Begini Sejarah Singkat Kabupaten Sinjai  – Radar Selatan

Radar Selatan

Hot News

Begini Sejarah Singkat Kabupaten Sinjai 

#Terbentuk dari Kerajaan Federasi Tellu Limpoe dan Pitu Limpoe
Kabupaten Sinjai seperti yang telah kita kenal sekarang, dahulu terdiri dari beberapa kerajaan-kerajaan, seperti kerajaan-kerajaan yang bergabung dalam federasi Tellu Limpoe dan kerajaan-kerajaan yang tergabung dalam federasi Pitu Limpoe.
Tellu Limpoe terdiri dari kerajaan-kerajaan yang berada dekat pesisir pantai, yaitu Kerajaan Tondong, Bulo-Bulo, dan Lamatti. Sedangkan Pitu Limpoe adalah kerajaan-kerajaan yang berada di daratan tinggi, yaitu Kerajaan Turungeng, Manimpahoi, Terasa, Pao, Manipi, Suka, dan Bala Suka.
Dalam Lontara susunan raja-raja yang ada di Sinjai pada masa lampau, bahwa yang pertama menjadi raja dan arung ialah Manurung Tanralili, yang kemudian dikenal dengan gelar Timpae Tana atau To Pasaja. Keturunan Puatta Timpae Tana atau To Pasaja merupakan cikal bakal dan pendiri kerajaan Tondong dan Lamatti.
Ada pun kerajaan yang pertama berkembang di wilayah Pitu Limpoe adalah Kerajaan Turungeng. Rajanya seorang wanita yang diperistrikan oleh Putra Raja Tallo. Salah seorang wanita kawin dengan seorang Putra Raja Bone, dari perkawinan ini lahirlah tujuh orang anak, yaitu seorang wanita dan enam orang pria. Anaknya yang wanita kemudian menggantikan ibunya memerintah di Turungeng, sementara yang lain ada di Manimpahoi, Terasa, Pao, Manipi, Suka, dan Bala Suka.
Bila ditelusuri hubungan antara kerajaan-kerajaan yang ada di Kabupaten Sinjai di masa lalu, maka nampaklah dengan jelas bahwa ia terjalin dengan erat oleh tali kekeluargaan yang dalam Bahasa Bugis disebut Sijai, artinya sama jahitannya.
Hal ini lebih diperjelas dengan adanya gagasan dari Lamassiajeng Raja Lamatti X untuk memperkokoh bersatunya antara kerajaan Bulo-Bulo dengan Lamatti dengan ungkapannya “Pasijai Singkerunna Lamatti Bulo-Bulo”, artinya satukan keyakinan Lamatti dengan Bulo-Bulo, sehingga setelah meninggal dunia beliau digelar dengan Puatta Matinroe Risijaina
Eksistensi dan identitas kerajaan-kerajaan yang ada di Kabupaten Sinjai di masa lalu semakin jelas dengan didirikannya benteng pada tahun 1557. Benteng ini dikenal dengan nama Benteng Balangnipa, sebab didirikan di Balangnipa yang sekarang menjadi ibukota Kabupaten Sinjai.
Disamping itu, benteng ini pun dikenal dengan nama Benteng Tellulimpoe, karena didirikan secara bersama-sama oleh tiga kerajaan, yakni Lamatti, Bulo-Bulo, lalu dipugar oleh Belanda.
Tahun 1564 adalah tahun amat bersejarah bagi daerah Sinjai yang diwakili oleh Kerajaan Bulo-Bulo. Ia mendapat banyak kunjungan dari dua kerajaan besar yang sedang berperang dan berebut pengaruh. Hal ini disebabkan karena letak daerah Sinjai yang berada pada daerah lintas batas dan sangat strategis bagi kedua kerajaan, yakni Kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa.
Mengingat bahwa kedua kerajaan yang sedang berperang tersebut mempunyai hubungan kekerabatan dengan kerajaan-kerajaan Sinjai, maka Tellulimpoe dan Pitu Limpoe berupanya untuk tidak memihak atau terlibat dalam perang tersebut. Bahkan dengan penuh kecerdikan dan kearifan, raja-raja di Sinjai berusaha mempertemukan pimpinan kerajaan tersebut agar berunding dan berdamai.
Akhirnya pada bulan Pebruari 1564, Raja Bulo-bulo VI La Mappasoko Lao Manoe Tanrunna berhasil mempertemukan antara Kerajaan Gowa yang diwakili oleh I Mangerai Daeang Mammeta dengan La Tenri Rawe Bongkangnge dari Kerajaan Bone, disaksikan oleh raja-raja lain. Sehingga lahirlah perjanjian perdamaian yang kemudian dikenal dengan Perjanjian Topekkong atau Lamung Patue Ripatekkong.
Disebut Lamung Patue Ripatekkong karena perundingan ini dilaksanakan dengan upacara penanaman batu besar. Bagian batu yang dikuburkan dalam-dalam dimaksudkan sebagai simbol dikuburkannya sikap-sikap keras yang merugikan semua pihak. Sedang bagian batu yang timbul sebagai simbol persatuan yang tidak mudah bergeser.(*)
ISI PERJANJIAN TOPEKKONG
1. Madumme To Sipalalo
Mabelle to Sipasoro
