Mereka Bertanya, Kenapa Pergi, Adipura ? – RADAR SELATAN

RADAR SELATAN

Ragam

Mereka Bertanya, Kenapa Pergi, Adipura ?

Zul Majjaga

 

Adipura, datang dan pergimu selalu saja jadi sumber kegaduhan. Mengapa?

Adakah penjelasan tentang kepergianmu. Tidak kah kau dengar mereka tak ihklas melepasmu. Dan jika kau tidak mendengar teriakan mereka, saya akan mengirimkan kepadamu beberapa kalimat ini.

1. Bulukumba gagal keren, Tidak dapat adipura.
2. Bulukumba Pacce, Adipura pura pura
3. Zainudin Hasan Jago, Dapat Adipura.
4. Pemerintah jelaskan, Kenapa tidak dapat adipura.

Dan, banyak lagi ekpresi kekecewaan mereka yang tak sempat kutuliskan disini. Semoga kecewa ini pamrih. Jika pesanku ini telah kau baca, semoga engkau berkenan untuk menjelaskan kepergianmu.

Sambil menunggu balasanmu, Saya ingin mengekspreaikan sesuatu, ini soal rasa tanggung jawab.

Bukankah Output dari Adipura adalah menghasilkan kesadaran warga. Bahwa tugas untuk menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban pemerintah saja tapi juga warganya, Dan inilah yang mendasari kenapa adipura harus ada.

Kebersihan dan keteduhan yang menjadi dasar dari kriteria mendapatkan adipura sangat berkait erat dengan disiplin warga. Mengurai beberapa pertanyaan diatas, secara objektif saya ingin mengajak kita melihat beberapa poin berikut ini.

Politik Propaganda Dan Adipura
Kalimat kalimat bernada tanda tanya diatas menunjukkan, Adipura masih merupakan instrumen simbol keberhasilan pembangunan yang cukup populer bagi warga dan pemerintah daerah. Sebab, Kebersihan merupakan salah satu faktor yang paling bisa dilihat dan dirasakan oleh warga. Selain itu, secara eksternal, kebersihan dapat meningkatkan prestise suatu daerah di depan daerah lain. Termasuk di dalamnya sang kepala daerah.

Bagi setiap daerah, keberhasilan ini kerap juga dijadikan momentum untuk memanen sorotan media. Tidak heran, hadirnya trofi Adipura juga kerap dirayakan dengan cara-cara yang unik. Pun sebaliknya, kekagalan mendapatkan adipura diekpresikan sebagai simbol kegagalan dengan cara cara yang satir.

Inilah ironi Adipura. Kenapa? Sebab kondisi tidak berimbang dalam konteks itu menunjuk pemerintah sebagai subjek. Dapat adipura dikritik, Tidak dapat di caci.

Saya mengantar hal sederhana ini, untuk bertanya beberapa hal.

” Dimana posisi kita, saat pemerintah mengkampanyekan Bulukumba Bebas Sampah”

” Hal kecil apa yang sudah kita perbuat, untuk mempertahankan adipura ”

Semoga pertanyaan ini, tidak dimaknai sebagai bentuk Politik Adipura.
Kampanye Adipura, Instens dan besar besaran!

Bukankah untuk mendapatkan adipura, dibutuhkan kesadaran kolektif semua pihak. Mari, kita semua melihat, Adipura bukan sekedar jualan bersih.

Semua pihak harusnya sebergairah saat ini kampanyenya. Saya membayangkan andai kampanye kegagalan mendapatkan adipura ini, di lakukan secara massif dan juga besar besaran saat tahun pertama pemerintahan Andi Muh Sukri A Sappewali bersama Tomi Satria Yulianto. Maka, Kalimat bapak Gubernur beberapa hari yang lalu di bulukumba adalah sebuah kenyataan. ” Jika Bulukumba Maju, maka Sulawesi Selatan akan Maju” Kalau tidak salah begitu kalimat sang komandan yang saya temukan dimedia.

Nah, Bagaimana dengan adipura yang gagal didapatkan itu.

Kebersihan dan keteduhan sangat berkait erat dengan disiplin warga. Kedisiplinan selain perlu ada kesadaran juga harus ada ketegasan.

Kalimat disiplin dan tegas diatas idealnya jika kita benar benar menyayangi dan mencintai adipura, maka Kedua hal itu harus menjadi ihktiar bersama semua pihak. Mari kita bersepat dengan tesis ini. Sebab hal ini baru bisa dikatakan fayr.

Jika saat ini, kita belum juga bisa bersepakat dengan tesisi itu. Besok, ekpresi kecewa dengan nada tanya sangat tidak elok kita lakonkan.

Semoga hal itu menjadi kesadaran kita bersama. Saya dan kita semua yakin sangat merindukan Bulukumba Bersih dqn Bebas sampah. Saya membayangkan andai mimpi kita bersama ini bisa terwujud. Maka, masyarakat bulukumba tidak perlu lagi memimpikan adipura. Adipura sendirilah yang akan membawa dirinya kebulukumba. Karena saat itu, Komitmen bersama kita adalah Adipura bukan sekedar bersih. Jauh lebih penting kita semua adalah kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan dan keteduhan dari masyarakat sendiri.

Ada atau tidak ada adipura, Bulukumba dan lingkungan sekitar kita harus bersih dan teduh demi kelangsungan hidup masyarakat Bulukumba yang lebih berkualitas.
Itu juga kalau kita benar benar kecewa karena kepergian adipura?

To Top