PKK Gowa Daur Ulang Kulit Jagung Jadi Busana – Radar Selatan

Radar Selatan

Gowa

PKK Gowa Daur Ulang Kulit Jagung Jadi Busana

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Gowa, Priska Paramitha Adnan.

GOWA, RADAR SELATAN.CO.ID –Tim Penggerak PKK kabupaten Gowa tidak henti-hentinya melakukan berbagai inovasi dan kreatifitas. Kali ini, PKK Gowa akan menampilkan busana yang terbuat dari kulit jagung pada event Beautiful Malino yang akan di gelar pada tanggal 14-15 Juli 2018.

Event yang bertaraf nasional ini, akan dijadikan PKK Gowa sebagai ajang untuk menggelar parade fashion show baju-baju hasil kreasi para anggota PKK yang terbuat dari bahan-bahan tak terpakai. Antara lain sampah plastik maupun bahan-bahan buangan lainnya seperti kulit jagung.

Ketua TP PKK Gowa, Priska Paramita Adnan saat dikonfirmasi, Senin (9/7) mengatakan, bahwa dalam program kegiatan karnaval budaya, TP PKK Gowa akan mengisi kesempatan itu dan pihaknya akan menggelar parade fashion show yang akan diperagakan langsung para ketua PKK kelurahan/desa.

“Iya, PKK akan melakukan parade fashion show daur ulang dan itu diperagakan langsung ibu-ibu desa. Kita juga ada lomba nyanyi kader PKK. Pokoknya nanti kita saksikan bersama aksi mereka yah,” kata Priska sembari mengatakan salut atas kreasi ibu PKK desa memanfaatkan kulit jagung.

“Saya sangat salut karena mereka telaten mengerjakan busana daur ulang ini dengan menempel satu persatu kulit jagung yang sudah dipoles. Pembuatan bajunya kurang lebih dua bulan,” tambah Priska.

Sementara disinggung soal Dekranasda, Priska yang juga adalah Ketua Dekranasda Gowa ini mengatakan khusus Dekranasda, akan turut meramaikan parade bunga dalam karnaval budaya.

Sementara itu, Amran Azis sebagai warga Tinggimoncong mengatakan dalam event kedua Beautiful Malino ini, warga di Malino bersatu akan memgangkat kelangkaan bunga Spathodea.

Bunga yang berasal dari Belanda dan dibawa masuk ke Gowa tepatnya di Malino tahun 1930 silam itu, kata Amran yang juga Koorwil Disdik Kecamatan Tinggimoncong ini harus dikembangkan selamanya.

“Kami di Malino mencoba mengangkat kelangkaan Spathodea ini lewat tarian kolosal saat Hardiknas lalu. Tarian ini terinspirasi dari pohon Spathodea yang menjadi ikon kota Malino. Spathodea ini indah dengan warna yang sangat mencolok (orange). Tarian ini syarat dengan pesan moral. Karena termasuk pohon langka maka Spathodea perlu dilestarikan dan dijaga. Masih ada segelintir orang yang tidak peduli bahkan menebangnya padahal Spathodea adalah bahagian dari urat nadi kehidupan kota dingin Malino. Perlu dilindungi kalau bisa harus dibudidayakan,” kata Amran yang juga selaku pengide dan naskah tarian kolosal Spathodea. (*) Hendra.

 

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!