Heboh OTT,  Hmi Minta Polisi Angkat Bicara – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

Heboh OTT,  Hmi Minta Polisi Angkat Bicara

Ketua hmi Bulukumba, rakhmat Fajar

BULUKUMBA, RADAR SELATAN. CO.ID – – Dua hari ini,  publik Bulukumba dan warga net ramai- ramai memperbincangkan issu adanya Operasi Tangap Tangan (OTT)  yang dilakukan Polres Bulukumba melalui,  tim saber pungli. Olehnya Himpunan Mahasiswa Islam (Hmi)  Cabang Bulukumba,  mendesak agar polisi angkat bicara.

Ketua Umum Hmi Cabang Bulukumba,  Rakhmat Fajar mengatakan,  issu dugaan adanya OTT yang dilakukan Polres Bulukumba,  sepatutnya segera ditindaklanjuti pihak kepolisan dengan angkat bicara guna mengklarifikasi informasi tersebut.  Pasalnya,  jika tidak maka akan menjadi bola liar bagi masyarakat. Menurutnya,  segala informasi yang berkembang di masyarakat apakah hanya sebatas issu atau memang benar terjadi,  sudah sepatutnya pihak kepolisan segera angkat bicara,  sehingga tak memunculkan dugaan lain adanya permainan dan sebagainya.

“Mau itu issu apalagi jika memang benar terjadi,  polisi harus terbuka dan angkat bicara membuat klarifikasi. Karena jelas akan banyak dugaan yang muncul ke polisi kalau tidak angkat bicara, apalagi jika benar ada OTT, “pungkasnya.

Kapolres Bulukumba,  AKBP Anggi Nualifar Siregar,  mengaku telah menerima banyak telpon dan komunikasi terkait issu OTT. Hanya saja,  ia menegaskan kalau tidak ada OTT yang dilakukan pihaknya,  bahkan dia mengaku akan mempublis jika benar pihaknya melakukan OTT.

“Saya juga bingun OTT yang mana?,  karena setau saya OTT terakhir itu di Apparalang,  tapi itu sudah beberapa minggu yang lalu. Saat ini saya tidak di Bulukumba,  nanti selasa balik,” katanya,  Jumat 4 Agustus 2017.

Sementara itu,  Kasat Reskrim Polres Bulukumba,  Iptu Deki Marizaldi menjelaskan kalau  issu OTT yang berseleweran,  sumbernya belum diketahui. Dia mengatakan,  OTT terakhir yang dilakukan pihaknya sekitar sebulan lalu di Apparalang,  dimana pihaknya mengamankan Empat terduga pelaku dan mengamankan barang bukti berupa uang senilai Rp1.080.000.

“Kasusnya masih dalam penyelidikan,  kita masih pemeriksaan terhadap pihak terkait untuk mendapatkan alat bukti apakah kegiatan pemungutan di Apparalang tersebut sesuai ketentuan atau tidak. Ada memamg OTT itu dua malam lalu Pokja II,  tapi itu dilakukan di Polresta Pare- pare, ” katanya.

Dia melanjutkan,  saat ini pihaknya hanya menerima aduaan dari salah satu rekanan yang merasa tidak puas dengan hasil lelang terkait proyek pembangunan kantor DPRD,  karena pelapor tersebut menduga adanya kecurangan.

” Itu haknya rekanan untuk  menyangga atau mengadu kalau ada proses yang tidak pas, dan apa yang  menjadi poin sanggahan dan pengaduan, itu yang coba kita analisa dengan cara kita sandingkan dengan ketentuan yang di atur dalam Perpres No 54 tahun 2010 atau Nomor 70 tahun 2012, apakah ada pelanggaran pidana atau administrasi, “tutupnya.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!