Peringati 1 Muharram, LMP Bulukumba Gelar Wisata Religi – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

Peringati 1 Muharram, LMP Bulukumba Gelar Wisata Religi

BULUKUMBA, RADAR SELATAN.CO.ID — Ratusan  Anggota Laskar Merah Putih Kabupaten Bulukumba dan Provinsi Sulawesi Selatan , mengelar wisata religius di Makam Haji Andi Sultan Daeng Radja di Kelurahan Matekko Kecamatan Gantarang dan Makam Datu Ri Tiro di Kelurahan Ekatiro Kecamatan Bontotiro Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan.

Wisata Religius di Gelar di dua tempat ini bertepatan dengan 1 muharram 2016 sebagai bentuk penghargaan  Laskar Merah Putih terhadap dua tokoh nasional di Sulawesi Selatan.

Sekretaris Markas Cabang Laskar Merah Putih  Kabupaten Bulukumba,Eka Satria Irawan,mengatakan  Haji Andi Sultan Daeng Radja ,lahir di Matekko, Gantarang, Bulukumba, 20 Mei 1894 , meninggal di Rumah Sakit Pelamonia Makassar, Sulawesi Selatan, 17 Mei 1963 dengan umur 68 tahun, Haji Andi Sultan Daeng Radja adalah seorang tokoh kemerdekaan Indonesia dan pahlawan nasional dari Sulawesi Selatan.”Beliau adalah tokoh nasional yang harus kita ketahui, menjadi kebanggan kita karena merupakan tokoh asal Bulukumba,”katanya.

Menurut Eka Satria Irawan, Haji Andi Sultan adalah putra pertama pasangan Passari Petta Tanra Karaeng Gantarang dan Andi Ninong, Semasa muda, Sultan Daeng Radja dikenal taat beribadah dan aktif dalam kegiatan Muhamamadiyah dan merupakan pendiri Masjid Tua di Ponre yang pada jamannya terbesar di Sulawesi Selatan.”bangsa yang besar adalah mereka yang menghargai pendahulunya,”tambahnya.

Selain itu, anggota Laskar Merah Putih Kabupaten Bulukumba dan Sulawesi Selatan meninggalkan Makam Haji Andi Sultan Daeng Radja setelah mengelar doa bersama. Selanjutnya bergeser ke Makam Datuk ri Tiro anggota Laskar Merah Putih juga mengelar doa bersama yang di pimpin oleh ustad  Muhammad Sudirman.

Menurut sejarah Datu Ri Tiro yang bernama asli Nurdin Ariyani atau Abdul Jawad dengan gelar Khatib Bungsu adalah seorang ulama dari Koto Tangah, Minangkabau yang menyebarkan agama Islam ke kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan serta Kerajaan Bima di Nusa Tenggara sejak kedatangannya pada penghujung abad ke-16 hingga akhir hayatnya. Dia bersama dua orang saudaranya yang juga ulama, yaitu Datuk Patimang yang bernama asli Datuk Sulaiman dan bergelar Khatib Sulu

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!