Seddi Pabbanua pada rappunnai
Lempa asefa mappanessa
2. Musunna Gowa musunna to Bone na Tellulimpoe
Makkutopi assibalirenna
3. Sisappareng deceng teng sisappareng ja
Siruni menre teng sirui no
Malilu sipakainge mali siparappe
Artinya:
1) Saling mengizinkan dalam mencari tempat bernaung
Saling memberi kesempatan dalam mencari ikan
Satu rakyat milik kita semua
Kemanalah padinya dibawa itulah yang menentukan
(Kerajaan mana yang dipilihnya)
2) Musuh kerajaan Gowa juga musuh Kerajaan Bone dan Tellulimpoe,
 Demikian pula sebaliknya
3) Saling memberikan kebaikan bukan kejahatan
Saling bantu membantu tidak saling mencelakakan
Yang lupa diri diingatkan, yang hanyut diselamatkan
——-
Masuknya Penjajah Belanda dan Jepang
Tahun 1636 orang Belanda mulai datang ke daerah Sinjai. Kerajaan-kerajaan di Sinjai menentang keras upaya Belanda untuk mengadu domba dan memecah belah persatuan kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi selatan.
Hal ini mencapai puncaknya dengan terjadinya peristiwa pembunuhan terhadap orang-orang Belanda yang mencoba membujuk Kerajaan Bulo-bulo untuk melakukan perang terhadap Kerajaan Gowa. Peristiwa ini terjadi pada hari Jumat tanggal 29 Februari 1639, bertapatan dengan tanggal 22 Ramadan 1066 hijriah. Karena rakyat Sinjai tetap berpegang teguh pada perjanjian Topekkong.
Tahun 1824, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van der Capellen datang dari Batavia membujuk I Cella Arung Bulo-bulo XXI agar menerima Perjanjian Bongaya dan mengizinkan Belanda mendirikan Loji atau Kantor Dagang di Lappa tetapi ditolak dengan tegas. Belanda menyerang Sinjai di bawah komando Jenderal Van Green dan Kolonel Biischaff. Pasukan Sinjai di bawah pimpinan Andi Mandasini dan Baso Kalaka berhasil memukul mundur pasukan Belanda.
Tahun 1859 Belanda dengan dipimpin Jenderal Van Swiaten kembali mengadakan serangan besar-besaran ke Sinjai, baik melalui laut maupun darat. Oleh karena kekuatan yang tidak seimbang maka akhirnya Sinjai direbut Belanda.
Tanggal 15 Nopember 1861, berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sulawesi dan Daerah, takluknya wilayah Tellulimpoe Sinjai dijadikan satu wilayah pemerintahan dengan sebutan Goster Districte.
Tanggal 24 Februari 1940, Gubernur Grote Gost menetapkan pembagian administratif untuk daerah timur termasuk Residensi Celebes, dimana Sinjai bersama-sama beberapa kabupaten lainnya berstatus sebagai Onther Afdeling Sinjai terdiri dari beberapa Adats Gemenchap, yaitu Cost Bulo-bulo, Tondong, Manimpahoi, Lamatti West, Bulo-bulo, Manipi dan Turungeng. Pada masa pendudukan Jepang, struktur pemerintahan dan namanya ditata sesuai kebutuhan Bala Tentara Jepang yang bermarkas di Gojeng.
Dalam kancah perjuangan kemerdekaan menegakkan Proklamsi 17 Agustus 1945, rakyat Kabupaten Sinjai membentuk berbagai organisasi perlawanan seperti Sumber Darah Rakyat atau Saudara, Kris Muda, dan lain-lain. Pantai-pantai yang ada di Sinjai menjadi transit bagi para pejuang kemerdekaan yang akan ke Jawa dan sebaliknya.
Tanggal 20 Oktober 1959 Sinjai resmi menjadi Kabupaten berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1959. Tanggal 27 Februari 1960, Abdul Latif dilantik sebagai Kepala Daerah Tingkat II Sinjai yang pertama.
Kini Kabupaten Sinjai terus berkembang menuju masa depan yang cerah dengan mottonya “ SINJAI BERSATU “ (Bersih, Elok, Rapi, Sehat, Aman, Tekun dan Unggul). Untuk itu dengan semangat Hari Jadi Sinjai Ke-454 kita perkokoh Persatuan dan Kesatuan. Mari kita tanamkan jiwa dan semangat bersatu, sehinggah tercipta ketertiban dan keamanan dalam berbagai sektor. (*)
Sampai saat ini Bupati Sinjai yang telah bertugas di Kabupaten Sinjai adalah sebagai berikut :
1. Abdul Lathief (1960–1963)
2. Andi Asikin (1963–1967)
3. Drs. H. M. Nur Thahir (1967–1971)
4. Drs. H. Andi Bintang (1971–1983)
5. H. A. Arifuddin mattotorang, SH. (1983–1993)
6. H. Moh. Roem, SH., M.Si. (1993–2003)
7. Andi Rudiyanto Asapa, SH., LLM. (2003–2013)
8. H. Sabirin Yahya, S.Sos. (2013-Sekarang)
—–

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!