Menelusuri Jejak Sejarah Pejuang Kemerdekaan Indonesia di Bulukumba  – Radar Selatan

Radar Selatan

Hot News

Menelusuri Jejak Sejarah Pejuang Kemerdekaan Indonesia di Bulukumba 

Ilustrasi (Int)
*Abdul Karim dan M. Noor, Pahlawan Bulukumba yang Mulai Tenggelam
Selain sejarawan, mungkin sejumlah nama pejuang yang terlibat dalam kemerdekaan di Bulukumba asing di telingan masyarakat bahkan mulai tenggelam. Padahal selain Andi Sultan Dg Raja yang telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional, sejumlah nama juga bertaruh nyawa mengusir penjajah demi satu kata yakni “Merdeka”.
Laporan: Anjar S Masiga
Sejumlah jalan di Kabupaten Bulukumba menggunakan nama pahlawan dari daerah ini, seperti Jl. Abdul Karim di Kelurahan Kasimpureng dan Jl M. Noor di Kelurahan Loka. Tapi tidak banyak yang tahu siapa kedua orang tersebut dan apa perannya hingga namanya diabadikan melalui alamat.
Penulis mencoba mencari referensi di Google terkait sosok M. Noor, namun ironis, tidak satupun artikel yang mengulas perjuangan beliau. Sejarawan muda, Andika Mapasomba, melalui sejarah yang dikisahkan, M. Noor adalah pemuda pejuang yang pernah menjadi anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) di awal kemerdekaan Republik Indonesia 1945. Selebihnya cerita tentang M. Noor hanya tersimpan dalam ingatan orang-orang tertentu.
Sosok lainnya, Abdul Karim atau Abdul Muhammad Karim lebih dikenal oleh sejarawan, karena beberapa kali pementasan, nama veteran anumerta ini ada dalam naskah drama yang pernah dipentaskan. Seperti pada pementasan Teater Kampoeng saat peresmian Monumen Korban 40.000 Jiwa dan Pejuang Kemerdekaan di Pantai Merpati. Di sanalah diceritakan perjuangan pahlwan Bulukumba yang menjadi korban pembantaian Westerling, salah satunya H. Abdul Karim.
Dari cerita salah satu penggiat seni dan budaya di Kabupaten Bulukumba, Achmad Dharsyaf Pabottingi, Pantai Merpati adalah tempat bermuara darah dan air mata korban yang tewas akibat kekejaman komandan pasukan Belanda di Sulsel, Reymod Pierre Westerling. Tempat eksekusi korban memang ada beberapa titik di antaranya di Sungai Bentenge. Sejumlah pejuang yang tewas di sana di antaranya Abdul Muhammad Karim dan Ibrahim.
“Mengapa Monumen Korban 40 Ribu Jiwa Perjuangan Kemerdekaan Bulukumba dibangun di Pantai Merpati? Karena darah dan air mata korban yang dibantai ditembak mati di Sungai Bentenge mengalir dari muara ke pantai di belakang monumen ini,” ungkap Daeng Cacca sapaan Ahmad Dharsyaf Pabottingi pada Ekspose Monumen Korban 40 Ribu Jiwa dan Pejuang Kemerdekaan, Selasa, 27 Desember 2016 lalu.
Diungkapkan pendiri Teater Kampong itu, referensi ilustrasi monumen tersebut dari buku “Ketika Api Kemerdekaan Indonesia Berkobar di Bulukumba”. Buku dari hasil rangkuman tiga makalah yang ditulis Letkol. Purn. Saifuddin Paturusi dengan Sejarah Perjuangan Rakyat dan Pemuda Bulukumba. Kemudian Prof Dr. H. Andi Mattulada dengan Apa yang Dapat Saya Kenang, Bulukumba di awal Revolusi Proklamasi 17 Agustus 1945. Terakhir karya Drs. Sarita Pawiloy (Pakar Sejarah IKIP Ujung Pandang) dengan Perlawanan Rakyat Bulukumba Masa Revolusi Perang Kemerdekaan.
Sejarah mengenai operasi pembersihan yang dilakukan pembunuh berdarah dingin, Kapten Westerling yang mengakibatkan jatuhnya korban sekira 40 ribu jiwa di Sulawesi Selatan, di Bulukumba khususnya tidak lepas dari perjuangan Laskar Brigade PBAR (Pemberontak Bulukumba Angkatan Rakyat). Organisasi ini berhadapan langsung dengan pasukan baret merah (Korps Speciale Troepen) Westerling dan Tentara KNIL Belanda dengan pertempuran selama tiga bulan yakni Januari hingga Maret 1947.
Dari data Registrasi Kepala Pemerintah Negeri Bulukumba, Januari 1954, jumlah korban 40 ribu jiwa di Sulawesi Selatan, korban dari Bulukumba tercatat 214 orang. Sebagian besar dari jumlah itu dari Laskar PBAR dan rakyat yang pro republik dan anti NICA Belanda.
Kembali pada sosok Abdul Karim, ia adalah pimpinan organisasi Persatuan Pergerakan Nasional Indonesia (PPNI) bersama dengan Andi Panamun. PPNI dibentuk pada akhir Agustus 1945, atas usulan Andi Sultan Daeng Radja. Organisasi tersebut untuk menghimpun pemuda dalam rangka mengamankan dan membela negara kita tercinta, membela Indonesia.
Beberapa hari setelah kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, tentara sekutu mendarat di Indonesia termasuk di Bulukumba. Kehadiran tentara sekutu, diboncengi tentara Belanda lengkap dengan pemerintahan sipil yang disebut Nederlands Indisch Civil Administration (NICA). Kehadiran NICA sama halnya kehadiran tentara Jepang, ingin menjajah Indonesia.
Cucu Abdul Karim, Hamzah hanya mengenal sosok sang kakek dari cerita orang tuanya yang juga dikisahkan dari orang tua mereka. Ibunya, Nur Saidah adalah adalah cucu langsung dari Anak ke tiga Abdul Karim, Ummi Kalsum.
Sebagai cucu dari pejuang, pria kelahiran 29 Mei 1975 itu bertekad untuk mengikuti jejak Abdul Karim. Ia banyak aktif dalam organisasi kepemudaan. “Di antara yang lain memang saya yang merawat pergerakan dalam berorganisasi. Tekad saya melanjutkan perjuangan beliau,” kata pemuda yang aktif dalam organisasi MPW Pemuda Pancasila Sulsel.
Dari kisah gigihnya perjuangan pendahulu meraih kemerdekaan dengan berdarah-darah, bahkan tak sedikit berkorban nyawa, maka patutlah generasi kini mensyukurinya. Sayangnya, seringkali semangat nasionalisme hanya pada moment tertentu. Tak ada lagi perang berdarah melawan penjajah, namun untuk meneruskan perjuangan kita perlu memerdekakan diri, dan memerdekakan orang lain. (*)
To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!