Membranding Bulukumba. Paradigma 2018 – Radar Selatan

Radar Selatan

Ragam

Membranding Bulukumba. Paradigma 2018

Zul Majjaga

Oleh: Zul Majjaga

 

Saya sering mendapatkan pertanyaan dari orang, kenapa saya begitu optimis Kabupaten Bulukumba akan  menjadi daerah sejahtera dan terdepan, di saat  berita – berita dari empat penjuru kabupaten ini, nyaris semua beraroma negatif. Juga ketika makin banyak warga di dalam dan di luar kabupaten ini, terutama dari angkatan mudanya yang kehilangan harapan daerahnya akan Mampu bergerak cepat untuk menguasai provinsi Sulawesi Selatan . ( merenda mimpi untuk Sulawesi Selatan  saja, rasanya begitu berat. Lalu, bagaimana dengan optimismemu) . Ditanya begitu, saya kebingungan untuk menjawabnya. Bukan karena saya tidak berdaya dalam merangkai argumentasi yang tepat untuk menjawabnya. Bagi saya, kebingunganku tidak lebih karena, pertanyaan – pertanyaan ini terdengar aneh di telingaku.

Awalnya, saya menjawabnya dengan detail mulai dari pencapaian ekonomi, sampai pada kondisi demografi ( dan banyak lagi penjelasan-penjelasan terhubung), termasuk komitmen pemerintah daerah dalam mengontrol kematian ibu dan anak. Sampai pada penempatan zona Damkar di beberapa kecamatan, bedah rumah miskin, disabilitas dan berbagai layanan publik lainnya,  oleh saya, argumentasi itu adalah penjelasan  ilmiah yang menjelaskan, hampir pasti Bulukumba akan menjadi daerah terdepan di Sulawesi selatan, hal yang akan mengantarkannya menguasai Indonesia. Namun, semakin serius saya dalam menyajikan jawaban – jawabanku, pertanyaan serupa dari penanya masih saja dengan pertanyaan yang itu dan itu saja. Semakin lama dalam labirin pertanyaan mereka, karena merasa kelelahan, saat ini, disaat penanya masih saja bertanya pada pertanyaanya, saya selalu balik bertanya. “ apakah ada alasan untuk tidak optimis pada tanah kelahiranku, atau saya tidak mempunyai alasan untuk pesimis. “ kalau kalian bagaimana?

Ternyata, dari pertanyaan yang kumaksudkan untuk segera mengakhiri diskusi ini, justru menjadi pemantik dari sebuah diskusi menarik yang mengalir begitu hangat lewat setiap kata yang tertata rapi dalam bentuk kalimat lisan. Terbawa dalam suasana diskusi yang mengalir dan mengalun begitu apik, indah. Saya mulai menyadari dan mencoba berkesimpulan, bahwa orang – orang yang selama ini pesimis adalah mereka yang tidak tahu, atau belum mendapatkan informasi akurat dan ter update mengenai prestasi dan kemajuan yang telah diraih kabupaten Bulukumba selama ini. ( memang tidak mudah mendapatkan informasi, disaat hampir seluruh media mengisahkan berita negatif tentan potret sosial di kabupaten ini.

 

Kalau mau jujur, saya sendiri jarang mendengar “ prediksi dan analisis “  mengesankan tentang masa depan kabupaten Bulukumba yang akan datang dari dalam kabupaten itu sendiri. Seringnya malah jika media – media dari luar daerah yang mengabarkan setiap pencapaian dari kabupaten ini. Sampai beberapa rekan dan relasi  yang ada di luar Sulawesi Selatan ikut membangun kesimpulannya tentang Bulukumba. Herannya, justru mereka sangat optimis tentang proyeksi masa depan Bulukumba.

 

Sejauh ini, mungkin bagi kebanyakan orang – orang di daerahku sangat sulit untuk mempercayai bahwa kabupaten Bulukumba akan menjadi kabupaten terdepan di Sulawesi Selatan,b apalagi dengan segala cerita carut marutnya, yang kalau mau jujur, semua cerita itu juga datang dari banyak bincang pesimis di kalangan mereka yang tanpa sadar telah menjadi bias dan bernilai negatif bagi yang mendengarnya. Meskipun di depannya beragam tanda – tanda kebangkitan sosial masyarakat yang terikat dalam tata sosial dan administrasi yang kusebut Bulukumba  begitu nyata dan saya merasa prediksiku bahwa kabupaten ini akan menjadi kabupaten sejahtera dan terdepan akan menjadi kenyataan. Dan sampai disini, cukup mengagetkan bagi saya, betapa Bulukumba menjadi buah bibir di jazirah Sulawesi, memiliki  kekayaan alam, laut dan budaya yang begitu banyak. Dalam keyakinan saya pencapaian segitu tiga emas kejayaan Sulawesi Selatan akan bertumpu pada kabupaten Bulukumba, setelah Makassar dan Toraja.

