Sengketa Balla Lompoa, Kerajaan Gowa: Tangkap Pelaku Perusakan – Radar Selatan

Radar Selatan

Ragam

Sengketa Balla Lompoa, Kerajaan Gowa: Tangkap Pelaku Perusakan

RADARSELATAN.CO.ID — Sengketa terkait status Museum Balla Lompoa beserta isinya, antara pihak Pemerintah Kabupaten Gowa dan Kerajaan Gowa berimbas pada ditiadakannya ritual Accera Kalompoang tahun ini. Ritual yang telah berlangsung 424 tahun itu tak dilaksanakan pada Idul Adha kemarin.

Polemik tersebut bermula pada September 2016 lalu. Sejumlah konflik terjadi pasca pelaksanaan Accera Kalompoang tahun lalu. Mulai dari aksi saling serang antara pihak kerajaan dan Satpol PP dalam hal ini sebagai representasi Pemkab Gowa.

Kedua belah pihak masing-masing menyelenggarakan ritual adat tahunan di Kerajaan Gowa tersebut. Masing-masing mengklaim berhak melaksanakan ritual Accera Kalompoang atau pencucian benda pusaka kerajaan.

Pasca terjadinya konflik tersebut, Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan Yasin Limpo  melaporkan adanya dugaan pencurian benda pusaka ke Polda Sulsel pada 13 September 2016 lalu. Adnan mengklaim benda pusaka yang merupakan aset Pemkab Gowa telah dihilangkan oleh pihak yang tak bertanggung jawab.

Sehari setelahnya, Rabu 14 September 2016, giliran pihak Keturunan Raja Gowa dalam hal ini Raja Gowa ke-37, Andi Maddusila melaporkan adanya pencurian dan pengrusakan yang terjadi di Balla Lompoa. Laporan tersebut merupakan lanjutan atau kedua kalinya dilakukan pihak Maddusila terkait Polemik Kerajaan Gowa.

Masuk ke ranah hukum, Museum Balla Lompoa pun disegel beserta sejumlah benda pusaka. Termasuk Mahkota Raja Gowa, Salokoa yang berlapis emas 1.768 gram dengan taburan 250 permata.

Berkepanjangan, masalah tersebut berimbas dengan tidak dilaksanakannya ritual Accera Kalompoang tahun ini. Kedua belah pihak kini sama-sama tidak bisa berbuat banyak. Brankas penyimpanan benda pusaka di Balla Lompoa masih dikalungi Police Line.

Pihak Pemerintah Kabupaten Gowa menyatakan akan menyerahkan masalah tersebut kepada pihak kepolisian. Apalagi, telah ada keputusan dari Mabes Polri bahwa Balla Lompoa kini berstatus quo.

Menanggapi hal itu, pihak kerajaan juga tidak dapat berbuat banyak. Meski berniat mempertahankan tradisi Accera Kalompoang yang telah dilestarikan selama empat abad, keluarga kerajaan terpaksa mengelus dada.

“Keyakinannya keluarga (Kerajaan Gowa) sebenarnya kita ini sangat-sangat takut dikutuk oleh leluhur karena tidak melaksanakan (Accera Kalompoang) itu. Jadi kita takut sebenarnya, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa,” kata Juru Bicara Keluarga Kerajaan Gowa Andi Baso Mahmud saat dikonfirmasi, Selasa, 5 September 2017.

“Tapi apa daya, kendalanya bukan atas kemauan kita. Pasti leluhur tahu sendiri siapa penyebabnya, kenapa tidak bisa dilaksanakan. Kami kan sudah berusaha,” ujar Baso Mahmud menambahkan.

Ia berharap polemik tersebut dapat segera terselesaikan. Supaya ritual Accera Kalompoang dapat kembali digelar pada Idul Adha tahun depan.

“Penyelesaiannya sebenarnya sederhana, bagaimana supaya pihak kepolisian menangkap pelaku perusakan tahun lalu itu. Kalau sudah diputuskan bersalah itu pelaku, kan sudah selesai persoalan,” ucapnya. (rls)

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!