Annyorong Lopi, Bukti Kehebatan dan Etos Kerja – Radar Selatan

Radar Selatan

Bantaeng

Annyorong Lopi, Bukti Kehebatan dan Etos Kerja

BULUKUMBA, RADAR SELATAN.CO.ID  — Salah satu bukti kehebatan Pinisi adalah prosesi Annyorong Lopi atau peluncuran perahu/kapal yang sarat dengan kearifan lokal. Kamis 13 September kemarin, untuk kali pertama sejak puluhan tahun, dilakukan anyyorong lopi dengan cara-cara tradisional di kawasan pembuatan perahu, Tana Beru, Kecamatan Bonto Bahari, Bulukumba.
Tidak menggunakan alat berat, tidak ada katrol, hanya mengandalkan tenaga manusia.
Selama hampir tiga jam, ratusan orang bersama-sama mendorong, menarik kapal berukuran 30 meter. Semua bahu-membahu, bergotong royong agar perahu bisa terdorong ke bibir pantai. Sebelumnya dilakukan ritual adat dan panrita memulai komando dengan membaca salawat nabi.
Prosesi Annyorong Lopi ini merupakan rangkaian  Festival Pinisi yang menjadi pusat perhatian para wisatawan mancanegara dan jurnalis dari berbagai daerah. Ritual peluncuran perahu dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Bulukumba, Tomy Satria Yulianto. Turut hadir Kadis Pariwisata Sulsel Yulianus, Sekda Bulukumba Andi Bau Amal, Kadis Pariwisata Bulukumba Ali Saleng dan perwakilan dari Kementerian Pariwisata RI.
Menurut Tomy, Annyorong Lopi adalah kearifan lokal milik masyarakat Bulukumba, Bontobahari yang harus dilestarikan. “Ini adalah bukti nyata tentang semangat kebersamaan, gotong royong dan etos kerja yang luar biasa dari masyarakat Bulukumba,” ujarnya.
Pinisi kata Tomy jangan hanya dilihat dalam bentuk konstruksi kapal. Tapi di dalamnya ada segala macam kebudayaan dan kearifan lokal yang menjadi pengetahuan masyarakat Bontobahari dan harus terus terjaga.
“Ini warisan dunia tak benda. Maksudnya adalah setiap pengetahuan yang ada di dalamnya harus kita jaga bersama-sama. Kita butuh dukungan semua pemangku kepentingan. Termasuk dukungan dari pusat untuk masyarakat lokal Bulukumba,” tegas Tomy. Annyorong Lopi diharapkan bisa menjadi strategi untuk memperkuat identitas ke-Bulukumba-an.
Sementara, Amran Jabal, tokoh pemuda dari Bonto Bahari mengatakan, anyyorong lopi adalah bagian akhir dari ritual pembuatan perahu/kapal. Malam sebelum anyyorong lopi, terlebih dulu dilakukan appasili atau songkabala.
“Baru kali ini kita kembali melakukan anyyorong lopi dengan cara-cara tradisional seperti yang dilakukan orangtua kita dulu. Semoga semangat ini terus terjaga,” kata Amran.
Sementara, Rany Sri Ayu, jurnalis dari Harian Kompas mengatakan baru pertama kali menyaksikan langsung prosesi Anyyorong Lopi. “Saya sengaja datang untuk melihat prosesi ini. Semoga tahun depan ritual anyyorong lopi bisa dilakukan secara bersama-sama oleh lebih banyak kapal atau perahu,” ujar Rany. (una)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!