Opini: Bagaimana dan kenapa terjadi, Itu saja! – Radar Selatan

Radar Selatan

Hiburan

Opini: Bagaimana dan kenapa terjadi, Itu saja!

Zul majjaga

 

Oleh: Syamsul Bahri Majjaga

 

Andai. Ini berandai. Andai sekarang ini adalah 75 tahun sebelum masa Dongko Karaeng Tiro, 100 tahun sebelum Karaeng Ambibia. Saya percaya dan sangat yakin Tuhan akan mengutus seorang Almaulana Khatib Bungsu sebagai penyeru bagi kaum yang terserang wabah Rahmat Yani (Rahmayani). Seseorang dengan nama lahir Rahmayani, benar benar telah menyebar di seantero negeri, ia telah membawa wabah Rahmat Yani dan mencoba merusak sebuah tatanan norma, nilai budaya dan tradisi. Dan benar negeri itu saat ini memang sedang di landa wabah. Menurut seorang followers mediaviral ternama yang enggan di sebut identitasnya, virus atau wabah Rahmat Yani adalah serangan penyakit otak yang mendadak dan begitu berbahaya, setiap orang yang terjangkiti wabah ini akan dengan muda menyimpulkan sesuatu tanpa melihat fenomena sesungguhnya. Bagaimana itu bisa terjadi, dan apa motif Rahmat Yani membawa wabah ini masuk ke negeriku Bontotiro. Tapi, sekarang sudah abad 21, menyebut atau menunggu hari datangnya utusan AL Maulana Khatib Bungsu atau Dato RI Tiro untuk melakukan dan menata kembali fenomena sosial akibat wabah Rahmat Yani adalah harapan yang cukup berkelindan dalam nalar kemanusiaanku.

Namanya Syarifah Nurul Husna, gadis remaja yang berdomisili dikampung beru kelurahan Eka Tiro, kecamatan Bontotiro beberapa hari yang lalu mengenakan gaun pengantin berwarna merah jambu, dengan anggun berdiri menyambut tamu undangan, paras gadis manis itu kian merona dalam lilitan senyum bahagia. Saya yang hanya melihat gambar dan membaca melodrama pernikahannya di sosial media, sejujurnya ingin berbagi selamat kepada mempelai Sarifa. Bukankah pernikahan adalah jalan ibadah, dan mengikat janji suci adalah titian syurga. Argumentasi ini terus mendesak hasrat manusiawaiku untuk mengikuti melodrama pernikahannya. Tapi, sayangnya saat ini saya tidak ingin memberi selamat melalui tulisan ini. Dan memang bukan itu yang membuatku ingin menulis drama tipu daya yang dalam logikaku menyebutnya haram.

Merunut dari postingan postingan viral di sosial media, sebagai seorang TiroIsme sejati, bagiku, sangatlah wajar jika pada klimaksnya menuliskan sisi lain dari wabah Rahmat Yani yang menyerang dengan begitu brutal tanah kebanggaanku melalui virusnya. Siapa sejatinya wanita gagah perkasa pembawa virus itu. Dan semudah apa rangkaian ceritanya sampai menikahi gadis belia (Syarifah)? . Penjelasan sederhana dari pertanyaan – pertanyaan ini adalah penipuan. Lalu, apa benar, senteng itu menjawabnya. Tenang, itu hanya interogasi imajiner, yang kurang lebih harapannya sama dengan kalimat pada prolog tulisan ini.

Sembari mengharamkan pernikahan itu, menomorduakan akurasi dan konteks peristiwa sesungguhnya, saat ini persebaran wabah Rahmat Yani perlu di matikan sebelum efek efek persebarannya menyergap lebih jauh ke dalam sendi- sendi dan tatanan budaya masyarakat. Dalam lakon dan dialegtika kalimat perintah Tiroisme, saya merekomendasikan kepada Pemerintah Kecamatan Bontotiro, dengan melibatkan forum koordinasi masyarakat Bontotiro segera memikirkan upaya pencegahan dan rehabilitasi identitas budaya, nilai dan norma religiutas yang sudah menjadi identitas cendikia unggulan manusia Tiro. Sejenak membaca, kalimat perintah ini, saya sudah hampir menyerupai nada pangeran Tamparang di negeri Holahoax yang memerintahkan dewan adatnya menghukum sesuai dengan kebiasaan adat mayarakatnya, “ Ini adalah aibku, Hukum dan perlakukan mereka semua yang terlibat dan turut serta pada peristiwa pernikahan sejenis itu tanpa melihat jabatan dan keturunannya. Negeri Holahoax harus tetap pada nilai ” menteng ri pappisaqbina Nabitta Muhammad , Pabburittana Dato RI Tiro, ri kaloranna Karaeng Ambibia ( manusia di negeri ini haruslah berdiri tegak pada ajaran Nabi Muhammad SAW, yang disampaikan melalui Almaulana Khatib Bungsu, dan ikutilah, se bagaimana Karaeng Ambibia melakukannya). Begitulah pangeran tamparang memberi perintah kepada masyarakatnya di negeri holahoax. Tapi untunglah saya bukan La Tamparang atau manusia yang ia maksudkan dalam kalimat perintahnya.

 

Saya mungkin tidak setegas Pangeran Tamparang, tidak bermaksud menduplikasi kalimatnya ke dalam pengantar kalimat basa basi yang ku utarakan diatas. Agar tidak menimbulkan peristiwa yang akan berdampak viral dikemudian hari, penjelasan kalimat perintah diatas kulakukan karena saat ini saya benar benar ingin mencoba ber basi bisa tanpa dalil yang kuat. Asumsi ku sederhana, apa benar semudah itukah kalimat basa-basi mampu menipu dan mengelabui semua orang. Asumsiku ini, ingat, ini asumsi. Asumsi ini sedang mencoba mengkonfirmasi kalimat berita yang beredar, Bahwa dihadapkan penghulu dan keluarga mempelai Sarifah, dengan kalimat basa basi, alhasil wabah Rahmat Yani berhasil menembus logika semua orang. Jika benar semudah itu. Hikmah dan Pesan apa yang ingin disampaikan dalam peristiwa haram itu? Dan apa ia wabah Rahmayani adalah sebuah pesan. Pesan yabg mungkin senada disaat Tuhan sedag menguji Luth AS bersama umatnya. Apapun yang menjadi jawaban kita semua, pertanyaanya tetaplah “ Bagaimana dan Kenapa terjadi, itu saja!

Semoga kedamaian dan rahmat Allah SWT senantiasa melindungi kita semua dari penyebaran wabah Rahmayani. Dan tidak lupa pula kuhaturkan selamat kepadamu adindaku Sarifah Nurul Husnah, ini bukan untuk mengapresiasi pernihahanmu. Kepadamu Saya dan salam keselamatan ini melihat dari umur dan pendidikanmu yang masihlah terbilang sangat belia. Kamu adalah yang terpilih sebagai pembawa pesan, (Baca: Pernikahan sejenis di bumi Dato RI Tiro dalam jendela petaka dan hikmah ) Bagaimana seharusnya dan seperti apa menjalaninya, setiap manusia dan masyarakat dalam menjaga kehidupan sosial dalam bingkai rahmatanlilalamin.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!