Prof Salamun dan Dr Siti Hasbiah, Owner Rest Area Sasayya, Bantaeng – Radar Selatan

Radar Selatan

Bantaeng

Prof Salamun dan Dr Siti Hasbiah, Owner Rest Area Sasayya, Bantaeng

*Mengabdi Lewat Bisnis Kuliner

Banyak cara mengabdi dan berbuat kebajikan untuk orang lain. Salah satu jalan yang dipilih pasangan pendidik ini, Prof Salamun Pasda dan Dr Siti Hasbiah, adalah lewat Rest Area Sasayya. Rumah Makan dengan konsep rest area ini terletak di jalan poros Bantaeng, yang dibangun dengan niat pengabdian.

Laporan: Anjar Sumyana Masiga

Prof Salamun dan istrinya, Dr Siti Hasbiah, sama-sama mengajar di Fakultas Ekonomi UNM. Prof Salamun bahkan pernah menjadi Dekan di FE UNM. Kalau Prof Salamun berasal dari Bonto Tiro, Bulukumba, maka sang istri asli Banyorang, Bantaeng.
Sejak lama keduanya menyimpan niat membangun bisnis yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Lahan seluas 2 hektare di wilayah Sasayya, Bantaeng akhirnya disulap menjadi rest area yang nyaman. Ada gazebo tempat beristirahat, ada toilet yang bersih, dan musalla bagi Konsep rest area ini dilengkapi rumah makan dengan harga terjangkau. “Konsepnya memang rumah makan layaknya di rumah sendiri tapi fasilitas restoran,” ujar Siti Hasbiah. Prof Salamun menambahkan, saat ini, konsumen butuh pelayanan serba cepat, ingin makan enak, tapi harga murah. “Nah, konsep inilah yang kami padukan di sini,” terangnya.
Saat ini, Rest Area Sasayya memang jadi pilihan bagi setiap orang yang melewati Bantaeng. Parkiran yang luas cukup menampung mobil dan motor dalam jumlah banyak. “Kami senang jika banyak yang terbantu dengan adanya rest area ini. Karena untuk sekadar beristirahat di gazebo tidak ada masalah. Tidak wajib kok pesan makanan,” kata Prof Salamun sambil tertawa.
Prof Salamun dan sang istri mengaku rutin ke Sasayya untuk mengedukasi para karyawannya. Tenaga kerja yang direkrut rata-rata warga Bantaeng. Mulai dari penamaan Sasayya kami sengaja pilih untuk mengangkat nama lokasi dimana rest area ini berada. Tenaga kerja juga dari Bantaeng.
“Sumber daya alam dan sumber daya manusia semuanya dari Bantaeng. Sekarang ini masih mempekerjakan 50 karyawan, rencana akan ada penyerapan lagi, disesuaikan dengan kebutuhan nantinya,” ungkap Prof Salamun yang mengaku tidak segan terjun sendiri ke dapur.

“Pasarnya sudah jelas, tinggal dikembangkan saja, jadi ada pemberdayaan ekonomi kerakyatan,” katanya.

Dalam menjaga kualitas bahan yang akan disajikan, kata Salamun menjadi kendala tersendiri. Seperti dalam pemilihan ikan, bagaimana agar lebih selektif sehingga ikan yang akan disajikan tidak terkontaminasi dengan formalin. Termasuk dalam memilih beras yang baik.

“Kita mengutamakan kualitas, kalau memang bagus kita ambil dengan harga yang lebih mahal. Kalau memang rusak yah tidak usah dikasih ke pelanggan, saya bilang ke karyawan ini risiko berdagang, lagian kita tidak cari untung yang penting memenuhi kebutuhan pelanggan dulu,” ujarnya.

Memilih bisnis kuliner, kata Salamun berawal dari perilaku manusia saat ini yang serba ingin cepat, enak dan murah. Untuk menemukan hal itu di Bantaeng sebagian orang masih kesulitan. “Semoga kehadiran Sasayya yang baru dua bulan ini jalan, bisa menjawab semua itu,” ujarnya. ***

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!