Kafe di Bira Penyumbang HIV Terbanyak di Bulukumba – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

Kafe di Bira Penyumbang HIV Terbanyak di Bulukumba

Pendamping Odha, Tengku saat memberikan materi terkait bahaya HIV/Aids pada pelatihan dai dan jurnalis peduli HIV/Aids yang dilaksanakan KPA Bulukumba
#Praktik Prostitusi Berkedok Hiburan Malam
BULUKUMBA, RADAR SELATAN — Data Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Bulukumba kasus HIV/Aids hingga kini tercatat 231 kasus yang tersebar di sepuluh kecamatan. Jika dipresentasikan berdasarkan jumlah penduduk tertinggi di Kecamatan Bontobahari dengan 86 kasus.
Pengelola Program Penangulangan HIV/Aids, Harni mengatakan, hampir semua wilayah yang terurai dalam desa dan kelurahan memiliki sebaran kasus. Penularang terbanyak human immunodeficiency virus penyebab AIDS ke dua di Kecamatan Ujung Bulu.
Penderita tertua berada di usia 50-an. Dari kasus tersebut penularang terbanyak melalui hubungan seks yang berdampak dari satu pengidap ditularkan kepada keluarganya.
Menyinggung soal seks, tidak jauh dari lokasi kafe di Bira. Meskipun diingkari menjadi tempat prostitusi, namun faktanya memberikan kontribusi besar terhadap penularan virus penyebab Aids.
“Memang izinnya bukan prostitusi tapi mereka melakukan. Itu orang luar dan paling dekat terakhir kita dapat dari Sinjai, ada juga dari Enrekang, Makassar, dan Jawa,” ungkapnya pada kegiatan pelatihan Dai dan Jurnalis Peduli HIV/Aids, kemarin.
Harni membeberkan, penularan HIV oleh WPS (Wanita Pekerja Seks) yang terjadi di Bulukumba cukup memprihatinkan. Meskipun mengetahui dirinya HIV positif aktif tetapi masih memberikan pelayanan tanpa kondom. Alat pengaman seperti kondom memang bukan untuk melegalkan perzinahan tetapi untuk mencegah penularan akibat seks bebas.
“Ini bukan pilihan pertama, tetap setia pada pasangan bagi yang sudah menikah, tidak melakukan seks bagi yang belum menikah tetapi jika itu terjadi harus menggunakan kondom,” jelasnya.
Penularan HIV, lanjut Harni terjadi setiap hari di Bira. Dari 132 WTS yang dites di antaranya positif tertular HIV yang tetap melayani, bisa sampai dua laki-laki tanpa pengaman.
Bahkan di akhir pekan wanita tertular dapat melayani empat sampai lima orang dari pagi sampai pagi. Sebagian pelanggan dari luar daerah seperti petani yang baru saja panen. Kunjungannya tentu rekreasi bersama keluarga, tapi istri dan anak asik di pantai, suami asik karoke di kafe.
“Kalau lokal itu (penerima layanan seks) ada juga tapi rata-rata pacar (WTS), kemudian pelanggan tetap,” katanya.
Menjawab pertanyaan peserta terkait kelayakan pelayanan WPS di Bira, Harni menegaskan, semuanya masuk kategori tak layak. Beberapa terinfeksi merupakan pekerja seks yang pensiun dari tempat sebelumnya. Seperti dari Papua, maupun tempat prostitusi lainnya di luar daerah. Namun di Bira cukup laku karena masih terlihat cantik dan semok.
“Kalau soal layak tidak ada yang layak pakai sih,” tegasnya.
Pemateri lainnya, Staf Ahli Bupati Bulukumba, Andi Mahrus Andis mengatakan, dalam upaya memerangi penularan HIV dapat dilakukan melalui pendekatan kearifan lokal sebagai benteng pertahanan diri. Untuk mengindahkan dari prilaku penyimpangan, pesan-pesan leluhur dalam lontara Bugis-Makassar menanamkan ajaran moralitas Siri na Pacce.
“Artinya memiliki rasa malu dan memiliki tenggang rasa untuk menyelamatkan manusia. Takut kepada Allah dan malu kepada diri sendiri,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Bulukumba, dr. Gaffar mengatakan, dalam memerangi HIV/Aids, merupakan tugas pemerintah bersama stakeholder tekait dan masyarakat. Melalui pelatihan itu, diharapkan tak hanya menjadi bekal untuk peserta namun dapat menjadi ruang positif untuk membantu pencegahan dengan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman.
“Upaya pencegahan melalui kegiatan pendekatan agama. Dai dan jurnalis diharapkan mampu memberikan pencerahan untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat,” ujarnya. (*)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!