Maut Mengintai Masyarakat Bontominasa – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

Maut Mengintai Masyarakat Bontominasa

Babinsa Desa Bontominasa, Serka Andi Thalib membantu menyeberangkan murid SD dengan meniti jembatan bambu, kemarin. Kondisi berbahaya ini sudah dihadapi warga sejak puluhan tahun. 
BULUKUMBA, RADAR SELATAN.CO.ID  — Maut mengintai masyarakat Dusun Tampalisu, Desa Bontominasa, Kecamatan Bulukumpa. Betapa tidak, setiap harinya warga di wilayah tersebut harus melalui jembatan darurat yang terbuat dari bambu dan kayu untuk menyeberangi sungai.
Bakri warga setempat menceritakan, kondisi tersebut sudah berlangsung puluhan tahun lamanya. Setiap harinya warga, baik dari Desa Bontominasa dan Desa Jojolo terpaksa harus melintasi jembatan yang terbuat dari bambu dan kayu itu.
Dia mengaku setiap hari warga dibayangi rasa cemas sewaktu-waktu jembatan ambruk. Apalagi jembatan sepanjang 25 meter tersebut tebentang di atas sungai dengan arus air yang cukup deras.
“Ini salah satu akses utama dua desa, hanya bisa dilalui pejalan kaki dan kalau anak sekolah dekat sekali kalau lewat di sini. Makanya kalau pagi, warga dibantu anggota Babinsa (TNI) membantu menyebrangkan anak-anak. Yah, pasti dihantui rasa cemas lah pak. Apalagi kalau musim hujan begini, kita harus ekstra hati-hati kalau menyeberang,” cerita Bakri, Senin 23 Juli 2018.
Babinsa Koramil 1411-02 Tanete, Serka Andi Thalib membenarkan hal tersebut. Kepada Radar Selatan, anggota TNI yang bertugas di Desa Bontominasa ini menceritakan, kondisi tersebut sudah berlangsung begitu lama.
Setiap harinya, kata dia, warga terpaksa harus melewati jembatan sebagai salah satu jalur utama untuk keluar dan masuk desa. Sayangnya, hingga saat ini jembatan permanen tak kunjung juga di buat.
Serka Andi Thalib mengaku untuk menghindari jatuhnya korban, baik masyarakat dan TNI-Polri mengontrol jembatan tersebut, khusunya saat digunakan anak-anak. Pasalnya arus deras air dan kondisi jembatan yang rapuh dikhawatirkan sewaktu-waktu ambruk dan membahayakan nyawa warga.
“Panjangnya sekitar 20 meter dengan ketinggian sekitar 3 meter. Kalau Air sungai dalamnya sampai dua meter Apalagi kalau musim hujan, kondisi jembatan akan berbahaya. Yah, kita berharap ada perhatian untuk warga di sini. Jadi anak-anak biasa kita semberangkan,” jelasnya.
Terpisah, Kepala Desa Bontominasa, Andi Sukmawati yang dihubungi RADAR SELATAN juga membenarkan kondisi tersebut. Diakui kondisi sudah berlangsung puluhan tahun lamanya. Meski ada akses lain, namun jembatan tersebut merupakan akses utama bagi kedua desa.
“Kita sudah sering masukkan di musrembang. Yah, kita berharap segera direalisasikan. Karena kalau memakai ADD kemampuan anggaran desa tidak bisa karena itu anggarannya miliaran. Jadi kalau rusak, yah warga gotong royong memperbaiki. Ada jalur lain tapi jauh memutar,” terangnya. (faj/man/b)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!