Hj. Nuraidah, Perempuan Tangguh Bercita-cita Majukan Daerah – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

Hj. Nuraidah, Perempuan Tangguh Bercita-cita Majukan Daerah

Lahir sebagai anak tertua dari empat bersaudara, Hj. Nuraidah menjadi sosok panutan bagi empat adiknya. Berjenis kelamin perempuan tidak harus menjadi lemah namun harus memiliki nilai juang untuk mengambil bagian untuk memajukan Bulukumba.

Lahir di lingkungan yang religius, di Ponre to Gambang, Kelurahan Kalumeme 12 April 1972, Nuraidah kecil menjadi sosok sosialis dan beragama. Orang tuanya, H. Muhadi bersama ibunya Hj. Becce Baru, yang bekerja sebagai pengusaha ikan sering mengajarkan dia untuk berlaku adil dan jujur pada semua orang. Karena mereka meyakini dengan jujur akan membawa berkah pada usahanya.

Jiwa sosial dan jujur itulah yang terus tertanam pada diri Nuraidah, dan menjadi siswa yang digemari di SD 26 Matekko tempatnya menuntut ilmu. Dia tidak memilih teman untuk bergaul. Karena menurutnya banyak teman makin baik.

Setamatnya di SD, Nuraidah kemudian memilih Pondok pesantren Babul khaer sebagai labuannya menuntut ilmu, dia tidak ingin ketinggalan ilmu Agama, yang menjadi dotrin orang tuanya sejak kecil.

“Kalau pesantren ada ilmu umumnya, ada juga Agamanya, makanya saya pilih pesantren,” jelas Nuraidah.

Hal ini pulalah yang membuat mental dan sifat mandirinya semakin kuat. Selama di Pondok pesantren, Nuraidah aktif dalam organisasi ekstra, salah satunya pramuka wira karya yang menjadikan dirinya disiplin dan jiwa sosial sesama manusia semakin besar.

Selama 3 tahun menempuh pendidikan Madrasah Tsanawiyah, dia kembali melanjutkan kejejang Aliyah di sekolah yang sama yakni Ponpes Babul Khaer untuk mempermantap ilmu keagamaanya. Selain itu pesantren yang dibekali dengan bahasa Arab dan Ingris mempermantab tekadnya untuk tetap tinggal di pesantren.

Jiwa sosial yang tinggi untuk membantu masyarakat, mendorong dirinya untuk mendaftar di Fakultas Kedokteran Unhas, namun sayangnya dia terlambat, karena pendaftaran saat itu yang tertutup sehingga dia gagal untuk menjadi dokter. Namun keinginannya untuk menempuh pendidikan Starata 1 (S1) untuk membanggakan orang tuanya sangat besar sehingga dia kembali mendaftar di UMI, hanya saja dia memilih Jurusan Pendidikan Agama sebagai tempat mengabdikan diri jika kelak menjadi guru.

Namun takdir berkata lain, setahun menempuh ilmu di UMI, 1993 dia dipertemukan dengan lelaki pujaan hatinya, Upa Suparya mahasiswa Fakultas Ekonomi juga kuliah di UMI merupakan anak dari sahabat ayahnya dan menyatukan dirinya sebagai pasangan suami isteri.

“Saya dijodohkan, sama orang tua, terpaksa kuliah saya harus berakhir, kalau rejeki pasti ada, kalau kami berusaha,” ujarnya.

Sebagai pasangan muda saat itu, Nuraidah bersama Upa Suparya kemudian meninggalkan kota Makassar, dan menyatukan visi menjadi pengusaha di kota Bumi Panrita lopi, dengan memulai bisnis LPG (gas) di jalan A.P Pettarani yang merupakan lahan warisan yang diberikan ayahnya H. Muhadi sebagai modal usaha keduanya.

Seiring berjalanya bisnis LPG, Nuraidah bersama Upa suaminya kemudian melebarkan sayap usahanya dengan menjadi agen minyak tanah dan oli dan membeli 2 buah kapal nelayan pencari ikan untuk disewakan, alhasil membawa mereka menjadi pengusaha sukses.

“Nanti pada periode awal pak A. Sukri 2005 kemarin saya membuka rumah makan dan warung kopi, dengan melihat peluang, karena rumah saya menjadi tempat nongkrong tim pemenangan,” ujarnya.

Bahkan kini Usaha Nuraidah dan Upa Suparya semakin melebar, selain pengusaha Gas, Rumah makan, kapal, rental mobil truck yang saat ini dipinjamkan ke PT. Bosowa, dia juga membuka usaha ayam potong yang dimulai tahun 2016 kemarin.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!