Pengamat: NA Unggul Karena Figur  – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

Pengamat: NA Unggul Karena Figur 

REPORTER: RAKHMAT FAJAR
BULUKUMBA, RADAR SELATAN.CO.ID — Indikator keterpilihan kandidat yang berlaga di kontestasi politik sepertinya tak lagi dipengaruhi partai politik pengusung. Fakta tersebut terjadi pada Pilgub Sulsel 2018 yang menempatkan pasangan Prof. Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (NA-ASS) unggul pada perolehan suara sementra.
Diketahui, pasangan nomor urut 3 ini diusung tiga partai besar, di antaranya PDIP, PKS, dan PAN. Namun untuk skala Sulsel, tiga partai tersebut tak begitu populer di kalangan masyarakat dibandingkan Golkar.
PDIP misalnya, yang diketahui tak memiliki basis massa yang jelas di Sulsel, berdahal di Pulau Jawa. Nyatanya, kondisi tersebut membalikkan matematika politik dengan kemenangan NA-ASS yang diusung partai berlambang banteng itu.
Pengamat politik Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (STISIP) Muhammadiyah Sinjai, Dr. Hermansyah, mengatakan, pada dasarnya indikator kemenangan kandidat dalam suatu kontestasi tak bisa terlepas dari kerja partai pengusung dan pendukung. Meski begitu, kerja mesin partai menjadi agak sulit jika tak ada nilai lebih yang dimiliki figur yang diusung sehingga sulit “dijual” ke masyarakat.
“Biar mesin partai bagus tapi tak ada nilai jual dari figur si kandidat, yah agak sulit juga. Dan NA memiliki sosok figur itu. Kemenangan NA, di samping sebagai figur yang sederhana, kerja-kerja partai dan tim sukses yang amat membanggakan,” katanya, Senin 2 Juli 2018.
Selain itu, meski NA terbilang baru berkiprah di dunia politik dan sebelumnya tidak masuk dalam jajaran kepengurusan salah satu partai, sosok NA dinilai lebih cepat dan mampu mementaskan dirinya sebagai figur yang diingingkan mayoritas warga Sulsel. Ia menilai untuk bisa memenangkan pertarungan, para kandidat harus memiliki kedekatan individu dengan para tokoh masyarakat yang baik di samping memiliki kemampuan negoisasi dengan lembaga lain yang baik, komitmen dengan kerja keras serta visi yang realistis.
“Dan NA memiliki itu. Saya tidak melihat warga memilih karena latar belakang partainya apa, tapi figur memang. Bahkan partai apa pun yang usung, saya kira NA ini lebih baik jualannya,” paparnya.
Terakhir Hermansyah menilai, keunggulan NA meski belum menjadi keputusan resmi KPU, menunjukkan masyarakat Sulsel telah cerdas memilih. Masyarakat menentukan pilihanya dengan berdasar pada kecamat realisitis dan rasional dalam memilih pemimpinnya.
“Jadi keterpilihan NA atas dukungan masyarakat menunjukkan bahwa kecerdasan masyarakat menginginkan adanya perubahan politik yang berorientasi kerja yang nyata. Bukan sekedar janji dan rencana saja, tetapi komitmen moral, komitmen politik dan keinginan membangun atas kebersamaan rakyat. Jadi bukan pengaruh partai. Seluruh kandidat figurnya mempuni, tapi NA lebih memiliki tempat di hati masyarakat,” pangkasnya.
Hal senada juga di sampaikan, Direktur Lingkar Data Indonesia, Irwan Ali. Menurutnya pada kemenangan NA dinilai terdapat jejak kerja partai. Tetapi menyebut keberadaan parpol sebagai sebab utama kemenangan, dinilainya kurang pas. Sebab faktanya, NA menang karena jauh sebelumnya ia telah menyiapkan dan menata citranya di mata masyarakat Sulsel.
“Terlepas dari pro kontra soal substansi kemajuan yang dicapai Bantaeng, mayoritas masyarakat menganggap itu sebagai jejak kinerja dan rekam jejak yang dinilai sukses sebagai masyarakat,” terangnya.
Menurutnya, dari empat kandidiat yang ada, hanya NA yang dinilai telah menyiapkan citranya sejak awal, sehingga membangun opini tentang keberhasil NA mempin daerah yang kemudian menjadi konsumsi publik yang pada akhirnya menjadi indikator pemilih menjatuhkan pilihan.
“Dari Pilgub Sulsel, pesan yang dapat dibaca adalah adanya peningkatan literasi politik masyarakat. Mereka mulai menimbang bahwa seorang kandidat tidak hanya cukup dengan baliho dan uang, tapi juga rekam jejak. Ini semacam warning. Olehnya itu politisi dan parpol mesti menyesuaikan diri dengan kondisi perubahan perilaku politik masyarakat,” tutup Irwan Ali.
Sementara itu, hingga malam tadi website resmi KPU https://infopemilu.kpu.go.id/pilkada2018, belum dapat diakses. Padahal sebelumnya, aplikasi hitung (Situng) tersebut dibuat untuk memudahkan masyarakat memantau proses perhitungan suara dengan berdasar pada model C1 di seluruh daerah di Indonesia.
Namun KPU meminta masyarakat untuk tetap bersabar dan menunggu hasil perhitungan manual (real count) yang sementar  berjalan. Berdasarkan tahapan Pilkada sesuai Peraturan KPU Nomor 1 Tahun 2017 tentang Tahapan, Program, dan Jadwal Penyelenggaraan Pilkada Tahun 2018, rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat kecamatan untuk kabupaten/kota dilaksanakan pada tanggal 28 Juni-4 Juli 2018.
Kemudian rekapitulasi dan penetapan hasil penghitungan suara tingkat kabupaten/kota untuk pilkada kabupaten/kota dilaksanakan pada 4-6 Juli 2018. Sementara rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat kabupaten/kota untuk Pilgub: 4-6 Juli 2018.
Selanjutnya rekapitulasi dan penetapan hasil penghitungan suara tingkat provinsi untuk Pilgub: 7-9 Juli 2018. Sengketa perselisihan hasil pemilihan mengikuti jadwal di Mahkamah Konstitusi. Penetapan pasangan calon terpilih pasca putusan MK paling lama 3 hari setelah putusan MK dibacakan. (*)
—-

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!