Wakerba: Kami Berhak Ikut Rayakan HUT RI, Kami Warga Indonesia – RADAR SELATAN

RADAR SELATAN

Bulukumba

Wakerba: Kami Berhak Ikut Rayakan HUT RI, Kami Warga Indonesia

Berpose bersama, ustad Satria, dengan Ketua Wakerba, Aminuddin alias Mince Angraeni Puspita Sari dan Mantan Ketua Wakerba M Iqbal

 

BULUKUMBA, RADAR SELATAN. CO.ID – – Desakan Majelis Dai Muda (MDM) agar tidak melibatkan Waria dalam perayaan HUT RI di Bulukumba, menuai protes dari Organisasi Waria Kreatif Bulukumba (Wakerba).

 

Hal itu disampaikan Ketua Wakerba, Aminuddin alias Mince Angraeni Puspita Sari, saat bertandang ke redaksi Radar Selatan, Kamis 10 Agustus 2017, menurutnya pernyataan Dai Muda Bulukumba, cukup meresahkan komunitasnya. Pasalnya, Dai Muda yang seharusnya menjadi contoh toleran dan penyebar kabaikan,  jusru membuat pernyataan yang mendeskreditkan sesama ciptaan Tuhan. Apalagi lanjut, Aminuddin, tak ada satupun UU dalam negara Indonesia yang melarang eksistensi waria di Indonesia.

 

” Kita ini negara Hukum, Ini diskriminatif namanya, ini tidak menghargai persamaan hak sebagai warga Indonesia, kami ini juga anak bangsa yang berhak berpartisipasi dalam perayaaan HUT RI, tujuanya kita hanya menghibur. Barusan tahun ini kita dilarang, padahal dengan kehadadiran kami itu bisa menghibur masyarakat, “ujar Aminuddin yang juga Guru salah satu sekolah.

 

Hal yang sama juga disampaikan, Mantan Ketua Wakerba, M Iqbal Amnas menurutnya keterlibatan waria dalam perayaan HUT RI semata bentuk kecintaan dan partisipasi sebagai anak bangsa. Selain itu iapun menyayangkan sikap penolakan yang dilakukan Dai Muda, menurutnya yang harus dilakukan Dai muda memanggil Wakerba untuk dilakukan diskusi untuk mencari jalan keluar tidak dengan membuat statemen yang justru mengenyampingkan persamaan hak.

 

“Saya kira pemerintah harus bijak melihat ini, di KTP kita tidak tertulis waria tapi laki-laki. Jangan menilai sesuatu hanya dengan satu sudut pandang, saya siap berdialog. Kita ikut gerak jalan kan tidak minta biaya, kita tinggalkan pekerjaan kita, semata ingin menghibur. Lagian pakaian yang digunakan tidak seksi, dan tetap dalam konteks kewajaran. Islam itu tidak hanya luas tapi harus mendalam, “jelasnya.

 

Terpisah, Ustad Satria sebagai tokoh agama, mengatakan Waria tidak hanya dipandang dalam segi agama tapi harus dilihat dari segi kenegaraan. Pasalnya, waria juga adalah anak bangsa yang taat pajak yang memiliki hak yang sama dalam berpartisipasi dalam setiap agenda kebangsaan. Yang harus dilakukan adalah merangkul komunitas tersebut, tidak justru mencibir karena dinilai menyalahi selera kemanusiaan.

“Koordinasi dengan dokter 75 persen waria itu cinta sejenis, 25 persen adalah bawaan lahir. Intinya saya mengajak kepada kita semua bijak melihat ini, waria itu urusan dia dengan Tuhan, tugas kita adalah saling menghargai sesama ciptaan Tuhan, “ujarnya.

——–

Baca juga Berita Selangkapnya di Harian Radar Selatan Edisi Jumat 11 Agustus

 

To Top