Kandidat Jangan Tersandera Kepentingan – Radar Selatan

Radar Selatan

Politik

Kandidat Jangan Tersandera Kepentingan

Hermansyah  Pengamat Politik
BULUKUMBA, RADAR SELATAN.CO.ID  — Sudah menjadi rahasia umum tingginya kos politik dalam setiap perhelatan pilkada. Para kandidat yang hendak maju bertarung harus berani merogoh kocek lebih dalam. Tak hanya dana pribadi, pelibatan funding (penyandang dana) menjadi hal yang harus dilakukan beberapa kandidat yang tak ingin lempar handuk di tengah perjalanan.
Pengamat politik Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (STISIP) Muhammadiyah Sinjai, Hermansyah menjelaskan, tinggginya kos politik dan mahar politik tentu akan berimpilkasi pada pengambilan keputusan oleh kandidat yang menang nantinya. Adanya hubungan emosional dan tanggung jawab sosial akan membuat figur merasa tergadaikan.
Bahkan tidak menutup kemungkinan tidak kebal akan intervensi dari si penyandang dana kampanye. “Bargening pasti ada, tidak mungkin si penyendang dana menggelontorkan dana begitu saja tanpa ada deal-deal awal. Begitupun dengan kepentingan parpol pengusung atau jutawan yang ada di belakang masing-masing kandidat,” terangnya kepada RADAR SELATAN, Kamis 25 Januari.
Pada dasarnya, kata Hermansyah, tak ada yang salah jika kandidat menerima sumbangan dari pihak mana saja. Asalkan sesuai aturan yang ada dan peruntukkanya mampu dipertanggungjawabkan termasuk harus dilakukan audit agar tak berimpilkasi hukum.
Adanya sumbangan yang diterima kandidat dikhawatirkan akan berdampak pada konsistensi dalam mengambil keputusan. Meski demikian politik balas budi tak harus dilakukan apalagi berkaitan dengan kebijakan yang harus pro rakyat. Soal plus minus maju melalui jalur independen atau parpol, menurut Hermansyah memiliki keuntugan dan kelemahan masing-masing karena di dalamnya tetap terdapat kepentingan.
“Itu bisa terjadi sebagai suatu konsekuensi moral. Bahwa sebuah kebijakan program dapat diciptakan sesuai dengan kesepakatan dan dijadikan sebagai kebijakan pembangunan baik fisik maupun non fisik, dimana pelibatan lembaga atau pribadi pendonor dana tidak boleh diarahkan atau dilibatkan. Kalau saran untuk membangun itu bagus, tapi kalau kepentingan kelompok atau individu itu yang salah,”katanya.
Sementara itu, bakal calon wakil bupati Bantaeng dari jalur independen, Nurdin Halim mengatakan, pada dasarnya maju melalui independen dan jalur partai politik sama-sama memiliki keunggulan dan kekurangan. Hanya saja, ia beralasan maju melalui jalur independen bersama Muhmmad Alwi pada dasarnya tak direncanakan.
Pasalnya, ia sendiri tak pernah bermimpi akan masuk dalam kontestasi lima tahunan tersebut. Hanya saja, karena saat itu ia dilamar oleh Muhammad Alwi agar didampingi, apalagi keduanya memiliki sikap dan visi misi yang sama dalam memajukan Kabupaten Bantaeng.
“Saya kan pengurus wilayah PPP. Mungkin saja andai ada kandidat lain dari jalur parpol yang meminta saya untuk bersama di pilkada dan memiliki kesamaan visi, bisa saja saya maju melalui parpol. Tapi itu bukan masalah, intinya proses yang ada saat ini dimaksimalkan dalam rangka pengabdian kepada umat dan bangsa khususnya Kabupaten Bantaeng,” terangnya.
Menurut Nurdin, jika ingin berhitung lebih realistis, maka mandat rakyat lebih berpihak kepada kandidat yang maju melalui jalur independen. Pasalnya rekomendasi untuk maju bertarung langsung diberikan oleh rakyat melalui pernyataan dukungan KTP.
“Intinya mari kita ciptakan pilkada yang damai dan bersahaja di Bantaeng, persaudaraan harus lebih awal. Yang maju ini adalah putra putri terbaik, tak ada yang lebih penting dari si passianakkang (persaudaraan),”ujarnya. (faj/man/b)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!