Menuju Parlemen, Saatnya Yang Muda Mengambil Peran – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

Menuju Parlemen, Saatnya Yang Muda Mengambil Peran

Fitria Hardiyanti Suwardi (21) Bacaleg NasDem, Andi Indra Hardianti (24) Bacaleg PKB, Yudhistira Syahrir(22) Bacaleg Perindo
SALAH satu bacaleg muda dari PKB, Andi Indra Hardianti, yang dihubungi RADAR SELATAN mengungkapkan, tak ada keraguan sedikit pun maju di Pileg 2019. Meski terbilang baru di dunia politik dan pertama kali mencaleg, dia yakin mampu meraup suara maksimal di daerah pemilihan Ujungloe, Ujungbulu dan Bontobahari.
Menurut Ketua Anak Muda Indonesia (AMI) Sulsel ini, sebagai caleg muda yang harus ada adalah optimisme dan siap mengikuti semua tahapan dalam proses politik.
“Ruang sosial itu sangat berkembang begitu cepat dan sangat dinamis. Dengan begitu saya meyakini bahwa persepsi masyarakat melihat caleg itu pun bergeser sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, sebenarnya msyarakat akan melihat dan memilih mereka (caleg) yang bertanggung jawab dan bisa mereka titipkan kepada caleg-caleg muda yang notabane lebih cepat memahami perkembangan dan kebutuhan masa kini,” ujarnya.
Meski diakui masih ada persepsi sebagian pihak yang masih meragukan kemampuan anak muda di pentas politik, karena dianggap hanya pelengkap. Wanita yang baru akan menginjak usia 25 tahun Agustus ini, membantah pendapat tersebut. Menurutnya kampuan dan manajemen seseorang berbeda khususnya dalam ruang politik yang begitu dinamis.
“Saya berpikir bahwa para senior jangan memandang sebelah mata para caleg muda, karena caleg muda itu memiliki ragam potensi yang dibutuhkan masyarakar kontemporer. Di Era kekinian anak muda bisa lebih menangkap tanda zaman dan kebutuhan masyarakat,” papar alumnus Ilmu Politik UIN Alauddin Makassar ini.
Caleg muda lainnya dari Partai NasDem, Fitria Hardiyanti Suwardi mengaku tak ada persiapan atau pun strategi khusus menghadapi pileg mendatang. Keputusannya maju di kontestasi politik juga sebagai ajang pembuktian, jika anak muda bukanlah pekerja politik atau sekedar pelengkap saja. Lebih dari itu ia hadir sebagai representasi pemuda dalam rangka mengawal dan perjuangkan aspirasi masyarakat khususnya bagi kaum pemuda.
“Semua mengalir sesuai niat yang telah ada. Kecuali mungkin yang baru punya niat mencaleg saat waktu pendaftaran sudah hampir tutup maka mesti memang menyiapkan strategi khusus. Itu pun kalau mereka serius bertarung,” ujar perempuan yang baru beranjak usia 21 tahun ini.
Lanjut Fitri sapaan akrabnya, tak setuju jika anak muda dipandang sebelah mata dan acap kali dijadikan sebagai pelengkap dalam komposisi bacaleg partai. Remaja yang maju di daerah pemilihan Ujungbulu, Ujungloe, dan Bontobahari ini percaya diri dalam bertarung dengan para bacaleg lainnya yang lebih senior.
“Tergantung bagaimana seseorang memposisikan diri. Karena nawaitu saya telah sejak lama jauh sebelum pendaftaran. Kalaupun masih dipandang sebelah mata, tidak ada masalah, karena masalah hanya akan datang jika mereka yang memandang saya sebelah mata itu tidak bisa menerima hasil pemilu nantinya,” tegas mahasiswa semester akhir Imu Politik UIN Alauddin Makassar ini.
Hal senada juga disampaikan, caleg termuda Perindo, Yudhistira Syahrir. Mahasiswa semester akhir Fakultas Hukum Jurusan Hukum Tata Negara UMI ini juga mengaku percaya diri maju di Pileg mendatang.
Maju di daerah pemilihan Ujungbulu, Ujungloe dan Bontobahari, yang disebut dapil neraka tak membuat dirinya gentar berkompetisi dengan sejumlah petahana.
“Dapil neraka yang dianggap para pemeran politik, bagi saya bukanlah hambatan untuk maju bertarung di dapil ini. Karena seseorang punya strategi memikat hati pemilih yang layak mewakilinya dari segi merakyat, berkualitas, dan saya sendiri salah satu dari menifestasi pemuda,” katanya.
Menurut pemuda berusia 22 tahun ini, dalam politik tak ada yang pasti namun bergerak fleksibel. Ia pun tak sama dengan rumus metematika. Seiring dengan semakin baiknya kualitas demokrasi dan tingkat pemahaman politik masyarakat diyakini dirinya mampu mendulang suara maksimal di Pileg 2019 mendatang.
“Peran wilayah kedudukan yang strategis juga menjadikan saya optimis untuk menang. Insyallah dengan niat yang tulus dari dalam hati paling dalam siap bertarung. Anak muda bukan pelengkap atau alat politik, kami (celeg muda) adalah kompetitor yang baik,” pungkas remaja yang akrab disapa Yudis ini. (fajar).

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!