Catat !!, DLHD Pastikan Lahan Tahura Dijual – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

Catat !!, DLHD Pastikan Lahan Tahura Dijual

Ilustrasi (Int)
BULUKUMBA,RADAR SELATAN.CO.ID  — Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hdup Bulukumba memastikan lahan seluas 42 hektare yang dijual sejumlah warga masuk dalam kawasan Taman Hutan Raya (Tahura). Kepastian tersebut setelah tim investigasi melakukan penelusuran atas dugaan penjualan tanah negara tersebut.
Kasi Pemanfaaat Kawasan DLHD Bulukumba, Muh. Nur Jasman, tim menemukan lahan yang terletak di wilayah Kelurahan Tanah Lemo, Kecamatan Bontobahari tersebut masuk dalam kawasan tahura. Hal ni berdasarkan hasil perhitungan titik koordinat lahan yang diklaim telah terjual.
“Kalau dari hasil poligon, lahan tersebut masuk dalam kawasan (Tahura),” ujar Nur Jasman.
Poligon sendiri merupakan untuk menentukan posisi horizontal dari titik-titik di lapangan yang berupa segi banyak dengan melakukan pengukuran sudut dan jarak. Setelah memastikan lahan tahura terjual, Nur Jasman mengaku telah menyerahkan laporan temuan DLHD kepada kepada tim penegakan hukum (gakum) yang merupakan lembaga hukum lingkungan hidup provinsi, untuk menindak lanjuti kasus tersebut, dengan melakukan proses hukum kepada  penjual dan pembeli lahan tahura.
“Termasuk wawancara dengan penjual atas nama H. Tini, kita sudah lakukan. Dia bilang tidak tahu kalau lahan dijual itu tahura, namun katanya belum terjual, masih sementara proses. Pembelinya sudah mengeluarkan uang Rp 200 juta,” bebernya.
Jasman mengaku tidak ingin berprasangka buruk, jika ada peran oknum aparat dalam proses penjualan halan yang dilindungi tersebut. “Namun jika terbukti proses hukum harus tetap dilakukan tanpa pandang bulu,” tegasnya.
Menanggapi temuan tersebut, Aktivis Agra, Rudi Tahas berharap DLHD secepatnya menyelesaikan kasus ini karena statusnya lahan negara. Bila terbukti terjual, seluruh pihak yang terlibat harus diberikan sanksi hukum yang tegas sebagai efek jera dikemudian hari.
“Bayangkan puluhan kepala keluarga harus tergusur dari kampunya karena pemerintah menetapkan menjadi lahan tahura. Tapi di satu sisi ada yang seenaknya menjual,” ketusnya.
Sebelumnya, salah seorang warga yang disebut-sebut menjual lahan yang masuk dalam kawasan Tahura, Najib membantah jika lahan yang dijualnya merupakan lahan Tahura. Menurutnya, lahan seluas 42 hektare tersebut telah bersertifikat dan memiliki alas hak kepemilikan dari 11 orang pemilik.
Diceritakannya, lahan tersebut dulunya merupakan pusat pemerintahan Distrik Lemo-lemo. “Kakek saya yang punya, namanya Masalolang, yang merupakan kepala distrik saat itu. Kalau benar itu masuk Tahura saya siap dipenjara,” tegasnya.
Sementara Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bulukumba, Andi Makmur juga menegaskan, pihaknya tidak pernah menerbitkan sertifikat atau SPPT (Surat Pemberitahuan Pajak Terutang) di kawasan Tahura. “BPN tidak pernah terbitkan sekalipun sertifikat atau SPPT, semua urusan pertanahan di sana kami setop,” tegasnya belum lama ini.
Menurutnya, pihak BPN tidak akan pernah memberikan ruang kepada siapapun untuk bermohon penerbitan sertifikat lahan yang berada di kawasan Tahura. Hanya saja, saat dikonfirmasi terkait luasan kawasan Tahura, Andi Makmur mengaku tidak mengetahui secara pasti. Namun yang jelas, kata dia, Tahura meliputi wilayah Kecamatan Bontobahari, antara lain Desa Bira, Desa Darubiah, dan Kelurahan Lemo-lemo.
“Yang jelas soal penjualan Tahura, kami di BPN tidak pernah terlibat soal itu. Sejak saya menjabat, saya tahu persis wilayah Tahura,” imbuhnya. (*)
—————
To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!