 

Pertanyaannya kemudian adalah, benarkah kita sanggup mencapai itu? Kalau itu saya tanyakan pada diri saya sendiri, jawaban saya pasti mampu.  Tapi, jika saya tanyakan ke pada segenap masyarakat dan angkatan muda Bulukumba, pastilah jawabannya beragam dengan berbagai asumsi dan justifikasi. Tapi, apa ruginya menjaga optimisme dan harapanku tersebut. Kata orang bijak “ mending optimis terhadap sesuatu dan kadang salah, dari pada pesimis dan benar terus “.  Bagaimana?

 

Tentu, saya tidak bermaksud mengirimkan pesan lewat pertanyaan ini atau sedang berniat untuk mengajak Anda semua membaca secara detail laporan ahir pemerintah daerah  dan atau  data data terkait yang bisa membantu kita semua untuk saling menguatkan dalam merangkai harapan, tidak saya benar benar tidak sedang berniat begitu ( sebab, selain ribet dalam cara membacanya, ia juga sangat tebal dan membutuhkan waktu lama. Anda harus benar-benar meluangkan waktu untuk itu) saya yakin, hal itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi banyak orang. Saya yakin, serius! Meskipun tetap harus kuakui bahwa masih ada beberapa hal yang sangat mendesak untuk di benahi di kabupaten Bulukumba, tapi bukan berarti kalau masih atau sedang berbenah, sebuah daerah tidak layak maju, atau kemudian dipandang sebelah mata.

 

Sekali lagi, Saya meyakini. Bahwa keinginan kuat dari seluruh warga daerah dalam melatih, melihat dan menyadari langkah dan gerak pembenahan adalah bentuk dari implikasi praktis ethies dari sebuah tatanan yang objektif di luar diri kita yang disebut “ Bulukumba “ . Terdapat tatanan sosial yang disebut dengan “ Masyarakat”.  Dan ada tata simbolik yang kita sebut dengan “ Pemerintah Daerah”.  Saya berharap, sebelum kita mencoba menyisir jauh kedalam dasar keyakinanku, lalu mencoba menggali proyeksi “  Bulukumba sebagai kunci dari segitiga emas Sulawesi selatan “ dari hal yang sederhana dan biasa. Sangat dibutuhkan sebuah sikap yang diakui atau tidak, disadari atau tidak, sikap tersebut sudah mulai luntur, “ kepercayaan diri dalam bingkai si paingaq si Petta – Petta “ .

 

 

 

Bulukumba 2017: “ Pertumbuhan ekonomi  tumbuh meningkat”.

 

Kalau ditanya, Daerah mana di  Sulawesi Selatan yang kaya. Jawabannya pastilah beragam, tergantung dilihat dari sisi mana. Kalau dari sisi kekayaan alam dan budaya, tentu saja semua pastilah bernada sama dalam menjawabnya. Kabupaten Bulukumba adalah salah satunya.

 

Penentuan sektor unggulan sebagai dasar dalam perumusan pola kebijakan pembangunan ekonomi kabupaten Bulukumba dalam kurung waktu 2016 – 2017 memiliki nilai kompetitif yang positif. Nilai ini berhasil menunjukkan potensi daya saing yang cukup tinggi ditingkat provinsi. Meskipun saya tidak mencoba menjelaskan metode dan rumus analisis yang di gunakan seperti yang digunakan untuk mengetahui perubahan dan pergeseran sektor perekonomian di kabupaten Bukulukumba. Saya sangat  yakin, bahwa strategi kolaborasi yang dibangun dengan gaya kepemimpinan yang humanis, menunjukkan kinerja membaik dengan tren  pertumbuhan  ekonomi yang semakin membaik di kabupaten Bulukumba. Artinya, melihat grafik  pencapaian IPM Kabupaten Bulukumba yang  mengalami kenaikan dari tahun ketahuan ( peringkat 3 tercepat di Sulawesi Selatan) menjadi sebuah cara ukur yang paling mendekati rasional, sebab mengukur derajat perkembangan manusia suatu daerah melalui pembangunan pada bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi yang merupakan pilar utama dari pembangunan manusia. Adalah salah satu variabel keberhasilan pembangunan suatu daerah.  Grafik peningkatan IPM di kabupaten Bulukumba tentulah sangat erat kaitannya dengan komitmen pemerintah daerah dalam respon cepatnya terhadap setiap aspirasi warga.

