Peneliti Pinisi Tulis Surat Terbuka untuk Pemkab – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

Peneliti Pinisi Tulis Surat Terbuka untuk Pemkab

M Arief Saenong
BULUKUMBA, RADAR SELATAN.CO.ID  — Pemerhati sekaligus peneliti Pinisi, M Arief Saenong menulis surat terubuka untuk Pemerintah Kabupaten Bulukumba. Surat tersebut berisi keprihatinan dan fakta-fakta akan sejarah Pinisi.
Dalam suratnya, Arief menuliskan kebahagiaan dan kebanggaannya atas penetapan Pinisi sebagai warisan dunia takbendar oleh Unesco dibuktikan dengan sertifikan “Pinisi Art Of Boat Building in South Sulawesi Selatan”. Sertifikat tersebut menjadi bukti betapa karya leluhur masyarakat Bulukumba yang diwujudkan dalam kapal Pinisi telah mendapatkan pengakuan dari dunia internasional.
Namun kebanggaan tersebut sekaligus menjadi kekecewaan bagi komunitas panrita lopi khususnya warga Desa Ara, Kecamatan Bontobahari. Pasalnya, penganugerahan cindermata kepada maestro panrita lopi pada penyerahan sertifikat Unesco melalui Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid beberapa waktu lalu tak satupun di antaranya panrita lopi dari Ara.
Arief yang kerap menjadi narasumber pada setiap seminar yang membahas sejarah Pinisi mengaku hal tersebut merupakan bentuk penistaan pemarjinalan pihak tertentu. Sementara di sisi lain ada pihak yang seolah-olah diistimewakan.
“Ini adalah merupakan pengaburan fakta sejarah yang perjalanan Pinisi itu sendiri, sebagimana diketahui selama ini bahwa yang pertama melahirkan karya budaya Pinisi adalah orang Aram,” tulisnya dalam surat tersebut.
Arief memaparkan, Dr. Usman Delly dalam bukunya “Ara Dengan Perahu Bugisnya” yang diterbitkan pada tahun 1975, dengan tegas menyatakan ahli membuat Pinisi di kawasan suku Bugis-Makassar ialah orang Ara. Pernyataan yang didukung dengan data-data tersebut menyebutkan keahlian membuat perahu Pinisi dimonopoli komunitas Ara sampai akhir tahun 1970-an.
“Dengan demikian nama Pinisi yang melayani perairan Nusantara adalah bikinan orang Ara dan keahlian tersebut tetap ditekuni sampai dewas ini,” tambahnya.
Menurutnya, peristiwa yang mengecewakan tersebut seharusnya tidak perlu terjadi andaikata pihak penyelenggara bertindak bijak dan pandai-pandai mengakomodir peran semua pihak (Ara dan Tanah Lemo) seabagi pembuat perahu Pinisi. Dengan demikian dua komunitas panrita lopi (Ara dan Tanah Lemo) yang kini tetap menekuni profesi mereka, tetap berada dalam satu koridor dan bingkai kebersamaan dalam satu profesi sebagai pembuat perahu Pinisi.
.
Seperti yang diungkapkan Dr. Umar Khayan (budayawan) dalam Majalah Tempo tahun 1990, lanjut Arief, Ara, Tahan Lemo, dan Bira adalah pelestari Pinisi yang diwarisi dari Saweregading. Orang Ara dan Tanah Lemo sebagai pembuat perahu pinisi dan orang Bira adalah pelaut ulung yang melayarkan Pinisi.
“Ini fakta sejarah yang harus saya sampaikan kepada publik khususnya pemerintah agar semuanya jelas. Saya tidak ingin gara-gara kesalahpahaman tentang sejarah Pinisi, kita terkotak-kotakkan oleh kepentingan yang tidak bertanggung jawab. Saya siap memaparkan fakta-fakta sejarah didukung dengan referensi hasil penelitian jika ada yang ingin berdiskusi soal sejarah Pinisi,” tutupnya. (sum/man/b)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!