Siapa Penanggung Jawab Proyek Papan Panjat Tebing Senilai Rp 280 Juta? – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

Siapa Penanggung Jawab Proyek Papan Panjat Tebing Senilai Rp 280 Juta?

SISA RANGKA. Beginilah kondisi menara papan panjat tebing yang terlatk di GOR Bulukumba. Sarana olahraga ini menelan biaya Rp 280 juta dan dibangun pada 2016 lalu, namun kondisinya sudah rusak parah.

Kadispora dan Kabag Umum Saling Tuding

Reporter: Rakhmat Fajar

BULUKUMBA, RADARSELATAN.CO.ID  — Proyek papan panjat tebing senilai Rp 280 juta bersumber dari APBD Kabupaten Bulukumba tahun 2016 yang diduga bermasalah semakin simpang siur. Kabag Umum Setdakab, A Gatot dan Kadispora, A Asrar Amir saling lempar terkait penganggung jawab proyek tersebut.

Asrar yang ditemui di kantor Inspektorat Bulukumba mengatakan, tersebut bukan porgram Dispora yang yang kala itu masih satu naungan dengan Dinas Pendidikan. Menurtunya, proyek tersebut milik Bagian Umum Setdakab Bulukumba. Meski begitu, pemanfaatannya tetap dikembalikan ke Dispora sebagai pengelola.

“Itu proyek Bagian Umum, tapi kami di Dispora yang memanfaatkan. Kan itu sarana olahraga dan kita sebagai instansi yang menaungi olahraga. Tidak salah kalau ada pihak yang menangapi bahwa ini proyek kami. Tapi perlu kami klarifikasi, ini bukan kita yang kerjakan tapi Bagian Umum waktu itu Disdikpora masih satu (naungan),” jelasnya, Kamis 12 April 2018.

Asrar mengakui saran alahraga tersebut tidak bisa difungsikan karena kondisinya yang rusak. Dia berharap ada pembenahan agar dapat dimanfaatkan para atlet untuk latihan menjelang pelaksanaan Pekan Olahraga Daerah (Porda). Apalagi belum lama ini atlet panjat tebing Bulukumba berhasil menorehkan prestasi membanggakan di Porda Sinjai.

“Kalau Inspektorat turun memeriksa, yah silahkan saja kan ranahnya mereka. Intinya proyek itu bukan kami yang kerjakan tapi pemanfaatanya kami yang kelola,” tegasnya.

Sementara itu, A Gatot yang dikonfirmasi juga membantah proyek tersebut program Bagian Umum Setda, tapi Disdikpora tahun 2016 lalu sebelum dipecah menjadi dua instansi. Sebagai ketua Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Bulukumba, dia membantah papan panjat tebing tersebut tidak bisa digunakan.

Dia mengaku pihaknya sengaja membongkar papan panjatnya untuk diganti. “Disdikpora dulu 2016 lalu. Keliru itu, karena masih Disdikpora,  belum terpisah dengan Dispora. Bukan Bagian Umum yang punya proyek. Sengaja saya suruh bongkar dulu itu papannanya daripada tambah hancurki. Nanti saya suruh pasang kembali kalau mau dipake latihan pada saat mau porda bulan sembilan (September, red), kebetulan saya ketuana FPTI. Bukan kayu tapi multipleks namanya,” dalihnya.

Terpisah, Ispektur Pembantu (Irban) IV Inspektorat Bulukumba, Nuryanto, yang ditemui di ruang kerjanya enggan berkomentar banyak terkait proyek tersebut. Dia menyarangkan wartawan agar mengonfirmasi langsung ke kepala Kantor Inspektorat.

“Secara umum kita melakukan pemeriksaan berkala. Setiap laporan akan kita tindaklanjuti tapi tergantung kebijakan pimpinan,” singkatnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun RADAR SELATAN di Kantor Inspektorat, proyek papan panjat tersebut diketahui awalnya telah dipertanyakan pihak Inspektorat lantaran dinilai tak begitu penting pemanfaatanya. Sementara penelusuran RADAR SELATAN di lokasi papan panjat, kondisinya sangat memprihatinkan.

Seluruh papan yang terbuat dari tripleks terlepas dan berhamburan di sekitar menara. Kondisi ini tentu memunculkan tanda tanya, karena jika dibandingkan dengan sarana olahraga yang sama di Kabupaten Bantaeng dan Sinjai dibangun beberapa tahun lalu hingga kini tetap kokoh. Bahan papan yang digunakan pun berbeda, yakni fiber.

Sebelumnya, Ketua Komisi D DPRD Bulukumba, Muhammad Bakti mencurigai adanya penyalahgunaan anggaran pada proyek tersebut. Pasalnya, belum genap setahun sarana olahraga tersebut sudah rusa dan tidak dapat dimanfaatkan sama sekali.

“Setelah saya turun memantau langsung ternyata memang kondisinya sangat memperhatinkan. Bahkan sudah hampir habis platnya (dindingnya). Makanya proyek ini memang harus diusut jangan sampai buang-buang anggaran,” kata Bakti, Selasa, 13 Maret 2018 lalu.

Padahal kata dia, proyek olahraga terebut dianggarka melalui dana APBD pokok dan perubahan tahun 2016 dengan total anggaran Rp 280 juta. “Saya perhatikan dindingnya menggunakan bahan tripleks, padahal seharusnya pakai fiber. Nah ini yang muncul kecurigaan adanya kesalahan pengerjaan,” ungkap politikus Gerindra ini. (*)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!