 

Meskipun, sajian data yang menunjukkan pencapaian IPM di Kabupaten Bulukumba terus membaik, namun tentulah, saya merasa hal tersebut belum cukup kuat menopang keyakinanku. Akan tetapi, melihat program – program yang telah dicanangkan pemerintah (mulai dari asuransi pertanian, peternakan dan perikanan ) adalah hal yang sangat menunjang kabupaten Bulukumba dengan kekayaan sumber daya alam dan budaya yang begitu besar secara perlahan akan mendorong lebih cepat tercapainya kesejahteraan masyarakat Bulukumba ditahun tahun berikutnya. Dan hal ini, tentulah sesuatu yang wajar, jika saya berharap begitu besar karena besarnya keberagaman dan potensi sumber daya Kabupaten Bulukumba. Akan tetapi, harapan untuk saat ini, sebagai warga yang mencintai daerahnya. Mencoba sebuah tawaran untuk bersepakat, bahwa  mem_branding  seperti apapun suatu daerah, tidak akan berguna bila budaya  politik dan kondisi keamanan daerah tidak terjaga, pemerintah yang tidak sigap, corong informasi yang begitu mudah mengeksploitasi, masyarakat yang saling menegasikan.

 

Bagaimana, hanya sebuah  tawaran ?

Marilah, sejenak kita renungkan tawaran ini, lalu berpikir bersama dengan memperhatikan catatan rekomendasi yang secara khusus saya tujukan kepada penyelenggara pemerintahan daerah agar ke depannya, dalam memaksimalkan upaya peningkatan PDRB, idealnya menempatkan secara kolektive porsi kebijakan yang lebih pada sektor sektor unggulan dengan tidak mengabaikan sektor lainnya, sehingga dalam jangka pendek, menengah dan panjang dapat memberikan dampak yang besar bagi peningkatan kesejahteraan warga. Hal lainnya, disarankan pula, agar dilakukan penelitian yang berbasis sub sektor unggulan sampai pada tahapan komoditi unggulan  yang mendalam, sehingga ke depannya akan memudahkan langkah pengambilan kebijakan pembangunan yang bertumpu pada pengembangan komoditas melalui penerapan yang aplikatif..

 

 

 

Bulukumba 2017. “ Masyarakat Desa Berdaya Budaya “

Dengan menggunakan kerangka evaluatif, pertanyaan yang patut diajukan kepada pemerintah kabupaten Bulukumba kemudian adalah apakah desain strategi kebijakan, program kegiatan pembangunan daerah selama ini, baik pada level kabupaten sampai pada pemerintahan Desa, sudah diarahkan untuk memperbaiki indikator-indikator kesejahteraan..

Apakah strategi dan kebijakan pembangunan daerah sudah didesain sedemikian rupa untuk lebih berpihak pada wilayah perdesaan pertanian tradisional yang merupakan wilayah konsentrasi penduduk di kabupaten Bulukumba.

Apakah anggaran pemerintah daerah sudah dialokasikan dan distribusikan sedemikian rupa untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat desa..

Apakah sudah terbangun persepsi yang sama di kalangan para pemangku kepentingan (eksekutif, legislatif, dunia usaha, LSM, perguruan tinggi, lembaga donor, organisasi kemasyarakatan, dsb.) bahwa “manusia di desa ” harus menjadi muara dari keseluruhan tindakan yang mengatasnamakan pembangunan.

Selain saya, adakah yang bisa menjelaskan beberapa pertanyaan diatas.

” Otonomi Daerah. meskipun teratih -tatih, ternyata membawa dampak baik bagi pemerataan, Sekarang, dikabupaten Bulukumba, setiap desa berlomba membangun, seolah tidak mau kalah dari desa dan daerah lain “. Kompetisi seperti ini, ternyata sangatlah menguntungkan. Semangat otonomi harus terus jalan di kabupaten Bulukumba, meskipun belum sempurna, tapi arah kesitu sudah terlihat.

