Radar Selatan

Hiburan

50 Ekonom Sebut Pemerintah Gagal Melindungi Potensi Ekonomi Bangsa

JAKARTA, RADAR SELATAN.CO.ID — Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) menggelar acara symposium nasional yang menghadirkan 50 Ekonom lintas generasi.

 

Berkumpulnya para ekonom tersebut  untuk membahas persoalan perekonomian bangsa indonesia yang terjadi saat ini, acara tersebut sekaligus menjadi momentum  mengevaluasi kinerja pemerintah selama empat tahun Jokowi-Jk memimpin bangsa.

 

Acara yang di gelar  Sabtu, 20 Oktober 2018 di Jakarta menghadirkan praktisi ekonomi, akademisi, teknokrat ekonomi, mahasiswa.

“tapi kami menyayangkan ketidak hadirannya dari pihak pemerintah yang kami undang dalam hal ini kementrian keuangan dan kementrian koordinator bidang perekonomian, kami ingin membantu pemerintah untuk mencari solusi dari permasalahan yang tengah di hadapi pemerintah dalam bidang ekonomi karena permasalahan ekonomi harus kita pecahkan bersama-sama dan saling berbenah di semua sektor,”ungkap Hadi Rusmanto Ketua Bidang Ekonomi Pembangunan nasional PB HMI.

 

Menurutnya Selama empat tahun Jokowi-Jk memimpin  banyak catatan-catatan dan kritikan dalam kepemimpinannya, pertumbuhan ekonomi yang di klaim 5,27% tetapi daya beli masyarakat masih lemah.

 

“artinya antara pertumbuhan ekonomi yang di klaim dan daya beli tidak seimbang, karena tujuan ekonomi tumbuh untuk kesejahteraan rakyat, tetapi gimana rakyat mau sejahtera kalo daya beli masyarakat lemah. Apalagi rupiah tidak bisa membendung dolar terus meroket, rupiah tembus lebih Rp. 15.000/Dolar, hal ini semakin mendorong naiknya harga barang khususnya produk yang menggunakan bahan baku di peroleh dari impor, bahan baku impor itu semua di beli menggunakan dolar, jadi semua itu otomatis ke biaya produksi naik semua tentu akan tambah menekan daya beli masyarakat,”paparnya. angkap Hadi Rusmanto.

 

Menurut Sekjend DPP PAN, Eddy Soeparno,  pemerintah perlu memperbaiki masalah struktural kebijakan pemerintah, kenaikan dolar diakui sebagian dipengaruhi factor dari luar, tapi menjadj catatan ada faktor internal yang mempengaruhi, ada masalah dalam struktur Export-impor kita.

 

“Ekspor kita masih buruk, lambatnya perkembangan penetrasi pasar ekspor ke Negara-negara luar, Indonesia memiliki sedikit perjanjian perdagangan internasional yang dapat membuka akses pasar, ini menjadi PR buat pemerintah. Pemerintah harus segera mengatasi struktur ekspor–impor kita, agar kita bisa melindungi potensi ekonomi bangsa kita, dan meningkatkan daya beli masyarakat. Karena Kemajuan suatu Negara di ukur dari kemajuan ekonomi di Negara tersebut, pemerintah harus mempunyai skala prioritas dalam menangani perekonomian bangsa ini,’ Pangkas Edy Soeparno.

 

Forum Masyarakat Ekonomi Syariah, Mega Oktaviani,menjelaskan  Indonesia merupakan Negara muslim yang besar dimana pemerintah dapat menjadikan peluang untuk meningkatkan ekonomi bangsa, karena hari ini yang berkembang di Indonesia masih industri syariah yang hanya masih focus di sector keuangan saja, pemerintah harus memperkuat sktor ril, sector barang dan jasa berbasis syariah untuk menunjang ekonomi syariah di Indonesia agar daya beli meningkat.

Indonesia saat ini hanya masih menjadi konsumen saja, padahal pengeluaran muslim di dunia mencapai 12% dan ini di prediksi akan terus meningkat, harusnya pengelolaan ekonomi syariah di lakukan secara terpadu agar hasil yang optimal, menangkap peluang dengan 85% penduduk Indonesia muslim,”tutup Mega.

Berita Populer

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!