Tiga Aktivis di Bantaeng Ditahan – Radar Selatan

Radar Selatan

Bantaeng

Tiga Aktivis di Bantaeng Ditahan

BANTAENG, RADAR SELATAN.CO.ID  — Aksi 121 terkait penolakan kenaikan BBM dan TDL (Tarif Dasar Listrik)
yang digelar di Kabupaten Bantaeng berujung bentrok dengan pihak kepolisian. Bahkan tiga massa aksi masing-masing Irham atau Bondang (Ketua PMII Cabang Bantaeng), Aldi (FPM Sulsel) dan Ansar (FPR Bantaeng) yang berlangsung di depan gedung DPRD Bantaeng, Kamis, 12 Januari 2017 ditahan.
Aktivis yang ikut dalam aksi tersebut, Ahmad mengatakan, massa aksi ada 20 orang masing-masing dari PMII, FPM Sulsel yang tergabung dalam FPR Bantaeng bergerak di depan kantor DPRD Bantaeng sekira pukul 09.45 wita dan melakukan orasi terkait kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah yakni menaikkan harga BBM dan TDL dianggap tidak pro rakyat. Aksi ini dikawal ketat oleh anggota kepolisian Polres Bantaeng yang tiba di lokasi sekira pukul 10.00 wita. “Setengah jam kemudian tiba kapolres Bantaeng (AKBP Adip Rojikan, red), wakapolres Bantaeng (Kompol Suprianto), meminta massa aksi untuk masuk kedalam areal gedung DPRD, tapi kami menolak karena sudah menyampaikan ke pihak anggota DPRD untuk menemui massa aksi di luar gedung DPRD,” jelasnya
Menurut Ahmad, saat itu koordinator aksi, Aldi melakukan negosiasi dengan pihak kepolisian dan menyerahkan megaphone kepada massa lainnya (Bondan) untuk melanjutkan orasi. Wakapolres meminta massa aksi yang berada di bagian jalan raya untuk lebih menepi, merasa tidak mengganggu pengguna jalan lainnya dan tidak menyebabkan kemacetan, massa aksipun menolak. Hingga pukul 11.00 negosiasi masih berlangsung antara kedua pihak, tiba-tiba Bondan yang berada di sisi kanannya tersungkur karena kepalanya dipukul oleh oknum anggota polisi.
“Bondan yang berbalik dan dengan refleks mengayunkan megaphone yang ada di tangannya dan mengenai wajah anggota polisi yang mengakibatkan luka berdarah. Kembali anggota polisi tersebut memukul Bondan, yang kemudian disusul dengan pengeroyokan terhadap Bondan oleh sekitar tujuh orang anggota polisi, tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap Bondan berupa memukul, menendang, dan menginjak korban Bondan,” beber Ahmad.
“Aldi yang saat itu berada sekira dua meter dari Bondan juga ikut menerima tindakan kekerasan dari aparat kepolisian, dia ditendang pada bagian belakang,” lanjut Ahmad.
Kedua korban ini, kemudian diamankan ke mobil patroli polisi dan dibawa ke kantor Polres Bantaeng. Selang beberapa menit, massa aksi tiba-tiba kembali ditangkap oleh anggota polisi dan menerima tindakan kekerasan yakni pukulan dan tendangan bertubi-tubi serta di injak-injak oleh anggota polisi yang mengenakan sepatu laras, lalu amankan ke mobil pickup milik polisi dan selanjutnya dibawa ke kantor Polres Bantaeng.
Kapolres Bantaeng, AKBP Adip Rojikan membantah adanya pembubaran paksa melainkan penertiban mengingat massa aksi menggunakan badan jalan sehingga mengganggu penggunaan jalan lainnya. “Mereka memakan bahu jalan sehingga menyebabkan kemacetan lalulintas, kondisiya itu harus ditertibkan, setelah itu kita mengatur pertemuan dengan pihak berkaitan,” ujarnya.
Begitupun dengan bentrok dan kekerasan terhadap aktifis juga dibantah kapolres. “Pemukulan siapa?, tidak ada bentrok, kalau bentrok mereka berapa orang dan polisi berapa banyak, untuk pembelajaran saja kalau menyampaikan pendapat tidak usah mengganggu penggunaan jalan yang lain,” katanya.

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!