Pemuda Ara Nilai Ada Pengaburan Sejarah Pinisi – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

Pemuda Ara Nilai Ada Pengaburan Sejarah Pinisi

ANJAR S MASIGA/RADAR SELATAN Pengunjuk rasa menyampaikan orasi di depan Kantor Bupati Bulukumba dan Bundaran Pinisi, kemarin. Mereka menyampaikan kekewaan kepada pemkab atas pengaburan sejarah Pinisi.
* Wabup: Sudah Tercantum dalam Dokumen Unesco
BULUKUMBA, RADAR SELATAN.CO.ID  — Solidaritas pemuda dan mahasiswa Bulukumba berunjuk rasa di depan Kantor Bupati Bulukumba, Senin 16 April. Mereka menilai ada upaya pengaburan sejarah terkait asal muasal terciptanya kapal legendaris dunia tersebut.
Salah seorang pengunjuk rasa, Adrian Adiwinata mengatakan, pengakuan Unesco terhadap Pinisi sebagai warisan dunia takbenda yang ditetapkan di Korea Selatan beberapa bulan lalu merupakan kebanggaan masyarakat Indonesia khususnya Bulukumba. Hanya saja menurutnya, upaya pemerintah mengenalkan Pinisi dianggap tidak sesuai dengan sejarah, karena perajin Pinisi yang mayoritas dari Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, dilupakan.
Melihat hasil perjuangan pemerintah mengenalkan Pinisi saat ini, lanjut Adrian, terkesan tidak memiliki dasar sejarah. Pemerintah dengan bangga memasang lambang Pinisi pada seragam dinas ASN (Aparatur Sipil Negara). Namun di sisi lain tidak memikirkan Panrita Lopi yang terus berusaha menjaga kelestarian Pinisi. Perajin yang terus bekerja untuk melahirkan Pinisi meskipun upah sebagai pekerjaan tidak menjamin kesejahteraan.
“Penyerahan sertifikat Pinisi dari Unesco oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan kepada pemerintah daerah berbau politik. Kami meminta wakil bupati melakukan klarifikasi terkait kegiatan di Pelabuhan Bontobahari, di mana Ara hampir tidak disebutkan,” sesalnya.
Adrian menegaskan, keberadaan Pinisi saat ini penuh perjuangan dari perajin, penuh cucuran keringat, darah, dan air mata. Aksi ini sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah tanpa indikasi unsur politik dan asas kepentingan.
Bahkan perajin sebagai orang tua dari pemuda Ara yang membesarkan anak-anaknya dan menyekolahkannya dari upah yang tidak banyak untuk terlepas dari tradisi pembuatan Pinisi. Wakil Bupati, Tomy Satria Yulianto, kata Adrian, tak menyadari hal itu, padahal beberapa kali berkunjung ke Mandala Ria, bahkan pada kesempatan diskusi berjanji untuk perbaikan jalan.
“Ilmu pengetahuan Pinisi itu sendiri, Annata, Ambussi, Anyyorong, hanya orang Ara pada dasarnya yang tahu baca-baca (mantra, red) soal Pinisi. Pinisi warisan budaya yang perlu dihargai dan dihormati. Tidak lepas dari segitiga bermuda, salah satu otak dan pelopor Pinisi bagaimana Pinisi tercipta adalah Ara,” paparnya.
Sementara itu, koordinator aksi, Reynal menambahkan, kekecewaan pemuda Ara terhadap pemerintah karena Ara sebagai tanah kelahiran Pinisi hampir tidak disebutkan selama prosesi kegiatan berlangsung. Kekecewaan lainnya, lanjut dia, nama Ara sebagai bagian dari Pinisi tidak tercantum dalam situs resmi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, apalagi situs Unesco.
Jika kekecewaan masyarakat ini tidak mendapatkan respons dari pemerintah daera, Reynal mengancam akan melakukan aksi yang lebih besar di Makassar. Dia mengancam akan melakukan aksi tutup jalan di Jalan Alauddin Makassar dengan massa yang lebih banyak.
“Jika tidak diperdulikan, kami akan melakukan penelitian ilmiah yang hasilnya akan dikirim ke Unesco untuk meninjau kembali dasar dari Pinisi sebagai warisan tak benda,” katanya.
“Kami minta pemkab untuk mengklarifikasi ini,” tambah demonstran lainya, Afriansa.
Menanggapi hal itu, Wakil Bupati Bulukumba, Tomy Satria Yulianto menjelaskan, tak ada yang melupakan Ara. Hanya saja pada penyerahan sertifikat tak lagi bercerita soal asal muasal dari Pinisi karena dianggap sudah tuntas. Dalam dokumen pengajuan Pinisi sebagai warisan dunia takbenda ke Unesco sudah tertera tiga komunitas yang berkontribusi yakni Lemo-lemo, Ara, dan Bira.
“Bukan mi waktunya memperdebatkan itu karena sudah selesai, tuntas. Semua orang mengakui bahwa kekayaan intelektual, pengetahuan atau kearifan lokal Pinisi dikembangkan dan dikontribusikan oleh tiga komunitas ini,” terangnya.
Tomy menegaskan, dalam dokumen lontara yang disusun pada 2014, pemerintah memahami Panre Patangarana Bira, Passingkuluna tu Arayya, dan Pabingkunna tu Lemo-lemoa. Menuutnya, tidak ada niat untuk mengabaikan peran dari tiga komunitas tersebut. Dokumen yang diajukan ke Unesco pada 2014 lalu juga menyebutkan beberapa kali nama ketiganya.
“Penyerahan Pinisi baru-baru ini lebih pada mengagungkan Pinisi sebagai peradaban Bulukumba. Dis itu sebenarnya semangatnya. Di situ persembahannya orang Ara, persembahanya orang Bira, Persembahannya orang Lemo-lemo untuk Bulukumba,” tegasnya. (Anjar)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!