Radar Selatan

Hot News

Buronan Korupsi TIK Tak Kunjung Ditangkap

AKP Bery Juana Putra

BULUKUMBA, RADARSELATAN.CO.ID — Bak ditelan bumi, keberadaan H. Arifuddin tersangka kasus korupsi Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) di Dinas Pendidikan Bulukumba, hingga kini belum ditemukan. Perburuan pihak kepolisian hingga saat ini tak juga membuahkan hasil.

Padahal, informasi yang dihimpun RADAR SELATAN, H. Arifuddin yang juga Direktur CV Sumber Harapan itu merupakan warga asli Bulukumba yang bertempat tinggal di Kelurahan Sapolohe, Kecamatan Bonto Bahari, tepatnya di Lingkungan Pasaraya Lama.

Informasi lain menyebutkan, jika saat ini di rumahnya masih ditempati sang istri, yakni Hj. Sri Rahayu. Bahkan tiga saudara H. Arifuddin berdomisili di Kecamatan Bonto Bahari.
Menurut Ketua Forum Masyarakat Sipil, Fahrul, pada dasarnya jika polisi benar serius mencari tersangka, tidak akan sulit apalagi tersangka merupakan asli Bulukumba.

Banyaknya ikatan kekeluargaan tersangka yang tinggal di Bonto Bahari bisa menjadi informasi untuk menemukan H. Arifuddin.
“Kan ada saudaranya tinggal di Bontobahari, istrinya juga saya dengar adaji di rumahnya. Kalau dicari pasti ketemu.
Masa sudah beberapa tahun ini, polisi belum menemukan,” katanya.

Bahkan dalam kasus ini sejumlah kapolres maupun kasat reskrim telah berganti beberapa kali, namun belum juga membuahkan hasil.
Kasat Reskrim Polres Bulukumba, AKP Bery Juana Putra berjanji di bawah pimpinannya akan berusaha menangkap tersangka. Lanjut dia, pada dasarnya seluruh berkas perkara telah selesai.

“Kita terus berupaya, ini janji kami. Koordinasi lintas satuan akan kita libatkan untuk mencari DPO,” katanya.
Sekedar diketahui, kasus TIK merupakan proyek di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dispora) di 85 sekolah dasar (SD) dan Sekolah Luar Biasa (SLB) se Bulukumba tahun anggaran 2013 sebesar Rp 2,14 miliar.
Dalam kasus ini polisi telah menetapkan dua orang tersangka masing-masing, PPK Muh. Ajis, Rekanan H. Arifuddin dan dua calon tersangka lainnya masing-masing Direktur PDAM Syamsuri dan Husair Suwanto yang dinilai sebagai broker. Kasus ini mengakibatkan negara mengalami kerugian sebesar Rp752 juta. (*)

 

REPORTER: RAKHMAT FAJAR
EDITOR: HASWANDI ASHARI

Berita Populer

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!