PDAM ‘Sakit’, Dirut: Perusahaan ini Bisa Bangkit !! – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

PDAM ‘Sakit’, Dirut: Perusahaan ini Bisa Bangkit !!

Muh. Nur Plt. Dirut PDAM Bulukumba
BULUKUMBA, RADAR SELATAN.CO.ID — Pelaksana tugas (Plt) Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bulukumba, H Muh. Nur, menyebut kondisi perusahaan daerah yang belum lama ini di pimpinnya dalam kondisi ‘sakit’ bertahun-tahun lamanya. Meski begitu, dengan amanah baru yang diberikan kepadanya, dia optimistis PDAM Bulukumba mampu bangkit dan memberikan pelayanan prima bagi pelanggangnya.
Ditemui di kantornya, Mantan Kabag Umum Pemkab Bulukumba ini menjelaskan, kondisi PDAM selama ini tidak berjalan seperti diharapkan. Hal itu dikuatkan dengan manajemen yang kurang baik sehingga berimplikasi pada tidak maksimalnya pelayanan kepada pelanggan.
Di internal sendiri, lanjut H. Muh. Nur, persoalan lainnya yang tak kalah kronis yaitu keterlambatan gaji yang kerap dialami 54 karyawan yang bekerja pada perusaan tersebut. Tidak sampai di situ, selain ketidaklayakan pipa air dan mesin bor, kondisi juga diperparah ketidakseimbangan antara biaya oprasional dan pemasukan atau tagihan air.
“Yah, bagaimana bisa lancar tagihan air karena memang pelayanan air kita belum maksimal, harus diakui itu. Masih banyak rumah warga yang tidak normal dialiri air, itu karena kualitas alat yang sudah tua. Bayangkan pompa dan banyak pipa pipa kita masih tahun 1982,” jelas H Muh Nur, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis 22 Maret 2018, kemarin.
Mantan Plt. Kadis Sosial Bulukumba ini menjelaskan, kondisi pompa air yang ada saat ini dinilai tak mampu lagi mengimbangi tingkat konsumsi air masyarakat. Untuk pelanggan dalam kota saja, sebanyak 4.119 kepala keluarga yang dilayani, harusnya mesin pompa normalnya memproduksi air 20 liter per detik, namun hanya mampu mempompa 5 liter per detik saja.
Pada dasarnya, Nur mengakui Bulukumba memiliki cukup sumber air untuk disuplai, bahkan tiga titik pompa air di antaranya Barabba, Lotong-lotong, dan Karassing pada dasarnya cukup bisa menyumpal. Ketiga sumber ini ini mampu mengairi 7.000 lebih pelanggang. Hanya saja perlalatan mulai dari pompa air dari hulu ke hilir yang perlu peremajaan secara total.
“Perlengkapan kita semuanya barang lama sudah puluhan tahun. Tidak hanya itu, coba lihat inventaris kantor kita ini rata-rata dianggarkan 20 tahun lalu. Tapi ini bukan kendala, saya optimis betul PDAM bisa berbenah. Justru ini yang memacu saya untuk berbuat dan membangkitkan perusahaan yang ‘sakit’ ini,” terangnya.
Rasa optimistis itu muncul lantaran sejak diberikan amanah sebagai pimpinan, sejumlah tunggakan sepeninggalan pimpinan sebelumnya sedikit demi sedikit dituntaskan. Di antaranya piutang ke Induk Koperasi Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (INKOPAMSI) senilai Rp 130 juta lebih, yang saat ini tinggal menyisahkan utang Rp 30 juta saja.
Tidak hanya itu, tunggakan pajak PDAM tahun 2011-2013, sebesar Rp 29 Juta dan nilai denda Rp 21 juta juga telah dilunasi. “Jujur saya masuk disini kaget. Harus saya akui manajemen yang kurang terkelola dengan baik, tapi sedikit-sedikit SDM kita terus kita perbaiki. Karena bagaimana bisa kinerja baik karyawan tetap dan honor bagus kalau pengajiannya saja terlambat. Ternyata selama beberapa tahun belakangan gaji karyawan itu selalu terlambat, dan alhamdulillah setelah saya masuk, sudah lebih baik,” akunya.
Meski begitu, Muh. Nur mengakui dirinya tak akan bisa mampu berimprovisasi lebih banyak jika tak didukung dengan sumber daya yang ada, mulai dari ketersediaan pompa baru dan dukungan anggaran dari pemerintah. Pada dasarnya banyak hal yang bisa dimaksilkan oleh PDAM, seperti menambah jumlah pelanggang dengan banyaknya perumahan, termasuk suplai air ke kawasan Bira yang memiliki tingkat konsumsi air yang cukup banyak.
Sementara untuk komposisi direksi PDAM, lanjut Nur, diakuinya belum diramu lantaran posisinya masih berstatus pelaksana tugas. Ke depannya untuk memperbaiki manajemen PDAM, pihaknya bersama instansi terkait akan menggodok dewan pengawas PDAM.
“Air ini sumber kehidupan, kita sangat bergantung. Kalau kualitas dan pelayanan kita bagus maka pelanggang yang mencari kita. Tapi saya optimis perusahaan ini bisa bangkit apalagi setelah ada perda peyertaan modal, dan pemerintah daerah akan memberikan dukungan penuh. Perusahaan ini bisa kita kelola lebih profesional dan akuntabel,” tegasnya.
Terpisah, Kabag Umum PDAM Bulukumba, Zulhaidin menerangkan, untuk tahun 2016 saja PDAM dalam kondisi semerawut, mulai dari tidak berimbangnya antara biaya operasional dan pendapatan. Tidak hanya tunggakan listrik, gaji karyawan termasuk dirinya sebagai pejabat PDAM kerap tak tepat waktu dalam pengajian.
Setiap bulannya saja, lanjut dia, PDAM harus membayar beban listrik sebesar Rp 90 juta lebih, begitu pun gaji dan honor seluruh karyawan dikisaran Rp 80 juta lebih. Sedang PDAM hanya mampu mengumpulkan tagihan pelanggan tak sampai Rp 100 juta. Meski begitu, ia mengakui, pasca Masuknya, H Nur sebagai
PLt Dirut PDAM, perusahaan tersebut sudah mulai bangkit.
“Alhamdulillah sekarang sudah mulai membaik, bahkan tagihan kita per bulan sudah sampai Rp 200 juta. Gaji juga sudah mulai lancar. Tapi bagaimana pun kondisi ini relatif dan tidak akan maksimal jika tidak ada pompa baru dan peremajaan alat PDAM,” tambahnya. (fajar)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!