Menelusuri Jejak Tionghoa di Bulukumba – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

Menelusuri Jejak Tionghoa di Bulukumba

Diyakini keturunan Tionghoa dari Cina ada di Bulukumba sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia 1945. Dalam sebuah tulisan tentang perjuangan rakyat, kabar kemerdekaan pertama kali sampai ke masyarakat Bulukumba melalui radio keturunan Tionghoa.
ANJAR S MASIGA
Tidak ada yang tahu pasti kapan keturunan Tionghoa masuk dan menetap di daerah bertajuk Butta Panrita Lopi ini. Namun beberapa tulisan mencatat Tionghoa ada di Bulukumba sebelum kemerdekaan. Begitu yang diceritakan Budayawan Bulukumba, Andi Mahrus Andis kepada penulis.
Dari tulisan tentang perjuangan kemerdekaan rakyat Bulukumba menentang penjajahan yang dibacanya, Mahrus bercerita, pengumuman proklamasi kemerdekaan negara ini pertama kali sampai ke telinga masyarakat Bulukumba melalui radio milik Baba Ransung. Baba adalah istilah sebuta untuk laki-laki keturunan Tionghoa.
“Pernah saya dengar cerita bahwa sebelum kemerdekaan RI 1945, keluarga Tionghoa sudah ada di Bulukumba,” katanya.
Masuknya Tionghoa di Bulukumba, tersebar di sejumlah wilayah kota dan kecamatan, termasuk di Tanete. Namun pusat domisili warga keturunan Tionghoa di kota Bulukumba hingga saat ini.
Masuknya keturunan Tionghoa ke Indonesia pada umumnya, kata Mahrus dibuktikan dengan keramik-keramik yang berbentuk berbentuk piring, mangkuk, guci, pasu dan lainnya sering ditemukan di wilayah Indonesia. Keramik-keramik tersebut juga ditemukan di pesisir Lemo-lemo dan sekitarnya adalah salah satu situs peninggalan Dinasti Ming, Cina-Tiongkok sebelum abad ke-16 Masehi. Para pedagang dari Cina memasuki wilayah nusantara dengan membawa barang-barang termasuk keramik untuk dipasarkan di bandar-bandar pelabuhan yang mereka singgahi.
“Namun tidak sedikit pula kapal pengangkut barang mereka tenggelam di dasar laut dan benda-benda keramik tersebut ditemukan oleh penyelam kemudian dijual dengan harga yang mahal,” katanya.
Keramik peninggalan Cina, di Lemo-lemo menurut Mahrus kemungkinannya berasal dari tiga sumber. Ia menguraikan, keramik tersebut mungkin hasil penemuan para penyelam di dasar laut, dimana di tempat itu terdapat bangkai kapal pedagang Cina atau bajak laut yang tenggelam ratusan tahun lalu.
 Kemungkinan lainnya, oleh-oleh yang dibawa pulang para pelaut dari perantauan mereka.
“Bisa jadi juga hadian yang dipersembahkan oleh pendatang (pedagang Cina) sebagai tanda penghargaan kepada tokoh masyarakat setempat,” jelasnya. (*)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!