Ratusan Warga Rebutan Ampao di Kediaman Bos Toko Mitra – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

Ratusan Warga Rebutan Ampao di Kediaman Bos Toko Mitra

Warga antri di kediaman Bos toko mitra untuk menerima ampao

Ratusan Warga Rebutan Ampao di Kediaman Bos MITRA

BULUKUMBA, RADAR SELATAN.CO.ID –Ratusan warga terdiri dari orang tua, dewasa dan anak kecil memadati rumah kediaman pemilik toko Mitra Bulukumba, Christ Thamrin di bundaran Pinisi Bulukumba.

“Sudah dapat Ampao belum? Kata salah seorang anak kecil kepada rekannya saat antri di hadapan rumah milik warga Tionghoa tersebut,” kamis 16 Februari.

Namun mungkin pertanyaan basa-basi seperti itu pernah juga didapatkan banyak orang di momen Imlek meski tidak menjadi bagian dari warga keturunan Tionghoa. Karena memang pergantian tahun menurut tradisi ajaran Konghucu ini kerap diidentikkan dengan bagi-bagi angpao.

Tak jarang pula, bagi kaum papa, perayaan Tahun Baru Imlek juga dimanfaatkan untuk mencari derma dari warga keturunan Tionghoa, yang berbondong-bondong pergi bersembahyang di vihara atau klenteng. Mereka menganggap pemberian seperti itu juga bagian dari angpao.

Christ Thamrin tokoh masyarakat Cina di kabupaten Bulukumba   mengatakan, tradisi bagi-bagi uang itu memang mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Awalnya, angpao hanya dibagikan oleh anggota keluarga yang lebih tua kepada yang lebih muda.

Namun saat ini, pembagian angpao tidak lagi memperhatikan usia.

”Dulu angpao hanya dibagikan dari kakek kepada cucu-cucunya atau bapak kepada anak-anaknya. Sekarang ini, jadi lebih populer, semua orang jadi minta angpao,” ujarnya kepada Radar Selatan kemarin.

Christ Thamrin yang juga pemilik toko Mitra Bulukumba  itu menuturkan, angpao tersebut diberikan sebagai ucapan selamat Tahun Baru Imlek dan tidak memiliki makna sakral tertentu. Jumlah uang yang diberikan pun tidak memiliki aturan batasan nominal. Jumlah uang yang diberikan mengikuti keikhlasan dan kemampuan dari pihak yang memberikan.

”Angpao itu hanya untuk menyenangkan si buah hati. Kalau dapat uang kan senang,” jelasnya.

Lanjut Christ Thamrin tradisi angpao juga biasanya diberikan oleh orang yang sudah menikah dan bekerja kepada yang belum menikah dan masih menganggur. Uang yang diberikan itu harus tak boleh terlihat nominalnya sehingga biasanya dibungkus dalam amplop berwarna merah.

Ini sesuai dengan asal-usul bahasa dari kata angpao yang terdiri dari suku kata ang yang berarti merah dan pao bermakna amplop. Bila diartikan menjadi amplop merah, tapi secara makna bisa disebut sebagai pemberian, khususnya dalam bentuk uang. Sesuai dengan tradisi masyarakat keturunan Tionghoa, warna merah menyimbolkan kegembiraan dan kesejahteraan.

”Karena itulah namanya angpao,” beber Crisht

Tidak menampik bahwa masyarakat kadang memberikan penafsiran yang berbeda terhadap angpao, baik dari kalangan keturunan Tionghoa sendiri atau masyarakat Indonesia umumnya. Sebagian masyarakat menganggap memberikan uang tanpa amplop merah juga disebut angpao. Padahal, Crist menjelaskan, pemberian uang saat Imlek seperti itu disebut derma, sama halnya dengan sedekah yang dilakukan umat Islam.

Dalam tradisi Tionghoa, Crist melanjutkan, angpao memiliki tingkat yang lebih tinggi daripada derma. Kebanyakan angpao diberikan kepada keluarga atau sesama warga Tionghoa. Angpao bisa juga diberikan kepada selain warga keturunan Tionghoa, karena itu bentuknya penghargaan.

”Bentuk penghargaan itu bisa dilihat dari amplop merah yang bertuliskan huruf cina yang berpesankan harapan-harapan kesejahteraan,” tuturnya.

Angpao bukan sesuatu yang wajib diberikan saat Imlek. Crist  menyebutkan, hanya mereka yang memiliki kelebihan rezeki saja yang boleh memberikan angpao kepada keluarga yang lain.

”Oleh karena itu dimungkinkan seorang anak yang sudah berkeluarga dan bekerja bisa memberikan angpao kepada kedua orang tuanya yang lebih tua, karena ia memiliki kelebihan rezeki dan mengharap murah rezeki pula,” katanya.

Sebenarnya, memberikan angpao pun memiliki tata caranya sendiri, tak sekadar memberi begitu saja.dirinya memaparkan, sesuai tradisi maka angpao diberikan usai bersembahyang di vihara. Ketika keluarga selesai bersembahyang, semua akan berkumpul di rumah yang paling dituakan seperti rumah orang tua atau kakek-nenek. Semua berkumpul, duduk bersama dengan mengelilingi yang dituakan.

Lanjut warga cina yang dermawan ini melanjutkan, kemudian yang dituakan akan memberikan angpao kepada anggota keluarga yang masih muda, belum bekerja dan menikah sambil mengucapkan selamat tahun baru atau Imlek.Namun memang perkembangannya sekarang, banyak warga keturunan yang kurang memperhatikan hal tersebut,” katanya. (One)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!