Menelusuri Jejak Sejarah Kejayaan Kabupaten Bantaeng – Radar Selatan

Radar Selatan

Bantaeng

Menelusuri Jejak Sejarah Kejayaan Kabupaten Bantaeng

Ilustrasi (Int)
*Pernah Jadi Pusat Pemerintahan di Selatan Sulawesi Selatan
Pernah berada dalam daftar 10 daerah tertinggal di Indonesia, Bantaeng ternyata bekas afdelin dan pernah menjadi pusat pemerintahan di selatan Sulawesi Selatan bahkan sebelum zaman pemerintahan Hindia Belanda.
Laporan: Anjar Sumyana Masiga
Tema peringatan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Bantaeng ke-763 “Kembalinya Kejayaan Bantaeng” seakan mengajak masyarakat untuk menelusuri kilas dibalik keberhasilan daerah bertajuk Butta Toa kini.  Meski hanya daerah kecil, namun di mata banyak masyarakat, Bantaeng saat ini bak kiblat Indonesia bagian timur. Tidak sedikit daerah yang melakukan studi banding bahkan sebagiannya dari luar Pulau Sulawesi.
Dari data Pemkab Bantaeng, anggaran untuk perayaan hari jadi berkisar Rp 800 juta. Sangat berbeda dengan perayaan sebelumnya, tentu tahun ini lebih meriah. Rangkaian kegiatan yang dibuka dengan karnaval budaya ini merupakan persembahan di akhir kepemimpinan Nurdin Abdullah sebagai bupati Bantaeng dua periode.
Pada puncak acara di Pantai Seruni, Kamis, 7 Desember 2017 lalu, Sekda Bantaeng, Abdul Wahab membacakan sejarah Bantaeng. Hari jadi Bantaeng, selain bermakna historis juga bermakna simbolik yang menggambarkan nilai budaya dan kebesaran Bantaeng di masa lalu dengan adat istiadat yang khas.
Dari sisi yuridis formal hari jadi Bantaeng pada 4 Juli 1959 berdasarkan UU No. 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi. Namun pemberlakuan UU tersebut bukanlah menunjukkan keberadaan Bantaeng pertama kali. Mempertimbangkan berbagai hal dan dimensi, antara lain mempergunakan berbagai pendekatan dan penelitian yang seksama.
“Seperti seminar, diskusi ilmiah dan observasi terhadap data lontara, penelitian situs sejarah dan melalui penelitian dokumen-dokumen yang ada,” ujarnya.
Tujuh merupakan simbol Balla Tujua di Onto dan Tau Tujua yang memerintah di masa lalu. Mereka adalah Kere Onto, Bissampole, Sinoa, Gantarang Keke, Mamampang, Katapang, dan Lawi-lawi. Dari sejarah Bantaeng, sejak residen pertama Pemerintahan Hindia Belanda memimpin, 11 November 1737 silam, Bantaeng telah dikenal dengan julukannya Butta Toa yang berarti tanah tua, tanah bersejarah.
Laporan hasil peneliti Amerika Serikat, Wayne A Bougas, bahkan menyatakan Bantayan adalah kerajaan Makassar awal tahun 1200 sampai 1600.  Penelitian ini dikuatkan dengan hasil penelitian arkeolog para penggali keramik di bagian penting wilayah Bantaeng. Ditemukan benda diyakini berasal dari Dinasti Sung (960-1279) dan dari Dinasti Yuan (1279-1368).
Berdasarkan sejarah yang dituturkan, Bantayan merupakan awal kerajaan di tahun 1254 sampai 1293 dengan pemerintahan terdiri dari tujuh kawasan pemerintahan yang masing-masing di antaranya dipimpin oleh karaeng yaitu Kare Onto, Kare Bissampole, Kare Sinoa, Kare Gantarang Keke, Kare Mamampang, Kare Katampang, dan Kare Lawi-Lawi. Kere tersebut dikenal dengan nama ‘’Tau Tujua’’.
Setelah Mula Tau, pada tahun 1293 raja selanjutnya yang memerintah yaitu Raja Massaniaga. Berturut-turut tahun 1293 sampai 1332 dipimpin oleh To Manurung atau yang bergelar Karaeng Loeya. Pada tahun 1332 sampai 1362 dipimpin oleh Massaniaga Maratung. Tahun 1368 sampai 1397 dipimpin oleh Maradiya. Tahun 1397 sampai 1425 dipimpin oleh Massaniagaya.
Kemudian tahun 1425 sampai 1453 dipimpin oleh I Janggong yang bergelar Karaeng Loeya. Tahun 1453 sampai 1482 dipimpin oleh Massaniga Karaeng Bangsa Niaga. Tahun 1482 sampai 1509 dipimpin oleh Daengta Karaeng Putu Dala atau disebut Punta Dolangang. Kemudian tahun 1509 sampai 1532 dipimpin oleh Daengta Karaeng Pueya.
Selanjutnya di tahun 1532 sampai 1560 dipimpin oleh Daengta Karaeng Dewata. Tahun 1560 sampai 1576 dipimpin oleh I Buce Karaeng Bondeng Tunitambangan. Tahun 1576 sampai 1590 dipimpin oleh I Marawang Karaeng Barrang Tu Maparrisika Bokona. Tahun 1590 sampai 1620 dipimpin oleh Massakirang Daeng Mamanggung Karaeng Majjombea Mattinroa Ri Jalanjang Latenri Rua.
Tahun 1620 sampai 1652 dipimpin oleh Daengta Karaeng Bonang yang bergelar Karaeng Loeya. Tahun 1652 sampai 1670 dipimpin oleh Daengta Karaeng Baso To Lalanga Ri Tamalangge. Tahun 1670 sampai 1672 dipimpin oleh Mangkawani Daeng Talele. Tahun 1972 sampai 1687 dipimpin oleh Daengta Karaeng Baso (kedua kalinya).
Kemudian di tahun 1687 sampai 1724 dipimpin oleh Daengta Karaeng Ngalle. Tahun 1724 sampai 1756 sipimpin oleh Daengta Karaeng Manangkasi. Tahun 1756 sampai 1787 dipimpin oleh Daengta Karaeng Loka. Tahun 1787 sampai 1825 dipimpin oleh I Balaga Daeng Mangguluang Tu Nijalloka Ri Kajang. Tahun 1825 sampai 1826 dipimpin oleh La Jalleng Tu Mangguliling Karaeng Tallu Dongkongan ri Bantaeng yang bergelar Karaeng Loeya ri Lembang.
Tahun 1826 sampai 1830 dipimpin oleh Daeng Tu Nace (janda permaisuri, Karaeng Balaga Daeng Mangguluang Tu Nijalloka Ri Kajang). Tahun 1830 sampai 1850 dipimpin oleh Mappaumba Daeng To Magassing. Tahun 1850 sampai 1860 dipimpin oleh Daeng To Pasaruang. (*)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!