Melihat strategi pemerintah daerah mensupport para pendamping desa dengan menjanjikan bantuan operasional dengan catatan pendamping desa harus bekerja dan menunjukkan prestasi. bagi saya, ini merupakan langkah terapan yang sangat cerdas dan santun dalam mengawal perencanaan dan pelaksanaan pembangunan desa. Pemda Bulukumba yang menggelontorkan dana desa sebesar Rp 1,5 miliar tentu bertujuan untuk peningkatan kualitas taraf hidup masyarakat di desa. Bukan hanya itu, memastikan penyelarasan pembangunan kota/desa terfasilitasi melalui renaca kerja pembangunan.

 

Ketika saya ceritakan hal ini kepada teman teman saya di warung kopi, tentang langkah pemerintah yang perlahan tapi terus menunjukan grafik kemungkinan kabupaten Bulukumba menjadi “sejarahter dan terdepan “ di sulawesi selatan. Hampir semua menjawab secara skeptis dengan satu alasan “ bangunmi dulu persepsi yang sama di kalangan para pemangku kepentingan, karena kalu tidak. Mimpiko itu. “ Benarkah begitu, lalu apa yang harus kulakukan? ( apakah saya dan Bulukumba harus menemukan dulu seorang pemimpin yang disukai semua kalangan, semua parpol, semua mayarakat termasuk semua kepala desa)  saya tidak akan melanjutkannya dengan  pertayaan – pertanyaan lain. Saat ini, optimisme akan masa depan Bulukumba adalah hal penting yang harus terus saya pelihara. Sebab itulah modal awal yang akan mengantarkan kabupaten Bulukumba. Dan alhamdulillah, sangat menjajikan!

 

Atmofer yang menjanjikan itu semakin terasa luar biasa dahsyatnya ketika melihat antusiasme para memangku kepentingan di dalam ruangan bursa inoveasi desa. Bursa inovasi yang pertama kalinya di kabupaten Bulukumba ini, terlihat ini diikuti oleh ratusan peserta dari seluruh perwakilan desa seperti kepala desa, anggota BPD, dan LPMD, serta dihadiri para camat se-Kabupaten Bulukumba. Bayangkan, bagaimana keyakinanku menemukan jalan irama geraknya,  melihat geliat partisipasi masyarakat dalam ruangan itu, saya memprediksi 2018 akan jauah makin membaik. Dan sebenarnya saya ingin berbagi keyakinan pada prediksi ini. Percayalah, bukan karena penjelasan- penjelasanku diatas, tapi karena keindahannya. Pesona Bulukumba, jauh meninggalkan daerah lain di sulawesi selatan, dan tidak hanya itu, di kabupaten inipula tempat lahir nalar indramaya bernama “ patuntung “.

 

Semoga saya dan kita semua bisa merasakannya.

Terahir, saya tidak ingin masuk pada kalimat yang akan menjelaskan deretan pencapaian- pencapaian yang telah di capai pemerintah kabupaten Bulukumba yang telah mendapatkan legitimasinya melalui ragam penghargaan yang di daparkannya mulai dari pemerintah provinsi dan pusat. Sebab, kalau mau jujur,  saya masih memiliki banyak penjelasan – penjelasan sederhana terkait dengan  rasa “ Yakin “ yang terus kupelihara. Dan saya pun percaya pada semua hal yang ada disekeliling kita akan menarik kita semua kedalam peneguhan rasa optimis dan kepercayaan diri. Sebab, andai kita semua harus jujur – jujuran. Yang dibutuhkan Bulukumba saat ini adalah, lokomotif penggerak untuk mem branding daerah yang luar bisa ini. Dan lokomotif itu adalah media, Menampilkan Bulukumba yang kita bangakan, sebagai daerah yang murah senyum, ramah dan bersahaja. Bulukumba memerlukan sumber daya yang besar ( Saya, Anda dan Kita semua ) dimana  sumberdaya ini menyatu apik dalam visi pembangunan jangka panjang yang teguh dalam “lambusu – sabbara – barani na Tojeng “.

 

Apapun caranya, Kita harus segera memulainya. Ini Serius!

 

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!