Sarapan Bersama Dahlan Iskan Bersama Direktur Radar Selatan – Radar Selatan

Radar Selatan

Hiburan

Sarapan Bersama Dahlan Iskan Bersama Direktur Radar Selatan

NGOBROL. Direktur/Pimpred Harian Radar Selatan, Sunarti Sain (ujung kanan), saat ngobrol santai dengan Dahlan Iskan.

* Menu Nusantara di Tengah Obrolan tentang Indonesia

Sehari setelah keluar dari rutan Medaeng, Sidoarjo Jawa Timur, penulis berkesempatan mengunjungi Dahlan Iskan, di kediamannya di Surabaya. Bertemu langsung dengan bos Jawa Pos Group dan mantan Menteri BUMN itu menjadi sesuatu yang penting. Bagi kami, para jurnalis di Fajar Group, Dahlan Iskan bukan sekadar Pak Bos dan Tuan Guru. Dahkan Iskan adalah bapak kami, abah bagi anak-anaknya yang tersebar di seantero negeri.

Laporan : Sunarti Sain

Kabar mengenai status tahanan kota Dahlan Iskan tersebar Senin malam, 31 Oktober. “Alhamdulillah Pak Dahlan sudah bisa pulang ke rumah. Statusnya tahanan kota dengan penjamin keluarga. Mohon doanya.”
Semua yang mengenal Dahlan Iskan (DI) merapalkan syukur tak henti-henti mendengar perkembangan kasus tersebut. Sejak ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi penjualan aset PT Panca Wira Usaha, begitu banyak simpati mengalir untuk Dahlan Iskan. Semua yakin dan percaya seorang DI tidak melakukan hal-hal yang disangkakan kepadanya.
Keyakinan itu pula yang membawa penulis ke kediaman Dahlan Iskan di Sakura Regency, Surabaya. Kami datang bertiga dari Makassar. Termasuk Tenri A. Palallo (jurnalis Fajar tahun 80-an) dan Rosnah Sulaeman (jurnalis Fajar tahun 90-an).
Membawa sekantong Barongko, kue tradisional Bugis Makassar yang sangat disukai Dahlan Iskan, perjalanan silaturahim ini makin penuh makna.
Pukul 07.00 WIB, Rabu 2 November kami sudah ada di gerbang rumah Dahlan Iskan. Dua orang satpam menyambut dengan ramah. Di depan pagar ada serombongan wartawan TV sedang mengatur kamera. Kami diminta masuk oleh satpam dan langsung menuju ruang tengah di mana Dahlan Iskan dan istrinya, Nafsiah sudah menunggu.
Layaknya anak bertemu dengan bapaknya, kami berhamburan dalam pelukan Dahlan Iskan. Tidak ada kata-kata selain air mata yang tumpah tak terbendung. Dahlan Iskan memeluk dan menepuk pundak kami satu-satu. “Terima kasih sudah datang jauh-jauh. Saya bahagia sekali,” katanya sambil menyeka matanya yang basah.
Istri Dahlan Iskan, Nafsiah juga tak bisa menahan tangis. Berusaha tegar, mantan guru itu langsung berceloteh menyuruh kami duduk dan sarapan. “Kalian bawa barongko ya. Aku hangatkan dulu ya biar bisa makan bareng abah.”
Di meja panjang ruang tengah sudah terhidang berbagai masakan rumahan untuk sarapan. Dahlan menyebutnya menu nusantara. Nasi putih yang masih mengepul dan aneka lauk. Dari ikan kering, ikan mujair, sampai ayam tangkap dari Aceh. “Ini ikan sejenis teri. Kalo ayam ini dari Aceh, namanya ayam tangkap. Ayoo makan. Sambil kita ngobrol di belakang,” ujar Dahlan Iskan menunjuk taman belakang yang dipenuhi bunga-bunga dan kolam ikan koi.
Selain kami bertiga, pagi itu ada kerabat Dahlan Iskan yang juga berkunjung. Umi, mantan Sekretaris Redaksi Jawa Pos dan suaminya mantan wartawan Olahraga Harian Kompas.
Jadilah obrolan pagi itu semakin hangat. Dahlan Iskan bercerita soal kesehatannya, rutinitasnya tiap pagi berolahraga, memberi makan ikan-ikan Koi yang beraneka warna, dan tetap saja membangun mimpi-mimpi untuk Indonesia. Tentang teknologi membran yang bisa digunakan petani garam agar bisa panen meski di musim hujan, sampai soal pohon kaliandra yang menjadi bahan baku energi terbarukan yang digagasnya sejak beberapa tahun silam.
Sungguh, seperti tak ada beban dan masalah dalam kehidupannya. Seperti juga saat Dahlan menceritakan bagaimana memimpin PLN yang beromzet 300 triliun per tahun. “Ibaratnya saya ini hidup bergelimang oli, tapi saya tidak tertarik sedikitpun. Tidak tergoda,” katanya terkekeh. Dahlan memang bukan pejabat biasa. Sejak di MPR ia tidak pernah mengambil gajinya. Sebagai pemilik hampir 200 media di Indonesia, gaji sebagai CEO sangat cukup untuk kehidupannya sehari-hari.
Hidupnya benar-benar untuk mengabdi. Untuk Indonesia.
Sejujurnya kami sangat mengkhawatirkan kondisi beliau. Kesehatannya, statusnya yang masih tersangka dan tahanan kota, proses hukum yang bakal dijalani, dsb.
Tapi pagi itu, seperti biasa, Dahlan tak sedikitpun memperlihatkan kesedihan atau kecemasan. Wajah teduhnya tetap sama. Dipenuhi senyum dan aura positif. Sesekali matanya memerah menahan tangis setiap kali mendengar cerita tentang dukungan dari mana-mana yang mengalir untuknya. Ditariknya senyum sambil mengerjapkan mata. “Terima kasih. Mohon tetap berdoa

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!