Saya Manusia, Saya Pajaga Lino!! Satu Dekade Al-Faraby Berkarya – RADAR SELATAN

RADAR SELATAN

Ragam

Saya Manusia, Saya Pajaga Lino!! Satu Dekade Al-Faraby Berkarya

Zul majjaga

 

Oleh:  Syamsul Bahri Majjaga

Bahasa kadang kadang berupa tanda, kadang kadang berupa bunyi, tetapi selalu berupa fikiran. Itu kata ahli bahasa. Maka menarik untuk mengamati keberadan bahasa pada even satu dekade Alfaraby “ Pestival Budaya Pajaga Lino “.

 

Satu dekade Alfaraby, mereka telah memberikan ruang kepada setiap diri untuk menapaki kerja peradaban, dan mereka telah mendorong hasrat imajinasiku untuk menyelami pemikirannya. Bagiku, Alfaraby yang mengunakan bahasa Pajaga Lino dalam pestival budaya satu dekade adalah sebuah karya yang bukan karya sendiri. Sesunguhnya karya ini adalah hasil kolaborasi antara yang dilangit dan yang dibumi. Segala puji bagi allah, tuhan seru sekalian alam yang telah memberi kesempatan, kemudahan sehingga Pajaga Lino bisa kutemukan dalam sebuah Karya.

 

Kalimat terahir kujadikan sebagai bahasa penjelasan yang sederhana dalam memahami dan menghimpun sebagian kecil dari misteri ilmu pengetahuan manusia yang telah memiliki sejarah puluhan ribu tahun. Ya, jika saya ingin mengunakan bahasa yang lebih bebas. Katakanlah, saat ini saya sedang hanyut pada sesuatu yang sukar untuk dimengerti dan dijelaskan. Mungkin inilah yang dimaksudkan seniman Martin Heidegger, saat nalar sudah bersentuhan dengan keasingan, maka sebuah bahasa bukan lagi sekedar soal keindahan. Tetapi bahasa digunakan untuk memaklumatkan konflik diantara sistem makna yang memungkinkan kita memahami diri dan kondisi sekitar dengan kenyataan pra maknawi misterius dan cenderung menyembunyikan diri. Pada titik ini saya menerima dan menemukan pajaga lino mewujud sebagai manusia istimewa yang mampu melihat jauh kedepan dalam menata kembali peradaban yang saat ini nampak bergeser sangat jauh dari timbangan moralitas dan norma.

Bahasa Pajaga Lino sendiri mulai akrab ketika Sanggar Seni Alparaby menciptakan sebuah karya seni. Meminjam bahasa Tomy Satria Yulianto dalam artikelnya pada ulang tahun Alfaraby yang ke sembilan “ Pajagalino, Dari Bulukumba Untuk Peradaban”. Pajaga Lino adalah sebuah gagasan untuk mengembalikan hakikat kesemestaan dalam peradaban manusia. Hakikat kesemestaan yang dimaksudkan oleh beliau adalah menasbihkan kembali cinta yang sekian lama tersudut dipojok peradaban sebagai penuntun dalam tapak pijak kehidupan. Memposisikan diri sebagai pajaga lino adalah sebuah takdir yang tidak bisa disangkal. Bagaimana kita menyadarinya?

 

Pajaga lino adalah kesadaran hakikat kesemestaan, Spiritnya memutlakkan diri secara semiotis saat menjelma dalam kesadaran kita akan makna asli manusia sebagai khalifah. Tepatnya, Menyelam dalam kesadaran makna manusia sebagai pajaga lino, maka kita adalah sosok yang membangun dan merawat sangkar – sangkar kenyataan ditengah kegersangan padang makna. Kitalah sosok manusia yang menemukan jalan keluar dari sebuah rimba raya penjelajahan pada pengetahuan, konsep, gagasan, realita sosial. Dimana, sepanjang perjalanan penjelajahan dipenuhi tebing – tebing fhilosofis yang terjal, jurang –jurang konsep yang curam, jalan teori yang berliku, karang –karang epistimologi yang keras, duri ontologis yang tajam, serta perangkap metode yang menyesatkan. Dengan kata lain, manusia yang bisa menggapai sampai pada kodrat terdalam kenyataan, kodrat yang tidak bisa dijelaskan oleh kesadaran mitologis. Adalah ia yang menyadari dan menemukan diri sebagai kita yang pajaga lino. Maka, tidak aneh bagiku bila saat ini, saya sedang mengadaptasi fatwa terkenal Descartes “ cogito erge sum “ ( Aku Berfikir Maka Aku Ada) menjadi lebih realistis, menjadi “ Cogito erge Servare a terra “ ( Saya Berfikir maka Saya Pajaga Lino )

 

Pajaga Lino. Karya sangar seni Alfaraby yang dalam penegasan narasi Tomy Satria Yulianto disebutkan sebagai penugahan atas hahikat kesemestaan dalam diri manusia. Sebuah pesan yang oleh saya tidak menyisakan sedikit pun ruang resistensi dan keraguan dalam diriku. Kesadaran ini menuntunku untuk menyisir puisi tanpa judul karya penyair besar Jerman Rainer Maria Rilke yang kurang lebih meluntukan nada yang sama , “ Alam menyedorkan segenap mahluk, pada penjelajahan keriangannya yang sumir, tanah tak mengistimewakan siapapun, maka sesuatu yang murni dan menopang kita-lah yang menuntas sang dilema, kita tidak lebih intim dengannya, kecuali bahwa kita lebih bergairah ketimbang tumbuhan atau binatang, pergi bersama penjelajahan ini, sebuah petualangan nasib, lebih sesekali dari kehidupan itu sendiri, lebih berani.”

 

Rilke, Tomy Satria Yulianto dan Sanggar seni Alfaraby telah mengambarkan alam sebagai penyangga segala sesuatu yang ada dijagad ini. Penyangga yang menyatukan perbedaan kita lewat sederet kelebihan – kelebihan kita sebagai Manusia Pajaga Lino. Ahirnya, Apresiasi tak terhingga kepada sanggar seni Alfaraby atas dedikasi dan totalitasnya mempersembahkan karya untuk Peradaban.

Alfaraby, Tetaplah dalam lakon totalitasmu, teruslah bertutur dalam bunyi, dalam warna, dalam gerak, dalam rupa sebagai Manusia Pajaga Lino.

To Top