MUI: Bisnis Esek-esek Rusak Moral  – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

MUI: Bisnis Esek-esek Rusak Moral 

KH Tjamiruddin Ketua MUI Bulukumba
BULUKUMBA, RADAR SELATAN.CO.ID  — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cabang Bulukumba, bereaksi temuan Komisi Penangulangan HIV/Aids (KPA) yang menyebut kafe di Bira menjadi penyumbang HIV/Aids terbanyak. Secara tegas, MUI menegaskan, bisnis “lendir” yang diduga marak di kawasan wisata tersebut merusak moral masyarakat.
Ketua MUI Bulukumba, KH Tjamiruddin, mengatakan, data KPA menjadi catatan buruk bagi Bulukumba yang selama ini dikenal dengan perda keagamaanya. Selain merusak moral dan akhlak generasi, praktik “esek-esek” juga akan berimplikasi lahirnya perbuatan yang amoral yang bertentangan dengan ajaran Islam termasuk pelanggaran pidana.
Tidak hanya itu, dari pandangan agama semakin banyaknya kerusakan dan maksiat yang terjadi dalam suatu daerah akan menjadi bom waktu yang nantinya akan memunculkan bencana. Sesuai firman Allah dalam surat Asy Syura ayat 30, yang artinya “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri”.
“Adanya banjir dan bencana lainnya itu karena teguran tidak langsung dari Pencipta. Saya kasi contoh, pengelolaan lingkungan yang tidak bijak akan mengakibatkan longsor atau banjir. Begitu juga dengan seringnya maksiat, maka cepat atau lambat akan ada teguran, setiap akibat ada sebabnya,” kata Tjamiruddin.
Dia berharap seluruh pihak bersama-sama menjaga alam dan lingkungan dari kerusakan dengan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agama. Pemerintah daerah juga diminta lebih aktif dalam melakukan pengawasan, khsusunya terkait izin kafe dan pengawasan melekat dalam rangka meminimalisir terjadinya tindakan amoral khususnya di kawasan Bira.
KH Tjamiruddin mengingatkan, sebagai warga Bulukumba patutnya berbangga dan bersyukur dengan nikmat potensi luar biasa yang diberikan Allah Swt. Tinggal bagaimana mengelola dengan baik karunia tersebut, bukan dengan cara melakukan ekspolitasi apalagi praktek amoral.
“Kami juga berencana akan berkomunikasi dengan pemerintah untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan. Kalau ada kafe yang macam-macam tutup saja, apalagi kita sudah mau memasuki bulan Ramadan,” imbuhnya.
Diberitakan sebelumnya, KPA Bulukumba merilis data kasus HIV/Aids telah mencapai 231 kasus yang tersebar di sepuluh kecamatan. Dari jumlah tersebut, sebagian besar penularan terjadi di Kecamatan Bontobahari dengan 86 kasus.
Penularan melalui seks diduga terjadi di sejumlah kafe di kawasan wisata Bira yang berkedok hiburan malam. Meskipun diingkari menjadi tempat prostitusi, namun faktanya memberikan kontribusi besar terhadap penularan virus penyebab Aids.
“Memang izinnya bukan prostitusi tapi mereka melakukan. Itu orang luar dan paling dekat terakhir kita dapat dari Sinjai, ada juga dari Enrekang, Makassar, dan Jawa,” ungka Pengelola Program Penangulangan HIV/Aids, Harni pada kegiatan pelatihan Dai dan Jurnalis Peduli HIV/Aids, Senin 23 April lalu. (faj/man/b)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!