang Nyawa – RADAR SELATAN

RADAR SELATAN

Hot News

Terlambat Mendapatkan Pelayanan Kesehatan, Bocak SD Meregang Nyawa

* RSUD Diduga Hanya Mengejar Jasa

BULUKUMBA,RADAR SELATAN.CO.ID — Orang tua Aulia (7) tahun,Rosdiana bocah Sekolah Dasar Negeri (SDN) Balangliri, Desa Bonto Minasa menyalahkan manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sulthan Dg Radja karena terlambat memberikan pelayan kepada anaknya yang akhirnya meninggal dunia di Rumah Sakit Bunda Makassar. RSUD diduga hanya mengejar insentif dari pelayanan tanpa melihat keluhan yang harus diutamakan.

Aulia yang menjadi korban tabrakan sepeda motor Di Desa Bonto Minasa pada Kamis, 22 September kemarin, dilarikan ke Puskesmas Tanete, Bulukumpa karena patah tulang disekujur tubuh dan bocor pada kepala, namun Puskesmas merujuk ke RSUD karena tidak memiliki alat medis untuk mendiagnosa pasien yang saat itu pingsan. 

” Gampangmi urus masalah tulang tangan dan kaki yang patah, cuma saya khawatirkan kalau ada bagian kepala atau dalam tubuh yang berisiko makanya harus dicari tahu dulu,” ujar Rosdiana Menirukan ucapan dokter Puskesmas Bulukumpa.

Sesampainya di RSUD, bukannya memberikan perawatan kepada kepala yang terus mengeluarkan darah, Pihak RSUD mengoperasi kaki dan tangan yang patah. Seharusnya, menurut Rosdiana, Pihak RSUD tidak hanya mengejar dana jasa saja tanpa memperdulikan keselamatan pasien, karena sudah kewajiban pelayanan kesehatan untuk mengutamakan keselamatan dari pada honor semata. Contohnya dr Bedah RSUD, Halis yang langsung mengoperasi kaki dan tangan. 

” maunyaji dapat insentif, jadi cepat dia operasi kaki dengan tangan padahal kepalanya yang parah, bahkan pasien dibiarkan menginap semalam di RSUD, seharusnya cepat dirujuk karena tidak lengkapji juga alatnya, baru beberapa kali dikasi masuk djarum infus, benkok-benkok semua, ini tanda tidak profesionalnya pelayanan kesehatan RSUD,” sesalnya.

Parahnya lagi, pihak RSUD yang tidak memiliki alat kesehatan yang lengkap, tidak langsung merujuk ke rumah sakit Makassar, dan membiarkan pasien untuk menginap selama sehari semalam dan membuat kondisi pasien semakin parah. Dia mengaku seandainya tidak ada sistem rujukan dia tidak menginginkan anaknya mendapatkan perawatan di RSUD yang sudah terkenal bobrok pelayananya dan hanya mengejar uang.

Direktur RSUD Sulthan Dg Radja Bulukumba, dr. Wahyuni, menolak menjawab pertanyaan dari penulis, dengan alasan sedang melaksanakan rapat.

Dia mengaku jika mengeluhkan pelayana RSUD untuk langsung melapirkan dipusat layanan saja, agar secepatnya di perbaiki.

” Melapor saja ke unit aduang nanti kita konfirmasi,” singkatnya.(awa)

To Top