Kasus Bialo, Penyidik Tunggu Pemeriksaan Ahli – Radar Selatan

Radar Selatan

Bulukumba

Kasus Bialo, Penyidik Tunggu Pemeriksaan Ahli

Ilustrasi int
BULUKUMBA, RADAR SELATAN.CO.ID — Penyelidikan kasus dugaan korupsi proyek Jembatan Bialo terus didalami Penyidik Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Bulukumba. Namun hingga kini penyidik belum menyimpulkan adanya unsur melawan hukum pada kasus tersebut.
Hal itu disampaikan, Kapolres Bulukumba, melalui Kanit Tipikor, Aipda Muh Ali. Menurutnya penyidik masih melakukan pemeriksaan mendalam dari berbagai pihak terkait termasuk yang paling penting adalah saksi ahli.
“Nanti setelah diperiksa sama ahli kontruksi jembatan baru kita bisa simpulkan apakah ada perbuatan melawan hukum atau tidak. Ini sementara kita akan koordinasikan di Politekhnik Unhas, kita cari ahli yang mana yang siap dan bisa cepat. Karena banyak permintaan ahli yang masuk juga untuk daerah lain,” jelasnya dihubungi Selasa, 4 September 2018.
Lebih lanjut Ali menjelaskan, pada kasus korupsi kesimpulan diambil setelah ada hasil pemeriksaan dari saksi ahli, termasuk ahli dari LKPP di bidang pengadaan barang dan Jasa.
“Karena kami akan melibatkan tiga ahli, yakni ahli fisik untuk konstruksi dan ahli pengadaan barang dan jasa untuk menilai mekanisme pelelangan. Termasuk ahli audit dari BPK atau BPKP untuk menghitung apakah ada kerugian negara atau tidak,” jelasnya.
Ditanya soal jumlah saksi yang telah diperiksa, Ali enggang membeberkan terlalu jauh. “Cukup gambaran umum saja dulu. Karena ini masih penyelidikan, masih banyak yang perlu dilengkapi dan tidak bisa dipublis secara detail,” terangnya.
Sebelumnya, Kabid Reservasi Jalan dan Pembangunan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bulukumba, Andi Hidayat mengaku telah meminta rekanan menghentikan sementara pekerjaan. Pihaknya menyerahkan penanganan kasus tersebut ke pihak yang berwajib.
“Kita tunda dulu pembangunannya. Makanya kami akan melakukan pengamanan aset dengan membangun talud pengaman abudment (talud pondasi sumuran) atau penahan ombak di sepanjang pantai Kelurahan Bentenge,” ujarnya.
Namun dari hasil pantauan bersama tim, kata Andi Hidayat, penahan ombak perlu dibangun agar tidak merusak hasil pengerjaan tahap pertama, yaitu abutment dan oprit. “Kita akan bangun penahan ombak dulu di sepanjang pantai Bentenge dengan anggaran Rp 4,8 miliar,” paparnya.
Saat ditanya mengenai panjang penahan ombak yang akan dibangun, Hidayat mengaku belum bisa menjelaskan karena saat ini baru tahap finalisasi perencanaan. “Penahan ombak ini untuk amankan aset kita. Jika sudah diyakinkan aman dari hantaman ombak, kita akan lanjutkan pada tahap kedua, yaitu pemasangan rangka baja jembatan,” jelasnya.
Selain pengamanan aset, Hidayat juga mengaku efisiensi anggaran dan asas manfaat juga salah satu alasan penundaan pembangunan tahap II jembatan Bialo. Dia menambahkan, tim audit juga telah mendapat temuan sebesar Rp 900 juta terdiri dari Rp 600 juta dana keterlambatan pengerjaan dan kekurangan volume Rp 300 juta. (faj/man/b)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!