Tata Kembali Ceria di Shelter Warga – Radar Selatan

Radar Selatan

Hiburan

Tata Kembali Ceria di Shelter Warga

SIMULASI. Sejumlah warga di Kota Makassar mengikuti sosialisasi dan simulasi Shelter Warga di salah satu hotel di Makassar, belum lama ini

*Cerita Pilu Balita Korban Kekerasan

Sore itu di Bulan Oktober 2016 cuaca sangat bersahabat. Hangat. Seperti binar mata Tata (3) balita yang kini ditampung di Shelter Warga Kecamatan Manggala, Kota Makassar. Sekilas, tak ada yang aneh dari diri Tata. Tubuhnya yang kecil riang melompat kesana kemari. Setiap yang datang disapa dengan sopan “Halo kaka….” . Tata sungguh ceria. Meski begitu di balik bola matanya yang bening, ada luka menganga akibat siksa sang ayah.

Laporan: Sunarti Sain

Tata sebut saja namanya begitu. Kulitnya putih tapi penuh bekas sundulan rokok, luka memar, dan melepuh. Hampir di seluruh bagian tubuhnya dari kaki hingga kepala ada tanda-tanda kekerasan.
Rambut Tata yang panjang kini dicukur habis. Supaya bekas luka cepat mengering. Beberapa bulan lalu Tata dibawa warga ke rumah Andi Yudha Yunus, seorang warga Manggala yang menjadikan rumahnya sebagai shelter warga. Kondisi Tata saat dievakuasi dari rumahnya sangat memprihatinkan dan bikin hati teriris. Tidak ada binar mata kanak-kanak. Yang ada tangis pilu mengerang kesakitan.
Tubuhnya yang kecil makin ringkih di dalam gendongan seorang petugas dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Makassar.
Tata mengalami tindak kekerasan di dalam rumahnya sendiri. Ironisnya, pelaku adalah bapak angkat Tata, seorang polisi yang bertugas di wilayah Makassar.
“Kami dapat informasi dari tetangga pelaku. Mereka juga tidak berani bertindak sendiri. Makanya koordinator Shelter Warga yang ada di kecamatan itu bergerak untuk mengevakuasi si anak,” ujar Kepala BPPPA Kota Makassar, Andi Tenri Palallo.
Apa yang dialami Tata, juga dialami banyak anak-anak lain di kota besar seperti Makassar. Persoalan kekerasan dengan berbagai macam bentuknya baik kekerasan fisik, phisis, seksual sampai trafficking menjadi ancaman anak-anak kita.
Dari data yang dikumpulkan di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) sampai bulan September 2016 sudah lebih 105 kasus kekerasan anak yang dilaporkan.
“Setiap bulan selalu ada kasus kekerasan anak yang masuk. Bahkan dalam 1 bulan ada sampai 27 kasus,” ujar Naris, salah satu anggota P2TP2A yang setiap hari menerima pengaduan dari masyarakat. Artinya hampir setiap hari ada kasus kekerasan anak yang terjadi di kota ini.
Jenis kekerasan yang terjadi menurut Naris, paling dominan masih kasus kekerasan fisik anak, kemudian menyusul kekerasan seksual anak, penelantaran anak, kekerasan psikis anak, dan trafficking anak.
Tingginya kasus kekerasan anak di Kota Makassar membuat BPPPA terus melakukan inovasi. Salah satunya dengan membentuk Shelter Warga di setiap kecamatan yang ada di Kota Makassar.
“Sejak disosialiasikan beberapa bulan terakhir, Shelter Warga sangat efektif dan berperan besar dalam penanganan awal kasus kekerasan baik perempuan maupun anak,” jelas Andi Tenri yang menginisiasi pembentukan shelter warga sampai di tingkat RT/RW. Shelter Warga merupakan rumah aman bagi korban kekerasan perempuan dan anak yang tidak dibiayai pemerintah melainkan kesukarelaan warga dalam berperan aktif mencegah dan menolong korban-korban kekerasan.
“Saya sangat terharu ketika menyampaikan gagasan tentang shelter warga, banyak ibu-ibu yang mengangkat tangannya, bersedia menjadikan rumah pribadinya sebagai shelter warga,” urai Tenri, mantan jurnalis di salah satu suratkabar terbesar di Makassar.
Saat ini, shelter warga sudah ada di delapan kecamatan yang ada di Makassar. Setiap kecamatan ada 3-4 rumah warga yang dijadikan shelter. ***

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!